
Hello! Im an artic!
Bagaimana ini? Peter menyukai Queenie dan ingin memelihara istri keduanya ini. Tapi tak ada rencana untuk membuatnya hamil.
Pertama karena anak-anak perempuannya sudah bertumbuh dewasa dan dia tak punya kedudukan di perusahaan itu.
Hello! Im an artic!
Kedua, karena anak yang akan dilahirkan ini tidak jelas asal usulnya. Kalau ketahuan, keluarga Hua pasti tidak akan tinggal diam. Sejak saat itu, hidupnya pasti tidak akan tenang.
Queenie: Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang?
Peter: Queenie, aku sudah berumur lebih dari 50 tahun. Kalau aku punya seorang anak lagi, pasti aku akan ditertawai orang.
__ADS_1
Queenie: Kau sudah berumur lebih dari 50 tahun, sedangkan aku baru 30 tahun. Aku tak mungkin hidup tanpa seorang anak. Kau urus dirimu sendiri. Lagipula, siapa yang akan mengetahuinya? Haruskah aku menyembunyikannya? Apa kamu takut anakmu akan mengambil sebagian hartamu?
Hello! Im an artic!
Mendengar kalau Queenie marah, Peter membujuknya, “Apa katamu? Bukan masalah itu. Merawat seorang anak tidak akan menghabiskan banyak uang. Kalaupun kamu tidak punya anak, aku juga akan memperlakukanmu dengan baik, ya kan? Aku hanya berpikir kalau anak ini datang di saat yang tidak tepat.”
Queenie: Kalau itu pikiranmu, lebih baik aku gugurkan saja. Tapi sayang, kamu tidak ingin kan dilihat sebagai keluarga paling berkuasa di kota J, tapi tak mempunyai satupun anak laki-laki yang bisa diwariskan? Keponakanmu juga terhitung sebagai orang luar. Kamu yakin bisa menerimanya? Coba kau pikir, jika kamu mati nanti, bagaimana kamu bisa mempertanggungjawabkannya pada para leluhur keluarga Hua?”
Queenie benar-benar pintar bicara. Hanya satu perkataan saja, cukup untuk membuatnya menyesal karena tak punya anak laki-laki.
Melihat Peter terdiam, Queenie mengambil kesempatan, “Kalau tidak begini saja, sayangku. Kita biarkan anak ini dulu. Kita tunggu empat bulan untuk mengetahui jenis kelaminnya. Kalau laki-laki, biarkan ia hidup. Kalau perempuan, aku akan menggugurkannya. OK? Aku yakin Ia laki-laki, seorang anak yang sudah kamu inginkan selama bertahun-tahun.”
Peter: “Tapi…… akan amat menyakitkan juga kamu menggugurkannya di bulan keempat. Aku khawatir pada kesehatanmu.”
__ADS_1
Queenie senang mendengar perkataannya, “Tak apa sayangku. Apapun akan kulakukan untukmu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin melahirkan seorang anak untukmu, yang kelak akan menjadi anak kita. Kamu tenang saja, aku tak akan membiarkannya bertengkar dengan kakak perempuannya.”
Peter: “Hm, masih terlalu awal untuk dibicarakan. Besok aku akan datang besok dan mendiskusikannya denganmu. Istirahatlah lebih awal.”
Peter merasa sedikit bingung. Rencana awalnya ia akan pindah bersama istrinya ke Australia untuk tinggal di rumah mewah miliknya, yang sudah lama disiapkan untuk melewatkan masa tuanya. Pemandangan di luar negeri memang amat indah.
Dalam hatinya ia mengerti, Linda dan Lisa tak bisa diharapkan, Lika dan Lina juga tak punya perasaan sayang padanya.
Sekarang Queenie sedang hamil. Ia tiba-tiba punya rencana lain, ia tak ingin pergi ke luar negeri. Ia pikir kalau Queenie benar-benar hamil seorang anak laki-laki, itu juga amat menyenangkan. Saat itu, ia akan mencari cara untuk mengatur bisnis keluarganya agar Queenie dan anaknya bisa ikut terlibat. Walaupun ia tak kenal dengan keluarganya, setidaknya ia bisa mempunyai tempat tinggal yang aman. Kalau semuanya berjalan lancar, istrinya meninggal lebih awal darinya. Ia bisa pergi dari rumah dan menghabiskan sisa hidupnya dengan Queenie dan anaknya. Impian selalu terlihat indah, tapi kenyataan selalu bertolak belakang. Saat ini ia hanya bisa membayangkan hal yang indah, melupakan fakta kalau anak-anak perempuannya bisa menerima keberadaan anak yang belum lahir ini, terutama Linda dan Lisa, yang mungkin tak bisa menerima kehadirannya.
Esok paginya, Peter tidak makan sarapan. Ia segera menyetir Bentley nya meninggalkan rumah dan pergi ke rumah Queenie.
Setelah melihat tes kehamilan, ia yakin kalau ia hamil. Hari demi hari berlalu, sudah lebih dari satu bulan.
__ADS_1
“Sayang, apa yang ingin kamu lakukan? Aku menunggu keputusanmu. Kalau kau tak ingin mempertahankannya, aku akan pergi ke rumah sakit untuk menggugurkannya. Aku tak akan membuatmu kecewa.” Saat Queenie mengatakannya, bola matanya memerah, suaranya juga melembut. Umumnya, laki-laki amat gampang merasa kasihan. Ditambah lagi, Peter benar-benar mendambakan anak itu?