Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 379 Aku Ingin Hidup


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Windi mengatakan itu, Lina ketakutan setengah mati, dan dia benar-benar takut John berbuat yang tidak-tidak.


Lina bergegas pergi ke ruang cctv, dan memperhatikan, dia melihat keberadaan John.


Hello! Im an artic!


Dalam video pengawasan, John mengemudikan Rolls-Royce pergi, Lina cemas, dan melihat ke belakang ke arah Windi, “Bisakah Kamu menemukan cara untuk melacak keberadaannya? Kita harus mengikutinya, bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang bodoh?”


“Aku punya cara untuk mengikutinya.”


Windi kemudian menggunakan jurus rahasia keluarga Feng, memegang sehelai pakaian John, dan meletakkannya di depan Pa Kua (Cermin Delapan Trigram).


Kemudian Pa Kua memberi arah yang akurat, arah menunjuk ke ujung utara …


Hello! Im an artic!


“Itu … Itu Kuil Jing’an, ya. Tuhan, dia benar-benar percaya kata-kata gila guruku?” Windi tiba-tiba sadar.


“Kata-kata gila apa?” Lina tampaknya tidak memperhatikan apa yang dikatakan pendeta terakhir ketika dia pergi.


Tetapi John mendengarkan. Windi tidak berdaya, dan dia menghela nafas. “Guruku juga tidak masuk akal. Aku tidak berpikir itu dapat dipercaya. Mungkin karena tidak ingin John berputus asa. Guruku mengatakan ada Kuil Jing’an di utara. Biarkan John membakar dupa dengan tulus dan lihat apakah dia dapat menyentuh hati Buddha dan menyelamatkanmu. ”

__ADS_1


“Lina sangat bingung …” Dia merasa tertekan.


“Jadi apa yang kita lakukan sekarang? Apakah kita akan menemukannya?” Windi tidak tahu.


“Ya. Aku tahu, dia sangat menderita sebab tidak tidur tujuh hari tujuh malam, dan kondisi mentalnya sangat buruk. Aku khawatir dia mengalami kecelakaan, kita akan mengikutinya.”


Lina gelisah, jadi Windi mengantarnya untuk menemukan John, dan hanya Edo yang menjaga tubuhnya di rumah.


Rika dan Ella masih belum kembali dari Gunung Congcui, dan teman-teman lain tidak dapat menghubungi John.


Gerbang vila Spring Mansion dikunci, Andy dan Sony datang beberapa kali, tetapi kembali tanpa hasil.


Lili dan Lika juga tidak tahu apa yang terjadi, dan Eric tidak bisa tidur selama beberapa malam berturut-turut, sebab cemas.


John pergi ke Kuil Jing’an, dan itu adalah harapan terakhirnya. Dia mengerti bahwa mungkin orang tua gila itu berbicara sembarangan.


Maka begitu dia memasuki gerbang Kuil Jing’an, John mulai berlutut dan mulai berjalan selangkah demi selangkah, sambil kemudian menyilangkan tangannya untuk membuat permohonan, berharap Buddha akan membantu Lina bangun.


Kuil Jing’an berada di tengah-tengah gunung, jadi dari gerbang ke kuil, total 1360 anak tangga yang harus dilalui, anak tangga ini pun sangat curam sehingga berjalan biasa saja sudah sangat lelah.


Apa lagi harus berjalan selangkah demi selangkah berlutut sambil memohon, itu seperti……


Batu-batu di jalan itu itu menghantam lutut John hingga kebiruan, dua kakinya sangat lelah dan sakit, tetapi dia masih terus melangkah.

__ADS_1


Pada saat Lina menyusulnya, dia telah berjalan lebih dari 800 langkah.


Melihat John berlutut langkah demi langkah, Lina hanya merasa jantungnya berhenti berdetak, dan nafas nya terasa sakit.


Windi juga terkejut, “Guruku benar-benar ingin membunuh orang, berjalan sambil berlutut seperti ini akan membunuhnya, aku akan menghentikannya.”


Windi segera naik, untuk menghentikan langkah John.


“John, cepat bangun, Guruku sudah gila. Mengapa kamu percaya, meminta pada Buddha tidak akan berguna, Buddha tidak akan mendengar doa orang biasa, mengapa kamu mencari masalah?”


John menundukkan kepalanya, napasnya lemah, “Aku ingin mencoba, dan hanya ingin mencoba.”


“Dasar dungu, cepat berdiri, jika kau lakukan terus seperti ini, tidak mau punya kaki lagi?” Windi marah dan mengulurkan tangan untuk menarik John, tetapi dia masih tidak mempedulikan nya.


“Tinggal lima ratus langkah lagi, aku akan tetap jalani.”


Windi: …


Windi belum pernah melihat orang yang nekad seperti itu. Orang-orang seperti John memang bodoh, dan mengerikan.


Tapi dia juga tahu bahwa itu semua berasal dari cintanya kepada istrinya. Dia bersedia menjadi bodoh untuk Lina …


Arwah Lina tidak lagi bersedih di belakang John, dia dulu berpikir bahwa dia rajin beribadah dalam kehidupan ini, selalu berbuat baik dan berbakti pada orang tua dan keluarganya. Tapi saat ini, dia berhutang budi dan kasih sayang pada John … Apakah ini takdir?

__ADS_1


Lina diam-diam memperhatikan John berlutut, dan Windi menatap balik ke Lina.


Dia berkata, “Aku ingin hidup, aku ingin hidup, aku tidak ingin dia kecewa.”


__ADS_2