Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 335 Rencana Yang Sebenarnya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Apa yang kau temukan?” Lina mengangkat secangkir teh hijau. Belum sempat ia meminumnya, ia menaruhnya dengan perlahan.


Rika menghampiri Lina lalu berbisik di telinganya, “Saya sudah mengecek dokumen medis Queenie di rumah sakit swasta itu. Dia sebelumnya melakukan suntikan ovulasi selama tiga bulan berturut-turut.”


Hello! Im an artic!


“Suntik ovulasi?” Lina mengerutkan alisnya.


Takut sang nona tak mengerti, Rika menjelaskannya dengan teliti.


“Suntik ovulasi bertujuan untuk mendorong pembuahan. Perempuan normal hanya mengalami sekali pembuahan dalam sebulan. Tetapi, dengan injeksi ovulasi, mereka bisa mengalami banyak pembuahan dalam satu bulan, yang biasanya terjadi pada orang-orang yang memang mempersiapkan kehamilan. Banyak artis perempuan yang suka melakukannya, karena gampang untuk mendapatkan anak kembar. Ditambah lagi, kemungkinan kehamilannya amat tinggi. Sepertinya, tuan besar tidak mengetahui hal ini. Queenie diam-diam pergi ke dokter untuk disuntik. Ia pasti sudah memperhitungkannya pada tuan besar.”


“Gila.” Lina tak banyak berkomentar. Wanita ini rela melakukan apapun demi menjadi kaya.


Hello! Im an artic!


“Apa anda ingin memberitahu tuan besar tentang hal ini, jika tuan besar tahu Queenie berbohong padanya, ia mungkin akan berpaling darinya.”


Maksud Rika adalah mencari cara untuk membongkar rahasia selingkuhannya dan membuat mereka berpisah.


Namun, Lina merasa itu bukan hal yang tepat.


Ia menggelengkan kepalanya. “Metode ini tidak cukup bagus. Walaupun dia memainkan sebuah trik, tapi kenyataannya memang ia benar-benar hamil. Ayahku tak mungkin akan berbuat seperti itu. Dengan kata-kata manis Queenie, ia pasti akan cepat terbujuk, kemudian menakuti yang lainnya.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana, nona tak mungkin membiarkan anak ini lahir kan…… Kejadian yang memalukan ini…… akan membuat keluarga Hua terhina, juga membuat nyonya besar amat marah.”


Rika terus mengkhawatirkan sang nona. Jika berita ini terkuak, Lina pasti akan ikut dilibatkan dan tak bisa kabur kemana-mana.


“Biarkan aku berpikir.”


Kepala Lina terasa sakit. Ia tidak sekejam Lisa, tapi anak ini sungguh tak seharusnya ada.


Lina merasa dilema, sulit untuk membuat keputusan akhir.


Di apartemen Sony, Lili merasa sulit untuk bangun kerja, jadi ia memberi asistennya libur. Kemarin malam ia tiba, pagi ini ia belum juga pergi.


Sepertinya dia sudah merasa tempat ini seperti rumahnya sendiri. Pagi harinya, Sony pergi ke kantor. Siangnya ia teringat pada Lili, jadi ia pulang khusus hanya untuk makan siang dengannya.


Namun Lili tak bisa memasak, ia sudah terbiasa dilayani.


Melihat Sony memasak di dapur, Lili merasakan semacam kebahagiaan yang tak bisa ia ungkapkan.


Dia sudah tua dan belum pernah berpacaran, dia tak pernah tahu kalau hubungan pacaran itu seindah ini.


Iseng, dia mengambil ponselnya, lalu mengambil selfie dan menyimpannya.


“Disini asapnya lumayan besar, pergi dulu sana.”


Sony melirik Lili dengan sedikit memaksa.

__ADS_1


“Aku tak tak tahu kalau bisa memasak.”


“Saat belajar di luar negeri aku tak terbiasa dengan makanan ala barat. Tentu saja mau tak mau aku harus memasaknya sendiri. John dan Andy juga bisa memasak, sudah biasa.”


“Masakan mereka pasti tak mungkin lebih enak dari masakanmu.”


Lina dengan genit berdiri di belakangnya, memeluk pinggang Sony.


“Jangan berisik…… Ini dapur.”


“Apa salahnya dengan dapur? Di dapur juga tak masalah…… Ini namanya sentimen.” Lili berani sembarangan bicara.


Sony enggan tersenyum. Setelah mematikan kompor, ia langsung memutar dan menekan Lili ke tembok, lalu menghabiskan satu ronde sebelum makan.


Setelah puas makan, Lili dengan malas duduk di sofa dan nonton tv.


Setelah Sony bersih-bersih, ia mengambil jaketnya.


“Apa kau akan tinggal malam ini?” tanyanya.


“Belum tahu, sementara belum pasti, mungkin aku akan pergi.”


“Baiklah, kamu tidur siang dulu, tak usah membuat keributan. Beristirahatlah.”


“Kesini sebentar.” Lili menarik tangannya.

__ADS_1


“Ngapain?”


“Saat aku menyuruhmu datang, kau datang juga. Tak usah banyak omong kosong.” Emosi ratu Lili naik lagi menjadi agresif.


__ADS_2