
Hello! Im an artic!
John spontan membela istrinya, langsung menggandeng tangan Lina.
“Rony, jangan sembarangan. Iparmu gampang merasa malu.”
Hello! Im an artic!
“Ah, kalian sudah lama menikah, kenapa merasa malu. Lihat aku, kak. Betapa tebal dandananku…… seenaknya makan dan minum…… Eh? Siapa yang memasak bubur lobster ini? Kelihatannya enak?” Rony berdiri lalu mengambil semangkuk untuk dirinya sendiri.
“Itu masakan Ella. Masakan buatannya memang enak.” puji Huasheng.
“Ella? Nama ini……” Rony tak bisa menahan rasa tak enak di perutnya.
Ella melirik ke arah Rony, “Bagaimana?”
Hello! Im an artic!
“Orang yang memberimu nama ini, dia juga tak berpendidikan ya? Bukan aku bilang…… aduh aku ingin muntah.”
“Kalau begitu kau diam saja.”
Pertama kali bertemu, Rony bisa sampai kepikiran kalau Lina adalah pembantu. Sebentar lagi pasti ia mati gaya.
__ADS_1
Candaan ini membuat semua orang tertawa. Lili dengan tiba-tiba menyela, “Nama Ella dan Rika sebenarnya dibuat oleh nenekku. Kamu tahu kan orang-orang di jaman nenekku.”
Saat Lili bicara, Sony pura-pura melirik tak peduli, sesaat setelah melirik, ia langsung membalikkan matanya.
John melihatnya dengan jelas, dalam hati ia bergumam, aku akan membiarkanmu berpura-pura.
Lika juga tersenyum, “Benar sekali, tanteku juga diberi nama seperti itu, yang satu Dewi, satunya lagi bernama Wulan.”
Rony: ……
“Baiklah, nenekmu menang.” Rony benar-benar tak bisa menahan rasa jijiknya, memberinya nama seorang pembantu, sebenarnya semuanya sama saja.
“Rony memang suka bercanda. Jangan dimasukkan ke hati.”
John takut perkataan Rony membuat Lina merasa tak nyaman, makanya ia langsung meluruskannya.
Saat ini, John, Sony dan Andy, bos-bos besar perusahaan, sedang membicarakan tentang saham dan keuangan.
Rony tetap saja bicara, ia terus mengobrol dengan Rika dan Ella tanpa henti.
Lina mengajak mereka berdua berbicara tentang kehidupan sehari-hari setelah menikah, takut Lika dan Benardi merasa tersinggung.
Awalnya, Lili terus menunduk dan menggunakan ponselnya untuk berbicara pada grupnya tentang pekerjaan. Lalu ia merasa lapar dan makan seafood.
__ADS_1
Saat itu, dia melihat mata Sony beberapa kali, tapi dia takut orang lain menyadarinya, jadi dia sengaja pura-pura tidak kenal dengannya.
John tak bisa menahan rasa penasarannya, “Sony, bukankah kamu pernah merayakan festival bersama Lili? Ayo, angkat gelasmu, katakan sesuatu pada gadis ini. Tak usah malu-malu.”
Sony melihat Lili yang sedang mengigit bibirnya, dan menunduk mengecek ponselnya.
Sony berdiri, lalu menuang segelas penuh anggur merah.
“Orang terkenal, ayo sini…… Biarkan rasa sedih berlalu, kita tatap hari depan yang cerah.”
Perkataan ini sangat konotatif. Mendengarnya, Lili merasa perkataan itu amat vulgar, ia takut orang-orang mengetahuinya.
Kenyataannya, ia terlalu banyak berpikir, tak ada yang memperhatikannya, selain John, Lina dan Andy sedikit mengangkat alisnya.
“Ayo minum, siapa takut?”
Sony mengajak semuanya bersulang, Lili sedikit meronta lalu meminumnya.
Andy lebih parah dari John, ia langsung bertanya pada Lili, “Bagaimana perkembanganmu dengan Eric?”
Pertanyaan pada Lili ini membut Sony merasa tidak senang, ia diam-diam meminum cuka.
“Eh…… Aku dan Eric tak ada hubungan apa-apa.” Lili menjelaskan dengan segera.
__ADS_1
Andy melebih-lebihkan, “Tak mungkin. Belakangan ini aku melihat artikel tentang hubunganmu dengan Eric. Aku dengar setelah kau menjadi perwakilan Erik Farmasi, kinerja mereka naik beberapa kali lipat. Beberapa hari lalu, Eric juga membuat perayaan. Masih ada berita juga, dia memberimu Lamborghini berwarna merah muda. Benarkah?”
“Uhuk, uhuk…… Siapa yang membuat berita itu, aku akan membunuhnya.” Lili salah kaprah. Dia mengatakannya, sambil diam-diam melirik Sony, hanya untuk melihat ekspresinya.