
Hello! Im an artic!
“Nona, kamu tidak apa-apa ?”
Ella melihat rupa Lina Hua yang seperti ini, juga menakutkan, karena dalam sekejap saja mukanya langsung berubah.
Hello! Im an artic!
“Ella, kamu telpon Rika, suruh dia balik, segera.”
“Ya, siap, aku segera menghubunginya.”
Ella kena Lina Hua kagetkan, waktu memegang hp tangannya bergetaran, yang ajaibnya hp Rika sudah mati.
“Nona, dia sudah mematikannya.”
Hello! Im an artic!
“Telpon lagi.”
Hati Lina Hua sangat tidak tenang, dia juga sudah tidak bisa duduk, berdiri mondar-mandir.
John Jiang keluar dengan tamu makan yang belum pulang, Lina Hua bahkan tidak memiliki pendapat, keterlaluan.
Tasbih ini ada disisinya setidaknya sudah sekitar tujuh delapan tahun, sangat kuat, tidak pernah terlepas, apalagi terputus.
Sampai sekarang sudah tercecer dilantai seperti ini, Lina Hua bagaimana mungkin tidak kebingungan ?
Jangan berkata buta iman, meskipun orang yang tidak tahu apa-apa, seharusnya juga tahu, ini melambangkan apa?
Lina Hua berjalan bolak-balik sudah setengah jam, tetapi akhirnya tetap tidak tahan.
Dia dari kamar, mengambil berkas lama yang sudah tidak digunakan.
__ADS_1
Sejak dia kecelakan, tidak pernah lagi ketemu.
Kemudian terjadi begitu banyak masalah.
Sampai saat ini, Lina Hua tidak tenang, kemudian mengambil lagi berkasnya.
Dia duduk diatas kasur, sedikit cemas.
Dia takut, akan terjadi sesuatu yang tidak baik, bagaimana?
Apakah harus mengubah rencana?
Kalau tidak diganti, akan melihat itu terjadi?
Lina Hua menutup matanya menarik napas yang dalam, pemikirannya kembali muncul.
Dia mengangkat tangannya, mengambil dan menggoyangkan berkas, kemudian terdengar, berkas dan berserakan.
Langsung menggigit barang itu, dan kemudian lari ketempat lain.
“Edo.”
“Miaomiaomiao.” Edo mengeluarkan suaranya, kelihatannya sudah marah, sepertinya sedang memperingatkan dia.
“Edo, bawa kesini.”
Lina Hua semakin cemas, tidak tahu akan berakibat apa, pada berkas itu.
“Miaomiaomiao.” Emosi Edo juga tidak baik, berteriak kepada tuannya.
Keduanya saling menatap, kemudian kucing lainnya pun muncul, seketika itu menendang dan menumpahkan berkas yang ada ditangan Lina Hua.
Semua berkas yang ada itu pun terjatuh, dan berantakan dilantai.
__ADS_1
Edo dengan cepat memberantakannya dengan mulutnya, membuat Lina Hua menyerah.
Lina Hua ingin murka, tetapi tidak tega, lalu dia menghela napasnya.
“Eda……ternyata kamu juga begitu terhadapku? Aku sia-sia saja membelikanmu begitu banyak makanan?”kata Lina Hua.
Eda sepertinya sedikit merasa bersalah, mengeluarkan suara lalu menundukkan kepala, tidak berani melihat Lina Hua.
“Edo, kamu jahat ya……tidak hanya diri sendiri berbuat nakal, masih membawa istrinya menyiksa aku.”
“Miaomiaomiao.” Edo tetap tegas, dan menggertak Lina Hua.
“Sudah, sudah, benaran sudah takut sama kamu, aku tidak lagi, oke tidak?”
Lina Hua tahu, Edo tidak berharap dia begitu, sebenarnya bukan tidak meramal, tetapi tidak boleh meramal orang terdekat.
Karena meramal oranglain, walaupun apa yang diramalkan, tidak akan berurusan dengan Lina Hua, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia.
Tetapi orang disampingnya berbeda, terutama orang terdekat, seperti Lili Hua, Lika Hua.
Lina Hua berkali-kali membuat mereka cemas, sudah berbuat banyak hal yang tidak boleh diperbuat, Edo otomatis tidak berharap tuannya berbuat salah lagi.
Jadi berbuat demikian dengan tuannya, terus menyuruh Lina Hua menyerah melakukan peramalan ini.
Lina Hua juga malas membereskan barang yang berantakan dibawah, bangun dari tempat duduknya lalu masuk kamar.
Edo melihat tuannya sebentar, kemudian membawa Eda membersihkan tempat itu.
Menyimpannya pada tempatnya, kemudian menyimpannya dilaci Lina Hua, menyimpan kembali pada tempatnya.
Dia berhasil melarang tuannya……tetapi……tuannya sangat sedih, dia tahu.
Saat John Jiang kembali, sekali membuka pintu langsung mendengar suara, seketika itu berpikir.
__ADS_1