
Hello! Im an artic!
“Guru, dia harus menanggung lampu kepunahan seorang dirikah, apakah aku boleh menolongnya?”Windimerasa sedikit sulit, dia ingin bersama menolong John.
“Tidak bisa, dia harus tinggal seorang diri, ada yang lebih penting yang harus kamu lakukan.”
Hello! Im an artic!
“Ha? Apa yang masih dapat kulakukan?”
“Begitu lampu kepunahan bersinar, para penyihiritu bisa merasa terusik, dan meraka akan menjadi lebih solid, mengikat wanita itu, dan kamu perlu berjuang besamaku, bersatu melawan para penyihir itu.”
“Kita tidak bertemu dengan para penyihir itu, bagaimana dapat melawan mereka?”Windimeratakan bibirnya.
“Diantara para master sihir tak perlu bertemu, hanya perlu melihat pikiran siapa yang lebih kuat.”
Hello! Im an artic!
Setelah orang tua gila itu selesai bicara, meminum seteguk penuh Bir putih yang ada di tangannya, seakan seperti isyarat akan berjuang.
“John, meskipun Guruku gila, tetapi …….”
“Aku mengerti, aku percaya kalian.”John sudah sampai di tahap ini, sudah tidak dapat memilih, ini adalah kesempatan terakhir bagi dia dan Lina.
Maka malam itu John menggendong Lina perlahan keluar dari rumah sakit, dia tidak mengatakan pada siapapun, setelah itu sekalian membawa tongkat Rika dan Ella kembali ke Gunung Congcui, kemudian berpura pura meminta mereka pulang mengambil barang.
__ADS_1
Malam hari sewaktu Eric datang ke Rumah sakit, Lina sudah pergi, dia langsung ke villa Spring Mansion mencari orang
Tapi di hadang oleh satpam di pintu luar.
“Tolong kamu suruh John keluar menemuiku.”Eric merasa kesal, dua hari ini dia sampai hitam dan kurus, dalam sehari dengan pesawat terbang ke 3 kota, mencari macam-macam dukun dan orang pintar, tapi tak membawa hasil apapun, kembali turun dari pesawat langsung pergi ke rumah sakit, tapi malah tak bertemu dengan Lina.
5 menit kemudian, John keluar dan melihat Eric.
“Kenapa kamu dan Lina sudah keluar dari rumah sakit, kamu tahu jelas kondisinya …….”
“Urusan keluarga kami, tak perlu kamu ikut campur.”
“John, masalah ini kami keluarga Xie yang melakukan kesalahan padamu dan Lina, adikku ……dia sudah menyalahkan dirinya sendiri, beberapa hari ini dia terus menangis dan terus demam, aku juga berharap Lina dapat pulih, setelah ayahku mengetahui masalah ini, dia juga merasa sangat sulit, selalu berkata, tak peduli berapa mahal, sudah berapa banyak usaha, selalu ingin menolong Lina.”
“Lagipula kalian tidak punya cara lain, Lina juga tak perlu kalian kasihani, Eric kamu pergi saja, Lina adalah istriku, aku mau bagaimana, itu urusanku.”
“Tidak akan, selamanya tidak akan.”
John tak punya mood untuk bertengkar dengan Eric, selesai mengucapkan kalimat ini dengan suara pelan dia langsung memutar badannya kembali, kemudian kembali ke villa Spring Mansion dan mengunci rapat rapat pintu besar vila, puluhan satpam berpatroli 24 jam, bahkan seekor lalatpun tak akan dapat keluar.
Di taman belakang vila, Daoshi gila danWindi juga sudah bersiap.
“Sirih yang berbeda dari timur melawan sihir dari barat, hehe sangat menarik, kalau di pikir pikir tak sia-sia hidup satu kali.”Orang tua gila berbicara sendiri.
Windijuga sedikit grogi, dia belum belajar 10 persen dari kakek, beberapa tahun ini terus menulis menjadi hobiny, mana ada melawan sihir semacamnya.
__ADS_1
Tapi hari ini tidak ada pilihan lain, John seorang diri berada di dalam vila, dia juga menyiapkan diri, memutuskan melepas untuk terakhir kalinya.
Beberapa waktu, John sudah berapa kali ingin tidur rasanya, setiap kali merasa mengantuk, dia akan menyuntikkan stimulan ke lengannya, memaksakan diri untuk tetap berjaga.
Dan di taman belakang orang tua gila dan Windi, setelah keduanya duduk bersatu menggunakan pikiran masuk ke dunia roh, berhadapan dengan 7 penyihir besar.
Pertarungan ini berlangsung 7 hari 7 malam penuh, John juga 7 hari 7 malam tidak memejamkan mata, terus meaneteskan darah dari jarinya untuk menjaga lampu kepunahan tetap hidup, dan hanya berharap segaris kesempatan hidup.
Hari Ke-8 Subuh
John menuruti apa yang di katakan orang tua itu, setelah melihat lampu kepunahan padam, memeluknya berlari ke taman belakang, kemudian melihat Windidan orang tua itu penuh luka di tubuhnya.
“Tuan, Nona Feng, Kalian…….”
“Kami tak apa apa, hanya sedikit luka luka kecil, gadis itu dia sudah sadar?”Orang tua gila bertanya.
John menggelengkan kepala.
“Ayo, ku bawa kau melihat lihat.”
Bersama 3 orang itu sampai di ruangan tempat Lina berbaring, Lina terbaring lurus di atas ranjang, warna mukanya sudah pulih sedikit merah, tapi tak ada tanda akan bangun.
“Guru, kenapa belum sadar?”Windijuga agak bingung.
Orang tua gila itu menyentuh nadi Lina, kemudian mulai menghitung hitung, wajahnya memucat, bertanya kepada John, “Kamu dengannya……belum pernah bersetubuh?”
__ADS_1
“Belum……belum pernah.” Wajah John memerah.
“Haiya, sungguh menakutkan orang……bukankah kamu suaminya, bagaimana dia masih perawan?” Orang tua gila itu marah sampai tangannya gemetar, Windijuga terkejut memandang John, sepasang suami istri ini ternyata belum pernah bersetubuh, Lina masih perawan? Astaga…