
Lina tersenyum, “Sedih? Tidak, sedikit pun tidak, sama sekali tidak ada rasa, sepertinya orang yang mereka katakan itu bukanlah aku.”
Selesai mendengarnya John tidak tahan tertawa.
Gadis kecil di rumahnya, tulus mersmasa dia bukanlah orang yang fana.
Walau baru berumur 22tahun, tapi remaja yang sudah terlatih pikiran dan perilakunya.
Banyak masalah yang dilihatnya lebih jelas dan teliti dibandingkan para senior.
Pemikiran Lina sangat gampang, dia datang kuliah, memang dasarnya hanya berminat pada sejarah.
Sebenarnya orang-orang di kampus, juga tidak setingkat dengannya.
Maka tidak perlu banyak berdebat panjang lebar, mereka mau katakan apa saja? Terserah, lagi pula dia bukan artis, tidak mengandalkan opini publik untuk mencari makan.
“Ini bukan jalan pulang ke rumah.”
Melihat arah jalan tidak benar, Lina memiringkan kepala melihat pria yang ada di pengemudi.
Dia pulang dari perusahaan, mantel di taruh ke jok belakang.
Di badan cuma memakai kemeja putih polos, kancing lengannya terbuat dari berlian, tetap kemewahan yang tidak terlalu menonjol.
“Eng, berencana membawamu ke suatu tempat.” Dia berkata.
Kelihatannya tidak berencana memberitahunya langsung akan pergi kemana, sengaja dibuat misterius.
Lina juga tidak bersuara, lewat agak lama, dia bertanya padanya, “Sebenarnya aku sangat penasaran, dengan identitasmu kenapa masih menyetir sendiri?”
Karena Lina menyadarinya, John sangat jarang menggunakan supir, kecuali minum alkohol.
Kalau tidak dia akan mengemudi sendiri, hal ini juga tidak mirip gaya bos besar.
__ADS_1
Tangan John berada di kemudi, pandangan mata lurus ke depan, tidak terlalu fokus menjawabnya, “Karena aku tidak terlalu suka menyerahkan keamanan hidupku di tangan orang lain.”
Selesai mendengarnya Lina tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Cukup hati-hati, orang yang melakukan hal besar.”
“Terima kasih atas pujian nyonya Jiang.” John juga tertawa.
Setiap John memanggilnya Nyonya Jiang, Lina pasti ada tersipu malu.
Mobil berjalan kurang lebih setengah jam, kedua orang sampai disebuah restoran yang sederhana dan kuno.
Setelah John selesai memarkirkan mobil, membawa Lina masuk.
Lina melihat-lihat disekeliling, menyadari toko tidak besar, tapi, bersih dan rapi.
Dekorasinya sedikit mirip kedai kopi, warna utamanya putih dan warna kayu, meja restoran adalah meja kayu panjang yang sering digunakan di perpustakaan.
Di langit-langit masih dihiasi banyak tanaman hijau, membuat perasaan menjadi sangat nyaman.
Saat baru masuk, Lina sudah memperhatikan papan nama di depan pintu, nama toko ini— Drunk Snow.
Sebuah nama yang puitis dan artistik, Lina sangat menyukainya.
“Presdir Jiang.”
Wanita di bar berumur 40tahun keatas, tubuhnya yang sangat lembut, sungguh elegan.
Memakai setelan jas model korea berwarna krem, senyuman yang membawa kehangatan.
“Eng, membawa istriku makan.”
__ADS_1
“Baik, kalian duduk dulu.”
Tidak lama pelayan sudah membawakan menu.
Lina melihat namanya, malah merasa sangat menarik.
Misalnya, sejuta bunga lotus sedikit merah.
Misalnya, melayang dan menyeberangi lautan untuk melihatmu.
Dan misalnya lagi, wanita cantik bagai giok, momentum bagai pelangi, gunung tinggi dan lain sebagainya.
Nama sangat elegan.
“Lina, kamu ingin makan apa? Menunya sangat tradisonal.” John bertanya padanya.
“Aku selain daging, yang lainnya makan.”
“Tenang saja, ini adalah restoran vegetarian, kamu ingin makan juga tidak ada.”
Ini malah membuat Lina terkejut, bagaimana pun restoran vegetarian dibagian utara masih belum terlalu populer, orang bagian utara suka makan daging, suka semua daging dan bawang.
John melihat menu sebentar, asal memesan beberapa, juga meminta segelas teh osmanthus.
Dia mengambil gelas dan mencicipi seteguk kecil, selanjutnya melihat keluar jendela dengan datar.
John melihat wajah samping Lina…..
Perlahan mengatakan, “Kamu sedang melihat pemandangan dari dalam rumah, dan aku, sedang melihatmu.
Kata cinta yang begitu menggoda terucapkan, Lina sedikit malu, dia menundukkan kepala pura-pura tidak mendengar.
“Lina, menurutmu bagaimana dengan puisiku tadi?” John bertanya padanya.
__ADS_1
Lina bengong lagi, “Tadi itu….puisi ya?”