Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 718 Menekan Jiwa Dan Melawan Kehendak Langit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Kakak keempat, aku antar kamu kembali.”


Lika Hua masih belum sempat bertanya, Lina Hua tiba-tiba mendorong keluar, langsung mendorong jiwa Lika Hua kembali ke badan, telapak ini ada kekuatan batin sebanyak 50 persen, sangat kuat.


Hello! Im an artic!


Tapi tidak lama setelah jiwa kembali, mulai pergi perlahan lagi……Melayang keatas sedikit demi sedikit.


Nafas Lika Hua sudah habis, jiwanya sudah ditetapkan pergi, walau berusaha meminjam kekuatan luar dan mengembalikannya, juga tidak termasuk jalan yang benar.


Lina Hua mengepalkan tangan erat dan membuka telapak tangannya, muncul sebuah benang merah, kemudian dia menunjuk Lika Hua, benang merah mengelilingi dan mengikat badan dan jiwa Lika Hua dengan erat.


“Tekan.” Lina Hua berkata ini, menuliskan sebuah kata Tekan dengan 49 mantra langit, dan langsung menekan badan Lika Hua.


Hello! Im an artic!


Sekali menekan, langsung menekan kebawah dan tidak ada tanda gemetar apapun lagi.

__ADS_1


Menekan jiwa dan melawan kehendak langit, dia sudah melakukan hal menakutkan yang tidak berani dipikirkannya, memberontak pada langit, memaksa menahan orang yang meninggal.


Merebut orang dengan neraka, dan masih menggunakan mantra langit yang ganas. Orang ilmu hitam akan menggila kalau tahu ada orang yang menggunakan 49 mantra langit untuk menekan jiwa orang awam.


Lagipula mantra ini sangat berharga, sangat sulit didapatkan.


“Ya sudah kalau dihukum Tuhan, tapi semoga kamu jangan mengecewakan aku, hidup dengan baik, hidup dengan anak dengan baik.” Lina menyimpan sebersit aura jiwa yang tersenyum pelan yang menghilang diudara.


Menyimpan benang merah, mantra langit langsung mengunci jiwa Lika Hua, asal tidak melepaskan ini, tidak ada orang yang bisa membuat jiwanya pergi lagi.


Dan yang ajaib, tidak tahu apakah kekuatan batin yang dimasukkan Lina Hua terlalu kuat, atau mantra langit yang terlalu hebat, saat Lina Hua menggunakan mata batin melihat organ dalam Lika Hua.


Baru sadar kalau tumor ganas yang sudah tumbuh sebesar telur puyuh itu sudah menghilang dan tidak kelihatan.


Lina Hua melihat ke toilet sebentar, “Benard Bai, kamu keluarlah.”


Dia sama sekali tidak suka memanggilnya kakak ipar keempat, rasanya aneh karena Benard Bai juga baru berumur dua puluhan.


Benard Bai berjalan keluar dengan kebas, Lina Hua menunjuk peralatan itu, “Barusan aku membacakan mantra Da Bei Zhou dan berdoa, mungkin Bodhisatva sudah mendengar doaku, kamu lihat, angka kakak keempat sudah kembali, detak jantung dan tekanan darah, semuanya normal, kamu pergi panggil dokter untuk melihatnya.”

__ADS_1


“Benarkah?” Benard Bai ini baru tersadar, membelalakan mata besar melihat angka itu.


Kemudian dia berlari keluar dengan gembira, “Lika Hua sudah diselamatkan, ha ha, dokter, istriku sudah sembuh, dokter……”


Saat Benard Bai berlari keluar, Windi Feng malah menghembuskan nafas dingin.


Dia berdiri dari atas bangku panjang dan tidak berkata-kata, orang lain kembali masuk kedalam melihat Lika Hua.


Lina Hua masih berkata pada semuanya dengan alasan yang sama, walaupun sangat tidak nyata, tapi tidak ada orang yang percaya dia ada kemampuan menghidupkan orang mati.


Sampai John Jiang juga tidak curiga, lagipula John Jiang sudah lupa tentang ingatan hidup mati itu, maka didalam ingatannya, istrinya paling juga hanya ada sedikit kemampuan kecil, bisa sedikit meramal nasib baik dan buruk dengan menggunakan Zhou Yi.


Setelah Lina Hua menjelaskan, lalu berjalan keluar dengan hening dari dalam kamar pasien.


Begitu keluar, langsung melihat wajahWindi Feng yang sedingin es.


“Kali ini kamu akan habis.”


Lina Hua menundukkan kepala tidak berani bersuara, juga tahu dirinya sudah membuat masalah, teman baik sampai kesal sekali dibuatnya.

__ADS_1


“Aku ingin sekali menampar kamu, menamparmu keras sampai kedalam dinding, sampai tidak bisa dikeluarkan, aku……” Windi Feng menaikkan tamparan, tapi tidak rela memukulkan.


Lina Hua juga tahu dirinya sudah melakukan hal bodoh, maka menundukkan kepala dan menerima dimarahi, tidak berani menghindar dan melawan.


__ADS_2