Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 184 Tidak Ada Rasa Kasihan


__ADS_3

Ibu itu mengangguk, “Adik kecil, kamu bossnya?”


“Iya betul.”


“Ah, tadi ketika saya datang, saya mengira orang itu adalah bossnya, tapi dia bilang dia bukan, aku berpikir bahwa kamu jualan barang antik di sini, harusnya juga menerima barang antik juga, jadi mau coba menjual ke sini.”


“Baik, coba keluarkan barangnya, aku lihat dulu.”


Lina menyuruh Rika membawakan air minum untuk ibu ini.


Ibu itu menaruh bayinya di kursi, dia tidak mempedulikan bayi itu.


Lina takut bayi itu akan terjatuh, jadi dia terus menatapnya.


Ketika Ibu itu mengeluarkan barangnya, dia melihat terus ke arah luar, melihat apakah ada yang lewat, kemudian dia mengeluarkan sebuah kantong plastik dari tasnya itu.


Kemudian dari dalam kantong plastik, barang itu masih terbungkus sebuah kain anti minyak, sepertinya sangat hati-hati.


Akhirnya, Lina bisa melihat jelas barang yang dia bawa itu.

__ADS_1


Sebuah cangkir tembaga, tidak besar, tingginya setengah telapak tangan ibunya.


Dia kemudian memberikan barang itu ke Lina, setelah memakai sarung tangan putih, Lina menerima barangnya.


Diperhatikan dengan seksama, benda ini memang barang kuno, benda tembaga ini seperti ini terdapat pada saat dinasti perang, biasanya dipakai oleh jenderal atau mentri, rakyat biasa tentunya tidak punya hak, waktu dulu tidak dinamakan cangkir bir, tapi lebih sering disebut cawan, dibuat dengan sangat detail, di kedua sisi terdapat ukiran berbentuk bunga, tapi karena sudah lama, tembaganya menghijau, dan kelihatan sangat using, tapi barang antik begini, tidak takut rusak, yang penting semakin lama tahunnya semakin mahal.


Setelah mengeceknya, Lina melihat ke ibu tadi.


“Barang ini, kamu dapatkan darimana?”


“Dari…..le..leluhurku.” ketika bicara, tatapan wanita itu terlihat sedikit ragu.


“Adik kecil, jujur, aku juga gak tahu harus bagaimana lagi, pria di rumahku telah keluar dari rumah sejak lama, aku juga gak punya pemasukan dan membawa seorang bayi, hariku begitu susah dilewati, jadi aku berpikir untuk menjual barang peninggalan dari leluhurku, aku hanya seorang petani, gak mengerti barang gituan, aku hanya tahu ketika mertuaku masih ada, mereka mengatakan barang ini sangat berharga, mungkin akan kujual dengan harga 20ribu yuan.”


Ibu itu menunjukkan 2 jarinya, di mata dia, 20ribu ada sebuah angka yang besar.


Lina terdiam, jujur, kalau benda ini ada barang asli, dan berasal dari masa dinasti perang, sesuai harga pasaran, berkisar antara 80ribu sampai 100ribu.


Tapi dia gak bisa menerima benda ini.

__ADS_1


“Bu, kenapa kamu gak pergi ke pegadaian yang lebih besar, toko aku ini kecil, gak bisa memberikan harga setinggi itu kepada kamu.”


Melihat Lina berbicara begitu, Ibu itu dengan cepat menjelaskan, aku dengar mereka itu sangat jahat, biasanya mereka akan menipu kami, dulu ada orang desa yang pernah ditipu, semakin besar tokonya semakin tidak bisa diandalkan, adik kecil, kita berdua sepertinya berjodoh, aku lebih ingin menjualnya ke kamu saja, kalau terlalu mahal, kamu beli saja dengan harga 18ribu saja.


Melihat reaksi Lina, Ibu ini panik, langsung menurunkan harganya.


Setelah Rika membelikan airnya, dia terus menjaga bayi itu, sambil mendengar percakapan mereka.


“Ibu, 18ribu aku juga tidak bisa menerimanya, kalau enggak kamu tanyakan ke tempat lain saja.” Lina kemudian mengembalikan cawan itu ke tangan ibu itu.


“Adik kecil, kamu anggap saja mengasihani kami, kami juga sudah tidak ada jalan keluar lagi, aku seorang ibu rumah tangga, juga tidak kenal siapapun? Akhirnya aku bisa bertemu toko kamu ini, gini saja, kamu bisa memberikan berapapun ke aku, kamu atur saja, orang rumah masih menunggu uangku untuk membeli beras, aku gak boleh pulang dengan tangan kosong.”


Ibu itu sambil menangis sambil berbicara, Rika yang di samping juga ikutan merah matanya.


Tapi Lina tetap bersisihkeras, “Ibu, kamu pergi saja, ini bukan masalah uang, aku gak bisa menerima barang yang tidak bisa dijual lagi, jadi aku gak bisa membeli barangmu.”


“Non…. Kamu kasihanilah mereka.” Rika juga akhirnya memohon.


Rika juga merasa aneh, biasanya walaupun nonanya ini sangat dingin, tapi dia juga berhati baik, tidak mungkin tidak ada rasa kasihan sama sekali, hari ini ada apa dengannya?

__ADS_1


__ADS_2