
Hello! Im an artic!
Rony Gao: Aku bawa kamu pergi berlibur, musim ini Swiss sangat indah, bunga segar bermekaran di gunung Alpen, aku bawa kamu pergi melihat pemandangan indah.
Hati Ella sedikit tergerak, selain kadang-kadang pergi ke daerah selatan bersama nona, dia masih belum pernah keluar negeri, tapi……
Hello! Im an artic!
Ella: Tidak pergi tidak pergi, malas bergerak.
Setelah menolak Rony Gao, Ella masih berkata pada Rika dengan sedikit puas, “Ibu Rony Gao kembali memberikan sebuah kartu dengan nominal jutaan, sungguh sangat kaya, dia ingin membawaku pergi ke Swiss dan meminta agar aku izin pada nona.”
Begitu Rika mendengar, hatinya langsung tidak enak, mengambil telepon mengirim pesan pada Jeskry Wu.
Rika: Aku ingin pergi berlibur, kamu bawa aku keluar negeri saja, aku masih belum pernah melihat-lihat luar negeri.
Hello! Im an artic!
Jeskry Wudisana masih tidak merespon setelah lewat lima menit.
Rika sangat tidak puas, dan terus mengirimkan beberapa tanda tanya dan ekspresi marah.
Dua menit kemudian, Jeskry Wubaru membalas, tapi hanya satu kata—Sibuk.
__ADS_1
Melihat kata ini, hati Rika mendingin, awalnya mengira sudah menyerahkan dirinya pada dia, seharusnya dia bersikap tulus padanya, sayang seperti tuan terhadap nona. Kalau tidak bisa, seperti tuan muda Wang terhadap nona ketiga juga boleh, atau paling tidak juga mau seperti suami nona keempat yang melindungi nona keempat, kenapa bisa selalu tidak berniat begini.
“Rika, kamu juga katakanlah pada pacarmu, akan sangat asyik kalau kita pergi berlibur bersama.” Sebenarnya Ella sungguh berkata dari dalam hati dan tidak pamer.
Tapi suasana hati Rika tidak baik dan mengartikan lain, berkata dingin, “Orang miskin seperti kami tidak bisa dibandingkan dengan tuan mudamu itu, Rony Gao ada orangtua yang baik, pacarku tidak memilikinya, kalian pergilah, kami masih harus mencari uang.”
Wajah Rika tidak senang setelah selesai bicara, Ella merasa aneh, dia merasa belakangan emosi Rika sepertinya sangat besar dan merasa tidak begitu ingin bicara dengannya setelah dia berpacaran.
Tapi maksud Ella sederhana, berpikir juga mungkin dirinya berpikir terlalu banyak, maka juga tidak memasukkannya kedalam hati dan juga tidak mengatakannya pada Lina Hua.
Didalam rumah sakit.
Lika Hua duduk diatas ranjang pasien, ekspresi wajahnya tidak terlalu bagus dan ada sedikit kuning.
Benard Bai mengambil nampan dan menyuapi buah jeruk yang sudah dipotong kepadanya.
“Bukankah katanya anak laki-laki mirip sedikit dengan ibu, anak perempuan mirip sedikit dengan ayah?” Benard Bai tertawa.
“Benar, aku berharap dia anak perempuan, akan bagus kalau mirip denganku, tidak baik kalau mirip denganku.”
“Kata siapa, kamu cantik.”
“Tidak, aku yang paling jelek dalam keluargaku.”
__ADS_1
“Bukan, jelas-jelas yang paling jelek dalam keluargamu adalah kakak keduamu.”
Ucapan Benard Bai ini membuat Lika Hua tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha, kamu sangat nakal, rupanya bisa menekan orang……”
Sedang tertawa senang, tiba-tiba……Lika Hua merasa dadanya sangat sakit, tidak bisa menahan dan menyemburkan darah keluar.
Mengenai selimut dan juga membasahi mangkuk diatas tangan Benard Bai.
“Lika.” Dia langsung berdiri dengan panik.
Lika Hua sudah lemas sekali setelah memuntahkan darah, dia bertahan dan mengeluarkan tangan dengan gemetar…….Menangkap tangan Benard Bai.
Benard Bai segera mengulurkan kesana, kedua orang menggengam erat.
“Jangan menangis, berjanji padaku……Jangan……”
Akhirnya pandangan didepan Lika Hua menghitam dan langsung pingsan sebelum mengucapkan kata yang paling akhir.
“Dokter dokter, dokter cepat datang, cepat kemarilah.” Mata Benard Bai merah sampai membuat orang terkejut, terus berusaha berteriak memanggil dokter.
20 menit kemudian, didepan pintu UGD.
Kepala dokter berjalan keluar, menurunkan masker, “Tuan Bai, harus memberitahukan sebuah hal yang kejam padamu, istri anda……Reaksi kehamilan menyebabkan penyakit berubah menjadi tumor ganas, menyebabkan gejala yang serius, saat aku memeriksanya, baru sadar kalau daya tahan tubuhnya tidak ada.”
__ADS_1
“Apa maksudnya, sebenarnya apa maksud ucapan dokter ini? Ah? Kamu katakanlah, kamu katakan……” Suasana hati Benard Bai jadi panik.
Sepasang tangan menarik kerah dokter dengan erat, pertama kali kehilangan kontrol begini.