
Ketika Kimora pergi ke dalam untuk menemui Putri Kimora, Alena berniat untuk mendatangi Alena dia ingin membalas dendam nya kepada Alena dengan apa yang sudah di lakukan Alena terhadap Kimora.
"Kamu mau pergi ke mana,? untuk menemui Alena. Untuk membalas dendam kepada nya itu hanya membuang-buang waktu muu saja Suster Diana, masuk dan temani Kimora karena Putri Kimora pasti sedang banyak bertanya kepada Kimora."
Dokter Rian keluar dari Apartemen tersebut dan menutup kembali pintu nya dengan rapat.
Suster Diana langsung mengunci pintu tersebut dan berjalan menuju ke kamar Putri Kimora.
Terlihat Kimora yang sedang mencium kening Kimora sambil tersenyum.
Putri Kimora yang sedang tertidur pulas langsung terbangun ketika melihat kehadiran Ibu nya di samping nya.
"Ibuuuuuuu, aku kangen sekali ibuuu. Kenapa rambut panjang ibu menjadi pendek dan kenapa tangan ibu di perban. Ibu kenapaaaaa ibu terluka yaa siapa yang melindungi Ibu."
Putri Kimora berkaca-kaca dia terlihat sangat hawatir sekali terhadap Ibu nya.
Suster Diana pun langsung masuk ke dalam kamar untuk membantu menjawab kepanikan Putri Kimora.
"Rambut panjang ibu Kimora di gunting agar Ibu Kimora lebih nyaman dengan rambut pendek nya, dan luka yang ada di tangan itu kecelakaan saat di rumah sakit."
Putri Kimora merasa tidak percaya dengan perkataan Suster Diana, dia merasa Suster Diana telah membohongi nya.
Tatapan mata Putri Kimora langsung terfokus pada luka yang ada di tangan Ibu nya.
Dan tiba-tiba saja sosok perempuan yang terlihat terluka di bagian perut nya dengan darah segar yang terus mengalir dari perut nya membuat Putri Kimora ketakutan.
Dia melihat perempuan tersebut dengan memegang gunting yang sama dengan yang Putri Kimora temukan di belakang rumah tersebut.
"Ibu terluka karena gunting itu yaaa, Ibu jangan pernah memainkan gunting tersebut. Itu gunting pembunuhan buuu jangan memegang nya lagi."
Ucapan Putri Kimora langsung membuat Suster Diana dan Kimora merasa merinding kerena sosok perempuan tersebut berada di belakang nya.
Suster Diana merasa sangat tidak nyaman sekali, dia memegang pundak nya sampai tidak kuat untuk berdiri.
Mata Suster Diana terpejam menahan rasa yang luar biasa membuat nya menjadi lemah.
"Putri Kimora, apa maksud kamu dengan mengatakan pembunuhan sayaaaaang. Siapa yang membunuh nya."
__ADS_1
Kimora mulai mengingat perkataan dari Dokter Rian tentang Putri Kimora yang menemukan gunting misterius di belakang rumah Genzy yang dulu.
Putri Kimora seperti tidak bisa menjelaskan nya, dan sosok perempuan tersebut menghilang begitu saja.
"Aku tidak tahu buuuuuu, aku rasa gunting tersebut sangat bahaya sekali. Ibu harus berhati-hati jangan sampai Ibu menyetuh gunting tersebut."
Kimora memeluk erat Putri Kimora dia merasa itu adalah sebuah firasat anak untuk Ibu nya.
"Maaafkan ibu yang tidak berhati-hati gunting tersebut, dan ibu ingin sekali mengucapkan selamat ulang tahun Putri Kimora anak ibu yang pintar dan cantik."
Kimora merasa sangat Sedih sekali ketika terlambat untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk Putri Kimora.
"Buuu, malam ini aku ingin tidur bersama dengan Ibu dan Suster Diana. Aku berada di tengah-tengah karena malam ini aku pasti mimpi buruk sekali."
