
Hello! Im an artic!
Jessica menundukkan kepala, sepertinya ada sesuatu yang susah diungkapkan….
“Kamu tidak mengatakannya, bagaimana aku membantumu, bagaimana aku bisa tahu kamu harus menghasilkan berapa banyak uang baru cukup?” Lina melihatnya dengan tenang.
Hello! Im an artic!
Agak lama, Jessica mengangkat kepala, matanya memerah.
“Keluargaku, sangatlah miskin, jadi mereka selalu membutuhkan uang. Dulu jika ada beasiswa aku selalu mengirimnya ke rumah, terakhir kali aku menang kuis sekitar 20ribu juga dikirim buat papa mamaku untuk merenovasi rumah, kemarin papaku menelpon lagi mengatakan, dia ingin membeli sebuah alat penyemai benih, karena di rumah sebentar lagi akan bercocok tanam, ingin lebih mudah. Aku mengiyakan dengan cepat, dia bilang lagi ingin sebuah alat pemanen, supaya bisa digunakan untuk memanen padi saat musim gugur, masih bisa membantu keluarga lain dan mendapatkan uang imbalan, di kartu atmku sekarang cuma ada 4000 lebih, ini adalah hasil dari kerjaku, tadinya berpikir ingin menggunakan kartu kredit mengambil uang tunai 5000 dulu untuk dia, membeli sebuah alat penyemai benih. Tapi dia minta alat pemanen lagi, butuh 10ribu, total ini itu butuh 15ribu, aku cuma punya 4000, sisa 11ribu, aku harus cari kemana?”
Jessica perlahan mengatakan kesulitan di dalam hatinya, selesai mengatakannya dirinya juga ingin tertawa, sebenarnya lebih banyak terasa tidak berdaya.
__ADS_1
“Apakah keluargamu sudah menganggapmu sebagai mesin pencetak uang?” Lina bertanya dengan suara dingin.
Hello! Im an artic!
“Tidak juga, mereka mungkin merasa sudah membesarkanku bertahun-tahun, juga menghabiskan banyak uang, sudah waktunya aku membalas mereka.”
“Kamu sekarang masih seorang pelajar, belum ada pekerjaan, dengan apa membalasnya?”
“Mereka…mengira bekerja di kota lebih mudah, tapi tampangku ini, sebenarnya untuk mencari pekerjaan sangatlah tidak mudah.” Jessica mengelus wajahnya sendiri, merasa sedikit minder.
“Aku bisa meminjamnya untukmu.” Lina mengatakannya.
“Tidak, sama sekali tidak mau, dari awal semuanya sudah mengatakan aku baik denganmu karena ada maunya, mendekatimu demi uang, aku harus berjuang sendiri, Lina, kamu hanya perlu mencarikan sebuah pekerjaan untukku saja, aku yang bekerja untuk menghasilkan uang sendiri, jika butuh pinjaman, aku bisa pergi mencari pinjaman rendah bunga, tapi aku tidak ingin, uang hasil pinjaman membuat hati tidak tenang.”
__ADS_1
Jessica walau miskin, tapi moralnya bagus, dan sangat berkepribadian, dan hal ini yang lebih diperhatikan Lina.
Lina berpikir-pikir, apa yang dikatakan Jessica ada benarnya. Walau teman sebaik apapun, juga tidak bisa terus membantu keuangannya, harus mengandalkan diri sendiri. “Aku memang punya satu pekerjaan yang bisa diberikan padamu, agak susah, tapi penghasilannya lumayan banyak, kamu bisa mencobanya.”
“Baiklah, kamu katakan, aku pasti bisa melakukannya, aku tidak takut susah, juga tidak takut kerja keras.” Jessica sedikit bersemangat.
“Aku ada seorang teman membuka sebuah toko barang antik, dia sering mengumpulkan pajangan yang berusia tua, barang antik dan sejenisnya. Pokoknya ada beberapa permintaan, pertama harus terjamin keasliannya, kedua harganya harus sesuai, ketiga tidak mau barang ikut terkubur yang baru digali. Kamu teliti terhadap sejarah, aku percaya penglihatanmu akan akurat, tidak akan terlalu menyulitkanmu, di Kota J banyak pasar barang antik, kamu boleh pergi mencoba lihat-lihat mungkin ada keberuntungan, bukankah kamu masih ada pegangan 8juta, bisa membelinya dulu, barang yang didapat aku bantu kamu berikan pada temanku. Dia pasti akan memberimu harga bagus, agar kamu bisa mendapatkan harga bagus. Begini juga tidak menghambat waktu belajarmu, juga bisa mendapatkan uang, menurutmu bagaimana?”
Selesai mendengarnyaJessica sekuat tenaga menganggukkan kepala, benar-benar sangat bagus, bukan hanya bisa menghasilkan uang, masih bisa menggunakan hasil belajarnya, kebetulan sesuai dengan bidangnya.
Setelah beberapa saat berada di ruang kesehatan, Lina pergi, memikirkan takdir Jessica, dia tidak tahan untuk mendesah, lalu di dalam hati muncul sebuah pemikiran, ingin meramalkannya, melihat bagaimana takdirnya?
Di dalam perpustakaan, Lina mengeluarkan bambu meramal dari dalam tas kanvasnya, walau tidak ada detail tanggal lahir dan waktu, karena hanya melihat kelima inderanya juga bisa diramalkan langsung.
__ADS_1
Setelah beberapa detik, sebatang bambu terbang keluar, Lina mengambil untuk melihatnya…