
“Dasar bocah.”
“Haha, paman,aku sekarang mengerti deh kenapa kamu gak menyukai Guru Dong, ternyata kamu suka yang beginian?” Katie cemberut.
“Kenapa? Emang enggak cantik? ” Eric bertanya ke keponakannya.
“Cantik kok, seperti bidadari.”
“Betul, pilihanku selalu yang terbaik.” Eric sangat bangga.
“Tapi sangat dingin, dia sama sekali gak tertarik sama kamu.”
“Kamu ini.”
“Yang aku bilang itu fakta, kamu lihat dia betapa dingin, melihat aku yang berdiri di belakangmu saja, dia tidak bertanya, itu berarti dia sama sekali gak tertarik denganmu, susah buat dikejar juga tipe begitu.”
“Susah dikejar baru ada kesenangan tersendiri, kamu ngerti apa, pamanmu ini suka tantangan.”
Eric mengendong keponakannya, kemudian pergi mencari makan.
Eric berulang kali memberitahu keponakannya, jangan ngomong tentang hal ini ketika dia pulang.
Tapi bocah itu ketika pulang langsung memberitahu mamanya.
__ADS_1
Fenny dengan tenang berkata, “Pamanmu memang begitu, hanya hanget-hanget taik ayam, suka yang segar gitu, ketika sudah dapat, lalu bosan, dia akan selalu memutuskannya, kita gak usah membahas tentang dia, kita bahas tentang kamu, comblangin apa? siapa Guru Dong? suruh kamu pergi belajar, atau urusin hal yang gak jelas?”
Katie hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya, gossip gak dapat, malah dimarahin sekarang.
Di universitas.
Lika sudah membuat kunci cadangan lagi, tapi surat-surat yang hilang itu lebih ribet.
Kalau bikin baru, butuh waktu yang lama, jadi dia memutuskan untuk menunggu kabar dulu, kalau sampai senin tidak ada kabar, maka dia juga gak berharap lagi surat-surat itu bisa kembali.
Tapi dia tidak menyangka, Benard akan datang ketika jam pulang kantornya.
Masih seperti pacaran dulu, dia menunggunya di bawah kantornya.
Ketika melihat Benard datang, mata Lika sedikit binggung.
“Barangmu sudah ketemu, sura-surat semua masih ada, hp juga masih ada, nih, aku balikin”
Selesai berbicara, Benard memberikan tasnya, itu adala tas Lika yang hilang hari itu.
Lika kelihatan sangat senang, dengan cepat berjalan ke arahnya, dan menerima tasnya itu.
Dia lalu membuka tasnya dan mengecek dalamnya sekali lagi, dan ternyata semuanya masih ada, uang pun tidak berkurang satu rupiah pun.
__ADS_1
“Aku gak nyangka bisa ditemukan secepat itu.” Lika melihat ke arah Benard.
“Kamu ada waktu sekarang? Aku traktir kamu makan.” Benard berkata.
Melihat Lika yang terdiam, dia langsung menjelaskan, “sekalian menjelaskan ke kamu proses pengambilan tas kamu itu, karena kamu adalah korban.”
“Baik.”
Lina mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke arah restoran bbq, dan memesan beberapa daging dan sayur.
Masih seperti dulu, Benard membantu Lika membakar dagingnya, dia hanya makan saja.
“Coba ceritain tentang kasusnya.”
Lika juga gak terlalu dingin, tapi karena mereka berdua sudah putus, kalau gak bicarain kasus, mereka juga enggak punya topik lain.
Benard meletakan sebuah daging yang telah matang ke piring Lika.
Kemudian dia berkata, “Tersangka ada seorang murid SMA.”
Lika terkejut, dia gak menyangka bahwa ternyata masih seorang anak.
__ADS_1
Benard melanjutkan, “Murid dari SMA NO.10 kota J, tidak jauh dari sekolah kalian, rumahnya di desa kecil, dia merantau ke sini, tapi karena salah jalan, dia sering bolos, nilainya juga jelek, gurunya juga tidak mempedulikannya, orang tuanya juga tidak tahu, jadinya dia juga punya banyak teman yang gak baik, sehingga memberikan arahan yang salah, dia pertama kali melakukan kejahatan, dan juga tidak sengaja memilih mu, hanya kebetulan kamu lewat sana.”
“Aku benaran sial juga.” Lika tertawa sedih.