Suamiku Misterius

Suamiku Misterius
Episode *363*


__ADS_3

Alena dengan penuh perasaan bahagia dia sampai di depan Apartemen nya, dia menekan tombol bell yang ada di hadapan nya.


Alena terus saja tersenyum walau kaki nya yang di perban oleh Dokter Rian.


Riana langsung membuka pintu Apartemen nya, dan Alena pun langsung tersenyum sambil memeluk erat tubuh Mama nya.


Riana merasa sangat terkejut sekali ketika melihat Alena yang tidak pulang semalaman dan pulang dengan keadaan yang sangat senang sekali.


Riana pun langsung berpikiran negatif terhadap Alena, dia melepaskan pelukan erat dari Alena.


"Ada apa Alena dengan kamu,? kenapa tiba-tiba saja kamu seperti ini. Apa yang sudah kamu lakukan Alena?,"


Riana begitu sangat mencurigakan sekali Alena.


"Aku sangat bahagia sekali Mam, akhirnya aku bisa menikah dengan Genzy. Kita akan menikah secepatnya, minggu depan aku akan menikah dengan nya."


Riana mereka sangat tidak percaya dengan apa yang Alena katakan.


"Alenaaaaa,? kamu tidak menyakiti Dokter Kimora kembali kan. Apa yang membuat kamu bisa menikah dengan Genzy sedangkan dia sangat membenci kamu sekali Alenaaaaa."


Alena menunjukkan luka yang ada di kaki nya.


"Lihat Mam, aku yang terluka dan ini sangat sakit sekali. Aku tidak melukai fisik Kimora atau Putri Kimora merasa sehat semua nya."


Riana masih tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Alena kenapa Genzy bisa mau menikah dengan Genzy.


"Alena percuma pernikahan tidak di dasari oleh cinta, yang hanya karena sebuah paksaan semata itu sangat tidak baik Alena."


Alena menghampiri Mama nya dia tersenyum.


"Ketika aku sudah menikah dengan Genzy, aku akan memiliki keturunan dari nya. Lihat saja itu adalah tanda jika pernikahan kita dengan cinta."


Alena memilih untuk pergi ke kamar nya dan pun harus membersihkan badan nya.


Ketika Alena masuk ke dalam kamar nya tiba-tiba saja lampu kamar nya padam.


Alena membuka pintu kamar dan melihat jika ruangan yang lain menyala.

__ADS_1


"Kenapa hanya kamar ku saja yang padam lampu nya yaa."


Ketika Alena mencoba untuk mengambil handphone nya, lampu pun menyala kembali.


"Astagaaaa, membuat aku ketakutan sekali."


Alena pun merasa jika kaki yang terluka tiba-tiba saja tidak terasa sakit.


"Kaki kuu apakah sudah sembuh tadi pun ketika di obati oleh Dokter Rian tidak luka sedikitpun di bagian mana pun."


Alena pun langsung membuka perban tersebut dia masuk ke dalam kamar mandi nya, dia mencoba untuk membersihkan rambut nya tapi dia melihat air yang mengalir di bawah nya bercampur dengan darah.


Alena seketika langsung terkejut melihat nya, dia langsung mengangkat kaki nya yang terluka.


"Tidak ada sobekan luka sedikit pun tapi kenapa, darah itu seperti mengalir dari kaki kuu ini."


Alena memilih untuk menyelesaikan mandi nya dia pun mulai untuk bercermin untuk membersihkan wajah nya.


Alena mencoba untuk membersihkan wajah nya, ketika dia hendak membilas wajah nya dia seperti melihat ada seorang di belakang nya.


Alena membalikkan badan nya tapi ternyata tidak ada siapapun di belakang nya.


Alena mencoba untuk langsung pergi dari kamar mandi nya tersebut dia langsung menuju ke tempat tidur nya dan bersiap untuk beristirahat.


Ketika Alena hendak mengambil selimut dia seperti melihat ada seorang di luar jendela kamar nya.


