
Hello! Im an artic!
Di dalam kamar pasien, raut wajah Lika hua sangat pucat, sedang di infus obat anti peradangan, orangnya tertidur.
“Bagaimana keadaan kakak keempat?”
Hello! Im an artic!
“Dia baru saja tertidur, kemungkinan karena semalam demamnya tinggi, tidak bisa tidur dengan baik.”
“Bukankah katanya peradangan sudah hilang, kenapa bisa demam lagi?” Lina curiga.
“Tidak jelas, tapi pagi tadi ada melakukan CT Scan, dokter bilang jika kamu sudah datang menyuruhmu ke kantornya.”
“Eng.” Lina menganggukkan kepala, menaruh tas di kamar pasien, langsung pergi ke kantor kepala bedah toraks.
Hello! Im an artic!
Rumah sakit yang di tempati Lika termasuk tiga besar dalam kota ini, tapi bukan yang paling bagus.
Saat itu karena di sini dekat baru di antar ke rumah sakit ini, tidak menyangka akan ada masalah dalam tindak lanjutnya.
Dalam kantor kepala bedah
“Kamu adik Lika?”
“Iya.”
__ADS_1
“Orang tuamu dimana?”
“Mereka sedang pergi, tidak ada di rumah.”
“Aku menyarankanmu segera menelpon mereka dan menyuruh mereka kemari, ada beberapa kata yang harus aku katakan dengan mereka, karena aku takut kamu tidak bisa mengambil keputusan.”
Lina terdiam tiga detik, “Dokter, kamu katakan dulu padaku, orang tuaku ada di luar negeri, walaupun pulang juga membutuhkan waktu, aku dengar dulu, kemudian menyampaikannya pada orang tuaku.”
Begitu mendengarnya dokter, menganggukkan kepala, mengeluarkan hasil CT Scan Lika.
Menjelaskannya pada Lina berkata, “Kamu lihat, ini adalah ct scan yang kakakmu ambil tadi pagi, kamu lihat bagian ini.”
Lina sudah melihat, bagian yang di tunjukkan dokter, ada sebuah titik hitam yang sangat kecil, tapi tidak terlalu jelas.
“Saat pertama kali melakukan pemeriksaan tidak ada, semalam dia mulai demam lagi, dan minum obat penurun panas juga tidak ada hasil lagi, saat pagi kami melakukan pemeriksaan lagi padanya, menemukan bertambah satu benda ini.”
“Bagaimana mengatakannya ya? Aku juga tidak bisa membuat kesimpulan, ada kemungkinan ini peradangan, lihat hari ini setelah di infus obat anti peradangan apakah bisa menghilang, juga kemungkinan adalah…tumor.”
Mendengar kata tumor, Lina hanya merasa di dalam otaknya berdengung.
“Tentu saja aku tidak bisa memastikannya, jadi harus melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut lagi, aku menyarankan melakukan Biopsi, melakukan pemotongan biologis dan diteliti menggunakan mikroskop, dengan begini baru ada hasil yang jelas. Tapi aku sebagai dokter, juga seharusnya memberitahumu keadaan yang paling buruk, kakakmu, juga sangat ada kemungkinan tumor.”
Lina menghela nafas dingin, sudah tidak tahu harus mengatakan apalagi.
“Kamu juga jangan panik, aku hanya bilang ada kemungkinan, karena sekarang titik hitam itu apa masih belum dipastikan, jadi kami baru bilang menyuruh orang tuamu datang, merundingkannya, lihat apakah bisa melakukan Biopsi?”
“Lakukan, berapapun harganya kami lakukan.”
__ADS_1
“Tapi ada satu hal yang kamu harus ada persiapan, biopsi ada juga ada resikonya, juga kemungkinan setelah Biopsi, tumor akan menyebar dengan cepat….tapi jika tidak di lakukan, kita selamanya tidak akan tahu sebenarnya apa titik hitam itu? Ini harus keputusan dari keluarga sendiri, semua akibat, juga harus ditanggung oleh keluarga sendiri.”
“Kapan paling cepat bisa melakukannya?” Lina bertanya pada dokter.
“24 jam kemudian.”
“Baik, aku pertimbangkan dulu, dalam waktu 24 jam akan memberimu jawaban.”
Setelah Lina meninggalkan kantor, hanya merasa kepalanya berat dan kakinya ringan.
Kakak keempat baru umur berapa, baru 26, juga usia yang masih belia, bagaimana bisa mendapatkan kanker paru-paru? Ini juga terlalu tiba-tiba.
Tentu saja meski sekarang hasilnya masih belum keluar, tapi dia mempunyai firasat buruk, tadi melihat respon dokter, juga merasakan kemungkinan kanker paru-paru sangatlah besar.
Hidup tidaklah abadi, masalah di dunia susah diprediksi, saat ini, Lina benar-benar tidak berdaya dan mendesah.
Dia bahkan berpikir untuk membantu kakak keempatnya meramal, lihat apakah kehidupannya benar akan berhenti sampai di sini saja?
Tapi dia juga tidak berani meramalkannya, takut jika melihat hasilnya, hati akan menjadi sangat dingin.
Walau perasaan tidak terlalu dalam, juga tidak sanggup melihat saudara kandung meninggal, apalagi meninggal di hadapanmu.
Lina mengambil ponsel, awalnya ingin menelpon orang tuanya, tapi tidak tahu kenapa malah telpon ke John.
“Lina.” Dari sebelah sana terdengar suara John yang lembut, Lina baru sadar, dirinya salah menelpon.
“Lina. Bicara, kenapa?”
__ADS_1