
Putri Kimora pun mulai memberanikan diri nya untuk berkata dengan Suster Diana.
"Suster Diana, aku ingin mandi bersama dengan Suster Diana saja yaa. Aku takut dengan hantu ibu-ibu yang perut nya terluka mungkin karena sebuah gunting."
Suster Diana menghampiri Putri Kimora dia merasa sangat kasihan sekali dengan Putri Kimora.
"Sayaaaaang, kamu melihat seorang ibu yang terluka di bagian perut nya itu masih di rumah itu dan dia menuju ke mana?."
Suster Diana merasa sangat penasaran sekali dia ingin sekali mengetahui semuanya.
"Iyaaa masih di rumah itu Suster Diana tapi dia hanya ada di lingkungan luar saja sedangkan yang bergaun putih seperti pengantin dia itu juga selalu ada di depan jendela kamar dengan pandangan mata yang kosong dia melihat pemandangan dari atas jendela itu."
Putri Kimora menceritakan nya dengan tenang sekali ketika menceritakan sosok hantu Ayana sedang dengan hantu seorang ibu Putri Kimora masih sangat takut sekali karena dengan banyak nya darah-darah di sekitar nya.
"Yasudah yaa sayaaaaang ayo kita mandi sekarang, kita mandi bersama dengan Suster Diana agar lebih cepat yaa."
Ketika Putri Kimora dan Suster Diana pergi untuk mandi.
Kimora yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit dia melihat gunting yang terjatuh di lantai.
Kimora langsung mengambil gunting tersebut dan menyimpan nya di tempat yang aman.
"Bahaya sekali jika Putri Kimora melihat nya dia bisa bermain-main dengan gunting yang sangat tajam ini."
Kimora yang merasa sudah sangat siang untuk pergi ke Rumah Sakit, menghampiri Putri Kimora dan Suster Diana yang sedang asik mandi bersama.
"Putri Kimora sayaaaaang, ibu pergi ke Rumah Sakit yaaa. Ibu harus pergi langsung yaa takut telat soalnya."
Putri Kimora yang mendengar suara Ibu nya dia berteriak kencang sekali dari dalam kamar mandi.
"Iyaaaaaaaaaaaa buuuuuu, hati-hati pergi ke Rumah Sakit nya yaa. Aku masih asik nih main air dengan Suster Diana."
Kimora pun langsung pergi terburu-buru sekali menuju ke mobil nya.
Putri Kimora dan Suster Diana selesai mandi mereka berdua langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah Putri Kimora.
__ADS_1
Setelah selesai memainkan baju seragam sekolah, Suster Diana sedang memakai make-up nya di dalam kamar nya.
Putri Kimora lebih memilih untuk menunggu Suster Diana di sofa ruang tamu.
Ketika Putri Kimora berjalan menuju ke ruangan tamu, lagi-lagi gunting besar tersebut ada di hadapan Putri Kimora.
Putri Kimora merasa sangat kesal sekali ketika harus selalu melihat gunting besar tersebut di hadapan nya.
Putri Kimora memilih untuk menendang gunting besar tersebut dengan kaki nya.
Dan gunting besar tersebut tiba-tiba ada di depan kaki Suster Diana.
Suster Diana merasa sangat terkejut sekali melihat gunting besar tersebut.
Ketika Suster Diana mau mengambil gunting besar tersebut, Putri Kimora langsung menghampiri Suster Diana.
"Buang saja gunting besar ini aku tidak suka dia sangat menggangu kuuu."
Suster Diana mengambil sebuah plastik dan memasukkan ke dalam plastik tersebut.
"Baiklah akan Suster Diana buang nanti yaa, sekarang ayo kita berangkat ke sekolah sudah sangat siang sekali."
Suster Diana memikirkan bagaimana cara membuang gunting tersebut, karena menurut dia ingin mungkin bukan gunting sembarangan karena dia tidak pernah mempunyai gunting se besar dan setajam begini.
