
Lina dengan muka tidak bersalah dan merasa difitnah, “Enggak loh kak, aku juga gak bisa apa-apa.”
Melihat Lina tidak ingin membantunya, dia lalu berusaha memainkan adegan sedih.
Hello! Im an artic!
Sengaja menangis di depan Nyonya Hua, matanya memerah.
“Ma, coba kamu bayangkan, bisnis keluarga kita begitu besar, hanya aku dan kakak pertama yang mengurusnya, kami juga tidak gampang. Adik Lili menjadi artis, Lika juga menjadi gurus, adik Lina lebih baik lagi nasibnya, dia menikah dengan keluarga Jiang, sampai akhirnya yang mengurus semuanya hanya aku dan kakak pertama? Beberapa tahun ini aku dan kakak pertama sudah sangat capek, tapi siapa yang bisa mengerti kami? Apalagi aku, sejak masuk ke rumah sakit kecantikan kita, tidak dimengerti, sering menemani customer minum sampai muntah, ini gak pernah kalian lihat, tapi setiap pembagian deviden, kalian dengan senang mengambil uangnya, walaupun kita semua kaka adik, tapi aku juga bukan anak tiri, kenapa gak ada yang peduli padaku?”
Lisa mengadu ke mamanya, tapi sebenarnya kata-kata dia tertuju ke Lina, dia menuduh Lina egois, tidak peduli urusan rumahnya.
Lalu mengeluh dia sudah bersusah payah beberapa tahun ini.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Nyonya Hua menenangkan Lisa, “Karena kamu adalah kakak, jadi kamu dan Linda harus menanggung lebih banyak, papa mama tahu kok kamu sudah bersusah payah.”
Ketika mendengar Nyonya Hua berkata begitu, Lisa semakin bersemangat lagi
“aku susah payah demi siapa? kan juga demi keluarga ini, tapi apakah mereka yang di keluarga ini merasa begitu juga?”
Lina melirik ke kakaknya, dan dia tersenyum sambil berkata, “kakak, kalau susah banget, kamu boleh resign saja, biar kakak pertama yang mengurusnya saja, kalau kekurangan orang, kita bisa merekrut orang lain juga, kamu bisa tinggal menikmati deviden saja, kenapa mesti mempersulit dirimu sendiri.”
Lisa: ………
Mendengar kata-kata Lina, Lisa juga gak bisa langsung memarahinya.
“Aku juga punya nasib susah, demi keluarga kita, aku gak boleh melepaskannya juga.”
Lina hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.
__ADS_1
Hal ini tentunya tidak mendapatkan hasil yang Lisa inginnya, dan pada akhirnya Lina juga langsung pulang tanpa makan dengan keluarga Hua nya.
Ketika Lina pergi, Lisa akhirnya menunjukkan sifat aslinya, dia mulai memarahinya, “Lina si rubah kecil sialan itu, sekarang merasa dirinya sangat tinggi di atas karena suaminya? Aku lihat dia bisa sombong berapa lama lagi? Aku mau lihat John akan bertahan berapa lama dengannya? Pasti akan saatnya dia menangis.”
Ketika Lina pergi, gak lama Lisa juga pulang, ketika sudah sepi, papa mama mereka lagi berbicara di ruang tamu.
Mama: Papa, coba kamu bilang, kalau kita sudah tua, kita mau bersandar ke siapa lagi?
Papa: susah di bilang, anak pertama dan kedua hanya peduli pada bisnis, mereka juga gak punya waktu mengurus kita, yang keempat guru, dia ingin hidup sederhana, kalau yang kelima, kita jarang bertemu juga, tidak terlalu dekat dengan kita. Mungkin hanya sisa anak ketiga kita, walaupun tempramen, tapi dia sangat berbakti.
Mama: Iya, yang aku pikirkan juga sama, Lili tahun lalu membeli sebuah rumah di Australia sana, masih kosong, aku kira ketika kita tua nanti bisa tinggal ke sana.
Mungkin sebenarnya mempunyai banyak anak itu juga bukan hal baik, Lili juga tidak menyangka orang tuanya akan berharap banyak padanya
Dia membeli rumah di Australia hanya untuk mencari ketenangan ketika dia butuh liburan.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Rika yang tahu hal tadi kemudian bertanya ke Lina, “Non, kalau kakakmu setuju membayarkan 80 Miliyar, anda benaran mau jadi ambasadornya?”