
Hello! Im an artic!
Terhadap orang seperti ini, Lina bagaimana enak untuk terus membongkarnya terus? Terpaksa dengan bodoh mengikutinya terus.
Lalu denga tertawa Lina menjawab, “Baik, paman Wu, akan saya ingat ucapanmu ini, saya sangat menantikan waktu kamu mengenalkan ss kepada saya.”
Hello! Im an artic!
Sampai naik ke mobil, Lina masih tersenyum, seperti suasana hatinya bagus, waktu dia tertawa tidak sama seperti wanita lain.
Sejak dulu dia tidak pernah tertawa, waktu paling gembira, juga hanya membuat lengkungan di sudut mulutnya, sudah sangat cantik, makanya tidak perlu tertawa, karena melihat suasana hatinya bagus, lalu sengaja menggodanya.
“Masalah apa begini gembira?”
“Tidak apa-apa.”
Hello! Im an artic!
“Linlin aku merasa kamu tahu sangat banyak hal, kamu kasih tahu aku, kamu ada keahlian yang lain? Yang aku tidak tahu, yang belum aku lihat.”
John baru saja mengenal dia, sudah melihat dia bermain piano, zither, menggambar, mengidentifikasi barang antik, menyulam, merangkai bunga dan juga membenci orang.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak tahu ada keahlian berharga apa lagi di nona muda kecil ini, bagaimanapun tiap kali, akan membuatnya terkejut.
Padahal baru umur 22 tahun, muka yang muda penuh dengan kolagen, tetapi saat berbicara dan melakukan sesuatu sangat dewasa, apalagi saat sedang mengidentifikasi barang antic, seperti maha guru.
Tidak heran Eric lelaki itu menyesal, seperti koyo menempel ke sini, dia merasa sendiri juga sedikit demi sedikit terjerumus.
“Tidak ada, ini cuman hobi saja, suka meneliti saja, bukan spesialis, kamu jangan meninggikanku.”
Lina tidak berharap orang lain mengetahui seberapa banyak kemampuannya? Prinsipnya menjadi orang adalah low profile.
John melihat dia tidak mau ngomong, juga tidak bertanya lagi.
Waktu pulang, Lina mencopot sepatunya lalu memberi kembali ke John.
“Kembalikan ke kamu, sepatu ini sangat mahal, aku tidak mau.” Lina sudah menceknya, sepasang sepatu 80 ribu, benar-benar tidak murah.
“Kamu cukup ya, mau mempermalukanku? Di Keluarga Jiang mana kekurangan sepasang sepatu 80 ribu, untuk kamu saja, lain kali kalau mau pakai bisa pakai, kalau di kesempatan lain ada melihat yang bagus, kalau aku lihat cocok, pasti akan membelikanmu, beli beberapa pasang.”
John tulus, setelah mendengarnya Lina ada sedikit…… perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Pokoknya John tidak mau, terakhir Lina juga tidak memaksa lagi, langsung melemparnya ke rak sepatu lagi.
__ADS_1
Obat Eric baru minggu pertama mulai penjualan, bukan eceran, hanya bisa dibeli dari apotik dan pasar obat, rumah sakit besar masih dalam pengawasan, masih belum menggunakannya.
Dari awal Lina tidak menganggapnya, karena sejujurnya juga memandang rendah Eric, tidak beranggapan dia bisa mengembangkan barang bagus.
Tetapi bertambah berkat dari mulut ke mulut, sambutannya sangat bagus, penjualannya sangat mengejutkan.
Lina juga sudah tak tertahan, lalu menyuruh Rika membelikannya 1 botol kecil.
Setelah pulang membeli obat Lina, tidak langsung buru-buru memakainya, tetapi membuat analisa terlebih dahulu, memastikan tidak ada racun, baru dia makan.
Setelah meminum cairan warna biru, di dalam mulut ada rasa dingin-dingin, rasanya manis, wangi aromatic, memang enak.
Malam itu Lina sama seperti biasanya tidur, membuat mimpi seperti ini.
Gunung Congcui yang ditutupi salju putih tebal, satu bagian berwarna silver, Lina menggunakan kerudung merah, memakai payung, menari di tengah salju.
Menyenandungkan lagu kesukaannya.
“Linlin, sangat dingin, masuk ke dalam rumah sini.”
Lina mendengarkan suara yang dikenalnya, langsung menoleh ke belakang, dia terkejut melihat muka nenek yang begitu baik.
__ADS_1
Dia langsung menyimpan payungnya, dengan gembira berlari ke arah rumah.