"Suster Diana aku jadi ingin kembali ke rumah itu deh Suster Diana, aku seperti ada yang mengajak aku untuk bermain-main di dalam rumah besar tersebut."
Seketika Suster Diana merasa sangat merinding sekali ketika Putri Kimora ingin bisa masuk ke dalam rumah misterius tersebut.
"Untuk apa kamu ingin masuk ke dalam rumah menyeramkan itu, coba lihat semenjak Putri Kimora datang ke rumah itu. Terjadi banyak sekali hal-hal yang membuat Putri Kimora ketakutan sekali seperti ini, sosok hantu bergaung pengantin pun kita belum bisa untuk menolong nya sekarang datang kembali sosok yang lain nya."
Putri Kimora merasa sangat sedih sekali karena dia sangat ingin sekali masuk ke dalam rumah misterius tersebut.
Suster Diana mengantarkan Putri Kimora untuk masuk ke dalam kelas nya.
"Hati-hati yaa sayang, semangat terus belajar nya."
__ADS_1
Setelah melihat Putri Kimora sudah masuk ke dalam kelas nya, Suster Diana mengambil gunting besar tersebut yang dia simpan di dalam bagasi mobil nya.
Tangan Suster Diana tiba-tiba langsung bergetar dan itu membuatnya merasa sangat ketakutan sekali.
"Tentang yaa tenang aku hanya ingin membuang kamu saja agar tidak membuat Putri Kimora merasa sangat terganggu sekali."
Ketika akan membuang nya ke tempat sampah, Suster Diana di buat sangat penasaran sekali dan ingin melihat kembali gunting tersebut.
Ketika Suster Diana mengeluarkan gunting tersebut dari sebuah plastik.
Suster Diana langsung melemparkan gunting tersebut yang di penuhi oleh darah yang sangat segar.
Tangan Suster Diana bergetar sangat kencang sekali, dia merasa seperti mimpi dan tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat.
Kimora sampai di Rumah Sakit dia bertemu dengan Dokter Rian, Kimora tersenyum manis kepada Dokter Rian tapi Dokter Rian mengabaikan nya.
Kimora terdiam ketika melihat sikap Dokter Rian yang berubah total kepada nya.
"Aku harus menghampiri Dokter Rian, aku harus menanyakan kenapa sikap nya seperti itu kepada kuu. Ini sudah berhari-hari dari semenjak Putri Kimora di culik Dokter Rian tidak pernah menyapa kuu kembali."
Kimora mencoba untuk mendekati Dokter Rian, dia melihat Dokter Rian yang masuk ke dalam ruangan praktek.
"Jadwal praktek Dokter Rian masih lumayan sangat lama, aku bisa berbicara dengan Dokter Rian."
Kimora mendatangi ruangan Dokter Rian dia mengetuk pintu nya.
"Ya, silahkan masuk."
Ucap Dokter Rian sambil memainkan handphone nya.
Sesuai dengan perintah Dokter Rian, Kimora pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan membuat Dokter Rian terkejut dengan kedatangan Kimora ke ruangan nya.
"Dokter Rian, aku ingin berbicara dengan kamu dan aku ingin bertanya kenapa sikap muu menjadi berbeda seperti ini?."
Kimora duduk berhadapan dengan Dokter Rian hanya di halangi oleh meja praktek nya saja.
__ADS_1
Dokter Rian hanya terdiam saja ketika Kimora menayakan hal tersebut kepada Dokter Rian.
"Dokter Rian, aku sangat berhutang budi sekali dengan semua perjuangan mu selama ini kepada kuu. Kamu yang bisa membuat kuu sembuh dari despresi berat kuu ini dan kamu juga yang selalu melindungi kuu dan perhatian kepada kuu tapi sekarang kenapa kamu jadi seperti ini. Untuk menyapa aku pun kamu sudah tidak mau."