Alena pun memilih untuk memadamkan lampu kamar nya, tapi ternyata ketika lampu kamar nya padam terlihat sangat jelas sekali ada sosok wanita di depan jendela kamar.


Bayangan sosok wanita tersebut sangat jelas sekali dan membuat Alena langsung terbangun dari tidur nya dan memilih untuk menyalakan lampu kamar.


"Ahhhhhhhh, aku sangat bergetar sekali melihat nya. Apakah itu adalah Ayana Larasati dia datang untuk menghantui kuu, seperti nya dia sangat marah sekali dengan kuu karena kedua kaki yang terbakar."


Alena mencoba untuk menenangkan pikiran nya dia memilih untuk keluar dari kamar nya, menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih.


Alena pun duduk di dapur nya dia merasa tidak berani untuk masuk kembali ke dalam kamar nya.


"Alenaaaaa kamu harus berani kamu harus bisa melawan rasa takut muu ini, ingat yaa Alena impian kamu sudah di depan mata kamu jangan sia-sia kesempatan ini semua."

__ADS_1


Alena terus saja meminum air putih di dapur dan membuat Kania terbangun dari tidur nya.


Riana menghampiri Alena di dapur dan duduk di meja makan.


Alena terdiam ketika melihat Mama nya menghampiri nya.


"Alena bicara dengan Mama semua yang sebenarnya terjadi, bagaimana awal cerita nya kamu bisa menikah dengan Genzy dan apakah Dokter Kimora sudah mengetahui ini semua nya."


Riana mencoba untuk berbicara secara perlahan kepada Alena karena dia begitu sangat ingin tahu yang sebenarnya.


"Genzy mungkin baru menyadari jika aku adalah wanita terbaik untuk nya dan akhirnya dia mau menikah dengan kuu."


Alena tetap saja tidak bercerita kepada Mama nya dan itu membuat Riana sangat kesal sekali.


"Tapi tidak percaya dengan perkataan kamu itu Nak, kamu menyimpan sebuah kebohongan besar dan Mama merasakan nya."


Alena tidak tahu harus mengatakan apa yang bisa membuat Mama nya itu percaya kepada dirinya.


"Aku akan meminta Genzy untuk datang ke Apartemen kita besok, untuk membicarakan tentang rencana pernikahan kita berdua dengan Mama. Setelah itu Mama pasti percaya dengan apa yang aku katakan ini."


Alena memilih untuk beranjak dari tempat duduk nya dia ingin kembali ke dalam kamar nya.


"Lalu bagaimana dengan Dokter Kimora apakah dia pun setuju dan juga bagaimana juga dengan Putri Kimora mau kah dia menerima kehadiran kamu sebagai Ibu sambung nya."


Alena yang hendak pergi memilih untuk kembali menghampiri Mama nya.


"Putri Kimora dari sejak bayi sudah aku urus dia saat Kimora despresi, dan aku sangat yakin sekali Putri Kimora pasti akan lebih memilih aku dari pada Kimora ibu kandung nya."


Alena begitu sangat percaya diri sekali jika dia bisa mengambil hati Putri Kimora, dan dia pun merasa jika itu terjadi Genzy tidak pernah mau meninggalkan nya.


"Jangan terlalu berhalusinasi seperti itu Alena, ingat kamu baru saja sembuh dari despresi berat kamu jangan sampai kamu kembali despresi karena halusinasi mu yang terlalu berlebih-lebihan seperti ini."


Riana memilih untuk meninggalkan Alena dia kembali ke dalam kamar nya.


Alena merasa sangat ragu sekali ketika dirinya mau masuk ke dalam kamar nya.


"Lebih baik aku tidur di ruang tamu saja tidur di sofa, aku tidak mau melihat sosok wanita bergaun merah tersebut."

__ADS_1


Alena pun memilih untuk tidur di sofa dari pada di kamar nya.


__ADS_2