
Sarrah mencoba untuk menenangkan pikiran nya, dan memejamkan mata nya dan berpikir positif ini hanya halusinasi saja.
Sarrah pun mencoba membuka pintu kamar nya tersebut yang tiba-tiba tertutup rapat seperti tertiup angin kencang.
Sarrah mencoba membalikkan badannya ke belakang dia seperti melihat wajah pucat yang menyurupai Kimora yang sedang duduk di tempat tidur tersebut.
Sarrah langsung memaksakan diri untuk keluar dari kamar tersebut, dan membuka kembali pintu kamar tersebut tetapi tidak ada apa-apa di tempat tidur tersebut.
"Yaa Tuhan, kenapa wajah nya seperti Kimora dan terlihat seperti sangat sedih sekali wajahnya, apa ini maksud."
Sarrah langsung berlari masuk ke dalam kamar nya dan langsung mengunci nya.
"Nggak mungkin itu bukan halusinasi itu benar-benar terjadi dan itu seperti pertanda kesedihan."
Sarrah langsung memilih untuk pergi ke Apartemen milik nya, karena dia semakin ketakutan diam di rumah tersebut.
__ADS_1
Sarrah memasukkan beberapa barang-barang dan pakaian nya.
"Lebih baik aku pergi sementara saja dari rumah ini untuk 1-2 hari saja."
Sarrah langsung pergi dari rumah tersebut untuk menuju ke Apartemen miliknya.
Sarrah mengendarai mobil nya sendiri, dia tidak ingin Genzy mengetahui nya jika dia pergi ke Apartemen nya.
"Arwah Ayana tidak akan tenang aku sangat yakin jika Genzy terus-menerus seperti ini. Mungkin tadi adalah menggambarkan Ayana yang sedang sedih tapi kenapa wajah nya mirip sekali Kimora."
Sarrah langsung duduk di tempat tidur nya, dia terus membayangkan bayang-bayang tersebut.
"Kenapa di saat Kimora pergi dari rumah ini, jadi horor sekali tidak sekali dua kali aku melihat bayang-bayang Ayana, hal-hal yang tidak masuk akal terjadi di rumah itu."
Sarrah langsung mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan dari Alena.
__ADS_1
"Aku mencurigai Dokter Alena, dia seperti menyembunyikan sesuatu dan mengetahui sesuatu hal yang terjadi selama ini, seperti nya aku harus banyak bercerita dengan Dokter Alena."
Sarrah langsung mengingat kembali kejadian di saat hari pemakaman Ayana yang memakai peti mati berwarna putih.
Dengan Alasan Genzy ingin yang terbaik untuk Ayana. Sarrah merasa tidak melihat wajah yang terakhir kali nya karena Genzy tidak mengijinkan nya.
"Yaa Tuhan kenapa pikiran ku tidak wajar begini, kenapa aku berpikiran peti mati itu kosong. Astaga itu tidak mungkin terjadi aku harus berpikir normal. Genzy seperti ini karena dia yang sangat mencintai Ayana tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak masuk akal."
Sarrah langsung membaringkan tubuhnya dia bersender di kasur nya, dia mencoba menengkan perasaan hati nya dengan berpikiran negatif dengan putra nya tersebut.
"Oke Sarrah lebih baik sekarang kamu tidur istirahat dengan nyenyak, nonaktifkan handphone berpikir terus positif dan positif."
Sarrah mencoba memejamkan mata nya secara perlahan, tapi di saat dia memejamkan mata nya dia seperti melihat bayang-bayang kembali yang melambaikan tangan seperti meminta tolong di suatu tempat.
Sarrah langsung terkejut dan membuka kembali matanya, dia masih tidak menyangka bayangan-bayangan yang mengikuti nya saja.
__ADS_1
"Akuuu mohon, pergi dari pikiran kuuu. Aku sangat lelah sekali aku ingin beristirahat di sini. Tolonglah pergi dari pikiran ku ini."