
Hello! Im an artic!
Hari ini pakaian Lina lebih biasa lagi, hanya memakai mantel sweater yang berwarna kopi, dalamnya kemeja hitam dengan leher bungkus.
Rambut panjang yang diurai, memakai sebuah topi baret warna hitam, menyenangkan dan lucu, dibandingkan biasanya lebih seperti orang umumnya.
Hello! Im an artic!
“Lina, maaf, dulu aku yang tidak melihat dengan jelas, salah paham padamu, aku mengira kamu adalah simpanan Eric….sekarang baru tahu ternyata kamu….?”
Freddie tidak pergi karena sikap Lina yang dingin, malah meminta maaf dengan tulus.
“Cukup, jika kamu datang hanya untuk membongkar identitasku, maka aku malah berharap kamu bisa cepat menghilang.”
“Aku tidak ada, hanya saja kemarin aku baru tahu kebenarannya, merasa sangat bersalah, dulu aku yang tidak sopan, aku minta maaf sedalam-dalamnya, nantinya….aku pasti tidak akan mengganggumu, aku tahu dengan latar belakangku ini, bahkan untuk berteman saja tidak pantas, aku juga tidak berani mengharapkannya, aku hanya…sebatas kagum dengan moralmu dan gayamu melakukan sesuatu yang sangat rendah hati.”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
“Tidak perlu kamu kagumi.”
“Pokoknya….aku juga sudah melepaskan beban di hati, sudah bisa menghadapi diri sendiri, kembali untuk kuliah, dihajar olehmu tidaklah memalukan, aku punya mata tapi tidak bisa mengenali orang dengan status dan kemampuan yang tinggi.”
Selesai bicara, Freddie, menghadap ke arah Lina dan membungkukkan badan, setelah mengungkapkan permintaan maaf yang paling tulus, membalikkan badan dan pergi, tidak mengganggu lagi.
Banyak teman di perpustakaan yang melihatnya sampai terperangah, dalam hati berpikir, wah….setelah dipukul orang, masih meminta maaf, tindakan seperti ini sungguh…. hebat sekali.
Setelah Freddie pergi, Jessica bertanya dengan suara rendah, “Lina, tadi kamu keren sekali, pria tampan seperti Freddie, juga kamu semprot sampai tidak ada kata-kata untuk membalas.
“Sungguh iri denganmu, ha, aku katakan sesuatu tapi kamu jangan menertawaiku ya, aku juga fans fanatik Freddie.” Selesai bicara wajah Jessica juga memerah.
Lina melihatnya seperti gadis muda yang kasmaran, juga tidak berdaya menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Benar benar, saat itu aku baru datang ke kampus, sudah dengar kalau dia adalah pria tertampan dan terpintar, masih sangat tertarik dengan namanya. Kemudian mendengar kalau namanya Freddie, nama ini juga sangat hebat dan angkuh. Permainan basket Freddie sangat bagus, dulu aku juga suka diam-diam pergi melihatnya, masih mengkhayal diri sendiri suatu hari ada kesempatan untuk memberinya air minum.”
“Kalau suka ya pergi kejar saja.” Lina tidak merasa begitu.
Seketika Jessica merasa malu, “Kamu jangan bercanda lagi, orang seperti aku, mengejar dia, bukankah namanya tidak tahu diri, tampangku sangat jelek, keluarga juga miskin, bagaimana bisa masuk dalam pandangannya. Tapi tadi melihat sikapnya padamu, aku juga menyadarinya, hal dunia ini sangat menarik. Yang orang lain impikan kamu malah menganggapnya sesuatu yang tidak berarti, alangkah bagusnya jika aku adalah kamu, pasti akan pergi mengungkapkan perasaan sendiri, tidak benar, jika aku adalah kamu, Freddie dengan sendirinya menyatakan cinta padaku, ha ha.”
Jessica sudah menganggap Lina sebagai teman yang bisa di ajak berbagi perasaan di hatinya, dia merasa Lina, bisa menghargainya.
Jadi baru menceritakan khayalan tentang munculnya pria yang bisa mencintai dan menyayangi sendiri.
“Jessica, di dunia ini sebenarnya tidak ada masalah, yang tidak mungkin, hanya melihat apakah kamu ingin atau tidak, jika kamu ingin mengejar Freddie, aku bisa membantumu.”
Lina mengatakannya dengan serius, Jessica malah menutup wajahnya sendiri mengatakan, “Sudahlah, aku hanya berkhayal saja, kamu masih menganggapnya serius, aku mana berani, meski aku jelek, tapi juga tahu diri, tidak ingin menjadi wanita yang membuat pria yang disukai begitu melihatnya langsung merasa jijik, aku cukup melihatnya dari jauh saja.”
Lina mengangkat sudut bibirnya, tidak berbicara lebih banyak lagi.
__ADS_1
Mengenai Freddie orang ini, dia tidak ingin berkomentar lebih banyak, menurut dia, tidak peduli dendam seperti apa, sudah berlalu juga.
Saat makan siang, Ella menelpon kalau Lika demam lagi, Lina bergegas naik taksi ke rumah sakit.