
Bocah kecil ini berkata dengan muka tanpa salah, “Gini saja kamu gak ngerti? Bantu comblangin kamu lah.”
Eric gak bisa menahan tawanya.
“aku pikir kamu sekarang sudah jadi bocah nakal ya, baru umur berapa? Mau comblangin aku? Pamanmu sudah gak laku kah? Butuh seorang bocah kecil untuk comblangin.”
Katie mengambil permen dari mobil kemudian memakannya, sambil berkata, “Aku juga demi kebahagian kamu, semalam aku sudah memikirkannya dengan baik-baik, dari semua guru, Guru Dong adalah pilihan terbaik, dia cantik dan juga lemah lembut, kamu harus mendengarkan saran aku.”
“Shhh.. diam.” Eric tertawa sambil memarahinya, kemudian dia menjalankan mobilnya ke arah pasar malam.
Sekarang mereka berteman di di wechat, Guru Dong hanya mengirimkan satu emoticon senyum
Eric dengan sopan juga membalas dengan emoticon yang sama.
Dia tidak terlalu memperhatikan Guru Dong, karena hatinya tidak di sana.
Ketika mereka sedang bermain, Katie masih mengoceh, “kamu bukannya jago tentang cewek? Chat lah ke Guru Dong, ajak dia keluar.”
“Kamu jangan ngatur-ngatur aku, aku bilangin ya, aku gak suka guru tadi.”
“Kalau gitu kamu suka siapa? Cecil Liang?”
“Kok kamu bisa tahu? ” Eric sedikit terkejut dengan keponakannya ini, baru umur berapa, tapi bisa tahu semua hal, bahkan mantannya yang putus 1 bulan lalu juga dia tahu.
“Aku melihat beritamu di laptop, cewek itu gak cocok untukmu.”
__ADS_1
“Cukup ya, kamu bocah kecil, gak boleh ngatur terlalu banyak.”
“Nenek bilang kalau aku bisa sukses memperkenalkan pacar ke paman, dia akan membawa aku ke Disneyland, aku juga malas mengurusmu.” Katie mengatakannya dengan sedikit tidak senang.
Setelah mendengar, dia baru sadar, ternyata ada udang di balik batu toh?
Pantesan saja, bocah ini begitu semangat mau mencomblanginnya.
“Haha, bocah nakal, ternyata kamu punya perjanjian sendiri dengan nenekmu ya?”
“Kenapa gak boleh? Aku juga demi kebaikanmu, kalau gak bantu kamu cari, nanti jomblo terus loh.” Katie lanjut bermain.
Eric tidak bermaksud untuk untuk memberitahunya, apalagi dia masih kecil.
Lina bisa ke sini juga karena kebetulan.
Dia sedang ngopi dengan Lili, mendengarnya mengeluh tentang Sony.
Setelah selesai, dia pergi mencari makanan dan mainan buat Edo kucingnya.
Dia gak menyangka akan melihat Eric membawa anak kecil sedang bermain juga di sini.
Kedua mata saling menatap, Eric bisa merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.
Dia mengira ini hanya halusinasi.
__ADS_1
Lina memakai gaun putih yang bercorak bunga-bunga merah.
Ada syal yang terlingkar di lehernya, sangat cantik.
“Non, itu seperti…… Eric.” Rika dengan suara pelan memberitahu ke Lina.
Lina juga melihatnya, dan ketika dia berniat untuk pergi.
“Lina.” Terdengar suara panggilan dari Eric.
Kemudian dia berlari ke arah Lina, Katie juga mengikutinya dari belakang.
“Lina, ternyata benaran kamu? Aku kira salah lihat.” Eric terlihat sangat senang.
Katie menatap pamannya, kemudian dia melihat mata paman yang bersinar menatap wanita ini, benaran seperti…….
“Iya.” Lina menjawab dengan muka dinginnya.
“Kamu….lagi main ke sini?” dia sengaja mencari topik.
“Datang beli barang, ini sudah selesai.” Lina gak menyukai Eric, jadi dia juga gak mau berbicara dengannya.
Eric ingin menahannya, tapi dia juga gak tahu mau cari topik apa, hanya bisa bengong melihat Lina berjalan menjauh dari pandangannya.
“Paman, jangan lihat lagi, nanti bola matanya keluar.” Katie bercandain pamannya.
__ADS_1