Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 93 Terlalu Banyak Kebohongan


__ADS_3

Lika Hua sudah lama tidak berpikir jernih, hingga akhirnya ia tersadar.


“Lina……kamu……”


Lina Hua memandang Lika Hua sambil tersenyum, “Kau merasa kaget ya?”


Lika Hua mengangguk.


“Aku merasa kamu yang saat ini, seperti orang asing yang tak pernah kukenal sebelumnya.”


Lina Hua balik bertanya, “Memang aku yang dulu seperti apa?”


“Tak suka bicara, tak mudah tersenyum, dan dingin.”


Lina Hua menunduk sambil tersenyum tipis.


“Lina, pasti kamu melewati hidupmu dengan bahagia ya? Bersama keluarga Jiang?” tanya Lika Hua tiba-tiba.


“Kehidupanku dengan keluarga Jiang? Tak bisa dibilang bahagia juga. Kau tahu kalau pernikahanku tak menyangkut emosional, melainkan hanyalah sebuah pernikahan semata. Tapi sejujurnya, keluarga Jiang memperlakukanku dengan baik dan aku juga amat bebas. Hal itu sudah cukup bagiku.”


Lika Hua pikir Lina Hua pasti hidup bahagia bersama keluarga Jiang. Sikapnya sekarang sudah berubah, lebih banyak tertawa dan tersenyum.


Terakhir kali saat surat wasiat nenek dibacakan, semua orang menentang Lina Hua. John Jiang membela istrinya. Benar-benar lelaki yang spesial.


Bisa jadi, karena adik kelimanya amat cantik, John Jiang menjadi amat baik padanya.

__ADS_1


Namun, ada beberapa hal yang tidak Lika Hua katakan dengan gamblang. Dia bukanlah orang yang suka menggosip.


Keduanya mengobrol sekitar dua jam lamanya.


Lika Hua meminta maaf dan membawa beberapa buku untuk Lina Hua.


Saat berpisah, Lina Hua melihat waktu masih sangat awal.


Rika memberi tahu kalau disekitar ada pasar barang antik yang bisa dijelajahi


Tetapi pasar kali ini lebih untuk kelas bawah, barangnya banyak yang asli dan palsu. Kalau tidak hati-hati bisa tertipu.


Suasana hati Lina Hua sedang baik. Ia merasa tak masalah jalan-jalan mengecek pasar itu.


Keduanya berjalan mengelilingi pasar antik yang penuh dengan barang antik asli dan palsu.


Namun, terlalu banyak barang-barang palsu dengan kualitas rendah.


Hanya untuk menipu orang-orang kaya yang sok mengerti barang antik, padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.


Begitu dia masuk, dia sudah bertemu seorang seperti ini.


Seorang pemuda berumur sekitar 20 tahun, terlihat gemuk, memakai kalung emas di lehernya. Sungguh amat berlebihan.


Ia memakai baju merk Versace yang terlihat amat mahal.

__ADS_1


Ia membawa tas mahal di tangannya sambil menggandeng seorang perempuan yang terlihat lugu.


Perempuan itu masih muda, namun mengenakan dandanan tebal, stoking hitam dan rok yang pendek yang membuatnya terlihat vulgar.


Saat Lina Hua melewati mereka, dua orang itu sedang melihat seorang kakek yang berjualan mangkok.


Pakaian kakek itu terlihat lusuh, mukanya berdebu. Namun, makin berdebu, makin banyak pembeli yang tertarik.


Karena pembeli secara tak sadar berpikir orang dari desa tak akan menipu mereka.


Berpikir kalau ada banyak barang antik bagus yang ditinggalkan oleh leluhur mereka, atau mereka menggalinya dari sekitar tempat tinggal mereka.


“Anak muda, aku menjual mangkok ini seharga 10,000 yuan juga bisa dibilang tidak mahal. Aku dan istriku tak mengerti tentang barang antik. Kami menjualnya untuk membiayai pengobatan anak kami yang sedang sakit. Kalau keadaannya tidak seperti ini, kami juga tak mungkin menjualnya. Mangkuk ini penurunan dari kakek leluhurku. Katanya, keramik ini adalah dari kerajaan Ming. Kau bisa membeli lalu menjualnya pada orang yang mengerti. Berapapun harganya pasti bisa kau jual……”


Setelah kakek itu selesai bicara, amat terlihat kalau orang gemuk itu tergerak.


Lina Hua melirik kedua orang itu sambil menyindir, “Hari-hari ini terlalu banyak orang bodoh, pembohong ini jelas tak cukup pintar.”


Suaranya tak begitu terdengar, namun nona disebelah pria gemuk itu mendengarnya, lalu ia melirik Lina Hua.


“Siapa yang barusan kamu bilang bodoh?”


Rika marah lalu berniat ingin menghajar wanita itu, namun ia ditahan oleh Lina Hua.


Ia menggelengkan kepala, tak membiarkannya bergerak.

__ADS_1


“Nona, orang semacam ini harus dihajar. Jangan menghalangiku.” Kata Rika tak bisa menahan amarahnya.


__ADS_2