Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 214 Terjadi Masalah Besar


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Waktu membuka pintu, aromanya menusuk ke hati.


Dia melihat nenek memakai baju kesukaannya jepitan berwarna hijau, menyisir dengan cara dulu, di belakangnya ada jepit rambut warna silver.


Hello! Im an artic!


Sedang menghangatkan diri di depan tungku api, edo juga memanjat ke karpet putih dengan malas, menikmati waktu itu.


Rika dan Ella sedang menyiapkan makan siang di dapur, kadang-kadang tercium wangi nasi, ada semacam rasa bahagia.


Gambaran yang dikenalnya, aroma yang dikenalnya, ini adalah saat yang paling disukainya di tahun-tahun ini.


“Linlin, bawaan tubuhmu dingin, jangan terlalu lama berdiri di luar, jangan main terus.” Nenek mengingatkannya dengan bawel.


Hello! Im an artic!


Lina menganggukan kepala, sepasang tangan menyangga pipi, sambil menghangatkan badan sambil serius mendengarkan.


Mendengar nenek bawel lagi, “Kamu ini, hidup di masa kini sangat saying, peramal pernah berkata, kalau hidup di masa lalu kamu ini pasti orang kaya raya, sekarang ini kamu belajar banyak hal, tetapi untuk apa, ntar kalau sudah menikah, melewati hidup melahirkan anak paling penting, juga harus mengubah tabiatmu, jangan terlalu angkuh, mertua tidak akan suka.”


“Saya tahu, nenek.” Dia menganggukkan kepala dengan nurut.

__ADS_1


Waktu seberkas cahaya pagi yang masuk dari jendela, Lina terbangun dari mimpinya.


Reaksi yang pertama adalah, nenek sudah meninggal, sudah tidak ada lagi.


Tetapi beberapa hari ini, bagaimana memikirkannya, nenek juga tidak bertemu dengannya dalam mimpi.


Kemarin setelah makan obat yang dikembangkan oleh Eric itu ― tidur terlelap, masih bisa mimpi indah.


Sampai saat terbagun, masih ada perasaan bahagia.


Ada hangatnya tungku api, ada suara nenek yang khas, dan ada saljut di Gunung Congcui.


Lina sudah terbengong setengah hari di ranjang, kemudian menangis tanpa suara.


“Nona, anda kenapa menangis? Mimpi buruk?”


Rika tahu kebiasaan nona, biasanya jem 6 pasti sudah bangun, 6.30 pasti sudah sarapan.


Tetapi hari ini tidur sampai 7.30, belum ada gerakan, Rika khawatir, sekali masuk, melihat Lina menangis.


“Saya tidak apa-apa, hanya memimpikan nenek.” Suaranya serak, berat.


“Nona, harus relakan, nenek juga pasti sangat sedih, baru melihat anda, ini hal yang baik, kita tidak boleh nangis.”

__ADS_1


Rika menuntun Lina bangun, berganti pakaian, turun sarapan.


“Nona, apa obat itu bagus?” Ella masih mengingat masalah obat ini, karena dia dan Rika juga mau coba-coba.


Lina memegang gelas the, meminum the dengan pelan.


Setelah makan setengah, baru berkata, “Lumayan.”


Bisa mendapat satu kata ok dari Lina, kata ini sangat tinggi, kalau Eric tahu hal ini pasti akan sangat senang.


Sebenarnya, setelah obat Eric masuk pasar, benar-benar sangat menguntungkan, katanya minggu pertama bisa menghasilkan mendekati rmb 9 ribu, ini yang dimaksud kesempatan besar.


Hampir membuat seluruh masyarakat melepaskan kepenatannya, pegawai yang penuh tekanan pekerjaan, orang IT, semuanya pun memuji obat ini, katanya setelah makan obat ini tidak hanya bisa bermimpi indah, juga bisa tidur nyenyak, ini obat yang tidak bisa digantikan oleh obat biasa.


Seperti kata pepatah, jika terkenal sekali maka akan mendatangkan celaka, ini seperti sebuah hukum yang tidak pernah dibuat.


Eric begini banyak menghasilkan uang, tentu saja ada orang yang iri, sesama bagian, saingan juga, pasti tidak mau dia menjadi pusat perhatian.


Maka pada minggu ke 3 penjualan obat ini, terjadi masalah.


Dikatakan ada yang meninggal setelah makan obat ini, keluarga yang meninggal menaruh peti matinya di depan pintu perusahan Eric, menarik kain putih —- pedagang gelap yang tidak berperikemanusiaan, siapa yang bisa mengembalikan orang tercinta saya.


Waktu sekertari Eric memberitahukan hal ini, dia langsung menjawab, “Tidak mungkin, obat saya dengan makanan sama sehatnya, bagaimana bisa membuat orang mati?”

__ADS_1


__ADS_2