Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 119 Hadiah Dari Suami


__ADS_3

Setelah selesai melihatnya Freddie bertanya pada teman di sampingnya yang bernama Jaycob Du, “Lexie suasana hatinya tidak bagus, sedang menangis, apakah kamu mau pergi menghiburnya?”


“Ehhh… Bolehkah aku pergi?


“Ada di paviliun, kamu boleh pergi mencobanya.”


“Baik….lah…..aku pergi mencobanya.”


Teman itu setelah mendapat petunjuk dari Freddie, diam-diam berdiri meninggalkan restoran.


Lexie ingin memanfaatkan kesempatan ini, ada perkembangan lebih lanjut dengan Freddie, sayang sekali….hanyalah cinta sepihak.


Freddie terus menunggu sampai pesta malam bubar, saat Lina berjalan keluar.


Dia cepat berjalan ke depan, ” Kamu sudah membuat Lexie tersinggung, nantinya di kampus kamu akan banyak kesulitan.”


Lina membalikkan kepala, menyadari adalah dia, tersenyum-senyum.


“Benarkah? Aku tidak terlalu peduli dengan semua ini.”


“Ayah dari Lexie adalah wakil kepala kampus.”


“Oh, tidak masalah.”


Sebenarnya dalam mata Lina, jangankan wakil kepala kampus, bahkan wakil gubernur pun, dia juga tidak peduli.


Memang dirinya juga tidak ada niat untuk melukai orang, Lexie yang berinisiatif mengganggunya dulu.


Dia juga cuma memberi serang balik saja…juga tidak merasa dirinya melakukan kesalahan apa.


Lagipula Lina sifatnya, orang tidak menggangguku aku tidak akan mengganggumu, jika kamu sampai menggangguku, maka aku pasti akan membalasmu keras-keras.


Melihat reaksi Lina sangat tenang, Freddie lebih berminat lagi.

__ADS_1


“Sebenarnya sangat penasaran, kenapa kamu pergi ke departemen sejarah?”


“Suka.”


“Kamu pertengahan pindah ke sini pasti butuh banyak usaha, tidak mudah untuk bisa masuk Universitas Nasional .”


“Masih lumayan.”


Freddie merasa, tidak peduli apa yang dia katakan, gadis ini hanya menjawabnya sepatah dua patah kata.


Sekali lihat sikapnya sangat dingin, jujur saja, seumur hidup ini dia sudah takut dijerat oleh wanita.


Belum pernah ada satu gadis pun yang mengabaikannya……


Jadi di dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa, pertama kali merasakan keberadaan dirinya tidak berarti.


“Di kampus aku masih termasuk punya koneksi, nantinya….jika Lexie mencari masalah denganmu, kamu bisa mencariku.”


Saat Lina selesai mengatakan kata ini, kebetulan juga sudah sampai depan pintu.


Dia membalikkan badan meliriknya, “Terima kasih sudah memberitahuku semua ini, sampai jumpa.”


“Eng.”


Lalu, Freddie hanya melihat Lina pergi begitu saja, pertama kali tahu apa rasanya kegagalan.


Ini memang seorang peri, walau kamu berkata apapun, dia sama sekali tidak peduli.


Di wajah bahkan tidak ada rasa senang marah kesal bahagia.


Berpikir kembali tadi saat di atas panggung, tidak peduli saat di provokasi oleh Lexie, atau saat membalas serangan Lexie dengan gaya keren memainkan lagu Liszt (Feux Follets).


Tidak ada raut kemenangan di wajahnya, juga tidak pamer dan senang atas penderitaan orang.

__ADS_1


Gadis seperti ini, apakah benar cuma 22tahun? Freddie ingin….


Saat sampai di rumah, begitu masuk rumah sudah melihat di ruang tamu sebuket besar babysbreath, ditengahnya ada daisy kecil berwarna putih kuning dan ungu.


Dibungkus dengan indah terlihat cantik, sekali lihat sudah tahu tidak seperti gaya Rika dan Ella.


“Kamu sudah pulang?”


Saat ini John sudah mengganti baju santai rumah berwarna biru safir.


Setelah dia melepas setelan jas, saat memakai baju santai rumah, perasaan yang diberikan pada orang sangat nyaman.


Suasana hati yang bahagia dan nyaman…..


Setidaknya dari sudut pandang Lina, John orang yang mudah di ajak berhubungan, setidaknya begitu padanya.


“Eng.” Lina menganggukkan kepala.


“Untukmu, suka tidak?”


Menunjuk sebuket besar bunga segar.


Lina menganggukkan kepala.


Daisy adalah bunga kesukaannya, dalam bahasa bunga artinya naif, rukun, harapan, murni, dan cinta yang tersembunyi di dalam hati.


Lina tidak tahu John memilih ini, apakah ada niatnya, atau tidak sengaja.


Atau mungkin mendengarnya dari Rika dan Ella apa yang disukainya baru beli.


“Nyonya Jiang, pertunjukkanmu hari ini sangat sempurna, aku merasa bangga padamu.”


John selangkah demi selangkah berjalam ke hadapan Lina, pandangan tertuju padanya, penuh kelembutan.

__ADS_1


__ADS_2