Suster Diana dan Kimora pun tersenyum manis dan mereka pun mengikuti apa yang di katakan oleh Putri Kimora.
Untuk bisa tidur bersama-sama di satu tempat tidur.
Putri Kimora mencoba untuk memejamkan mata nya dia merasa sangat nyaman sekali ketika dia berada di tengah perempuan yang dia sayangi.
"Seperti nya aku tidak akan bermimpi buruk malam ini, karena aku di lindungi oleh Ibu dan Suster Diana."
Alena keluar dari kamar nya, dia melihat Mama nya yang sudah tertidur pulas.
"Seperti nya Mama sedang tertidur pulas sekali, aku harus pelan-pelan agar Mama tidak terbangun dari tidurnya."
Alena memakai switer dan memakai masker dan kacamata hitam.
Alena berhasil keluar dari Apartemen nya, dia pun menuju lantai dasar untuk bisa mengendarai mobil nya.
Alena menuju ke rumah Genzy yang dulu, dia berhenti di depan gerbang rumah tersebut.
"Ahhhhhh, kenapa sudah semalam ini tapi masih saja banyak penjagaan yang ketat. Bagaimana aku bisa masuk ke dalam rumah itu."
Alena hanya bisa terdiam saja dia tidak mungkin keluar dari mobil nya.
"Apakah aku harus mencoba untuk turun dari mobil ini, lalu aku meminta untuk masuk ke dalam. Apakah mereka mau mempersilahkan aku untuk masuk."
__ADS_1
Alena keluar dari mobil dia menghampiri gerbang rumah tersebut dan langsung saja para penjaga rumah tersebut menghampiri Alena.
"Ada perlu apa malam begini anda berada di depan rumah ini,?"
Alena tidak bisa berkata-kata dia hanya terdiam saja.
"Sebaiknya anda pergi dari rumah ini, jika tidak saya akan melaporkan Anda kepada Tuan Genzy."
Alena pun langsung mundur dia akhirnya kembali masuk ke dalam mobil nya.
"Bagaimana yaa, rumah itu seperti nya kosong hanya ada penjaga saja, Genzy melakukan ini untuk apa yaa untuk menjaga siapa hmmmmm apa mungkin hanya untuk menjaga jasad Ayana saja."
Alena menggelengkan kepalanya berkali-kali dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran Genzy.
"Hanya karena sebuah mayat dia sampai melakukan semua ini, apa mungkin mayat itu bisa hidup kembali ketika sedang bersama dengan Genzy."
Alena akhirnya masuk kembali ke dalam rumah nya.
"Sekarang aku sudah tidak punya siapa pun, mereka semua benci kepada kuuuu. Karena kelakuan kuu terhadap Kimora padahal aku ingin sekali membawa Putri Kimora untuk bisa masuk ke dalam rumah itu."
Ketika Alena hendak pergi dia melihat mobil Genzy yang datang.
"Itu Genzy kan, semalaman ini untuk apa dia pergi ke rumah itu."
Alena terus saja memperhatikan Genzy, dia melihat Genzy membawa banyak sekali bunga mawar putih.
"Untuk apa Genzy membeli bunga mawar putih sebanyak itu, untuk apaaa aneh sekali."
Alena terus memperhatikan Genzy yang memasukkan mobil sampai di belakang rumah.
Seketika Alena pun langsung mengerti apa maksud dari bunga-bunga mawar putih tersebut.
"Seperti nya bunga mawar putih tersebut untuk mayat itu, Astagaaaa sebenarnya siapa diantara kita yang despresi aku rasa dia. Apa yang dia lakukan tidak normal sekali untuk apa bunga-bunga mawar putih yang masih segar itu."
Alena semakin penasaran sekali dia terus saja berpikir bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah itu.
"Aku harus menunggu mereka lengah, tidak mungkin kan mereka semua berdiri di depan gerbang selama 24 jam. Pasti mereka ada waktu istirahat nya."
__ADS_1
Alena dengan sabar nya menunggu mereka lengah baru dia bisa masuk ke dalam.