
Dokter Rian pun langsung menghampiri nya dan membuang gunting yang ada di tangan nya.
"Dokter Alena, kamu harus tenang kamu harus tenang kendalikan emosi kamu jangan seperti ini melukai fisik kamu sendiri."
Dokter Rian mencoba untuk melepaskan genggaman erat tangan nya yang memegang rambut nya.
Helai an helai an rambut panjang nya pun jatuh ke lantai, Alena memandangi wajah Dokter Rian dia seperti menyimpan banyak dendam kepada nya.
"Kamu jahat sekali, kamu pasti yang menyuruh Kimora untuk mengganti posisi aku di Rumah Sakit kan."
Alena mulai emosional kembali dia memandangi wajah Dokter Rian dengan mata berkaca-kaca, dia pun memegang baju Dokter Rian dengan kedua tangan nya.
"Iyaa aku yang menyarankan agar Kimora mengantikan posisi kamu di Rumah Sakit, tapi itu ada alasan nya karena di saat itu kamu sedang sakit Dokter Alena."
Dokter Rian pun langsung teringat jika Alena pernah hamil anak dari Genzy.
"Dokter Alena, di mana anak kamu bersama dengan Genzy. Apakah dia sudah besar pasti dia sudah berumur 5 taun."
Mendengar perkataan tersebut, Alena langsung melepaskan genggaman tangan pada baju Dokter Rian.
Dia langsung memegang perut nya sambil mengusap perut nya, dia pun tersenyum sambil meneteskan air mata nya.
"Anak belum besar, dia selalu kecil dia ada di kamar itu."
Alena menunjukkan kamar yang pernah di pakai oleh Putri Kimora, Dokter Rian pun langsung menghampiri kamar tersebut.
Semua sama seperti dulu tidak ada yang berubah sama sekali, Alena pun menunjukkan tempat tidur bayi sambil tersenyum manis.
Dokter Rian pun langsung menghampiri tempat tidur bayi tersebut dan ternyata itu adalah sebuah boneka yang di pakaikan baju dan pelataran bayi.
Dokter Rian pun langsung terkejut seketika rasa benci dan kesalnya langsung menghilang ketika melihat kondisi Alena yang sekarang.
"Dia putri ku begitu sangat cantik kan, tapi dia tidak besar-besar dia menjadi bayi terus."
__ADS_1
Ketika Alena dan Dokter Rian sedang berada di dalam kamar terdengar suara hentakan kaki yang masuk ke dalam Apartemen itu.
Dokter Rian pun langsung keluar dari kamar tersebut, dan ternyata ada seorang Ibu yang datang.
"Maaf, anda siapa yah kenapa anda bisa masuk ke dalam Apartemen ini."
Dokter Rian pun langsung menghampiri dan menjulurkan tangannya.
"Maaf mengganggu, perkenalkan saya Dokter Rian. Saya seorang Dokter pesikiater di Rumah Sakit Sejahtera dan saya juga adalah teman baik Dokter Alena."
Ibu tersebut langsung memeluk erat tubuh Dokter Rian dia menangis tersedu-sedu di pundak Dokter Rian.
Dokter Rian hanya terdiam dan membiarkan Ibu itu menangis untuk meluapkan semua emosional nya.
Alena pun menghampiri dengan mengendong boneka, sambil memberikan susu dot kepada boneka nya itu.
Dokter Rian merasa sangat sedih sekali dan langsung berpikir jika Ibu yang ada di pelukan nya itu adalah Ibu kandung dari Alena.
Pelan-pelan Dokter Rian melepaskan pelukan nya, dan menatap wajah Ibu tersebut.
Dokter Rian langsung menyuruh Ibu tersebut untuk duduk dan menenangkan pikiran dan perasaan terlebih dahulu.
Dokter Rian pun menyuruh Ibu tersebut untuk mengatur nafas nya terlebih dahulu agar bisa jelas menceritakan nya.
Setelah mereka sudah tenang Ibu tersebut langsung menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Alena Renita.
"Saya Rania, saya adalah Ibu kandung dari Alena Renita. Saya sangat terkejut sekali ketika melihat Alena despresi apalagi dia sedang hamil 2 bulan, saya memutuskan untuk membawa pulang Alena ketika dia sudah 2 tahun di Rumah Sakit Jiwa. Karena saya sangat tidak tega sekali melihat kondisi Alena."
Dokter Rian pun memegang tangan Rania, karena mendengar suara nya yang sudah bergetar sekali.
"Lalu bagaimana dengan kondisi kehamilan Alena,? kandungan nya baik-baik saja kan. Anak Alena pasti di pisahkan karena kondisi Alena yang seperti ini."
Dokter Rian begitu sangat penasaran sekali mendengar cerita dari Ibu Rania dia semakin mendekat.
__ADS_1
"Kandungan Alena tidak terselamatkan karena setiap dia memanggil nama Genzy, dia langsung sangat emosional sekali karena dia selalu memukul dengan keras kandungan sampai harus mengalami pendarahan dan berakhir keguguran di usia kandungan 3 bulan. Hal itu pun membuat despresi Alena semakin parah dan Tante memutuskan untuk membawa Alena kembali ke Apartemen ini karena Tante pernah dengar jika Alena pernah merawat anak Kimora di saat itu Kimora sedang despresi berat juga."
Dokter Rian merasa sangat terharu mendengar cerita dari Ibu Alena, Dokter Rian pun menghampiri Alena yang sedang duduk sambil mengendong boneka.
"Anak nya cantik sekali yah, boleh tau nama nya siapa."
Alena langsung tersenyum ketika mendengar perkataan dari Dokter Rian.
"Mutiara Renita, dia anak kesayangan kuu ini adalah anak aku dengan Genzy."
Alena memeluk dan mencium boneka tersebut dengan penuh perasaan sekali.
"Kamu mau bantu aku kan Dokter Rian, kamu cari Genzy dan bilang jika anak nya sudah lahir dan sangat merindukan sekali sosok Papa di sampingnya."
Dokter Rian sangat tidak tega sekali jika harus terlalu lama bersama dengan Alena, Dokter Rian pun langsung menghampiri Ibu Rania.
"Tante saya permisi pulang dulu yah, jika Tante tidak keberatan setiap hari libur saya usahakan untuk datang ke sini. Semoga saja ada keajaiban Dokter Alena bisa kembali normal seperti biasa."
Rania pun mengantar kan Dokter Rian keluar Apartemen nya.
"Oh iya Tante mohon lebih di perhatikan lagi. Karena Alena sudah bisa pergi ke Rumah Sakit Sejahtera sendiri, saya hawatir jika terjadi sesuatu dengan Alena."
Rania pun tersenyum ketika mendengar perkataan dari Dokter Rian.
"Terimakasih banyak atas perhatiannya Dokter Rian, semoga Dokter Rian bisa membantu Alena sehat kembali."
Dokter Rian pun berjalan menuju ke mobil nya, dia langsung berpikir apakah dia harus menceritakan semuanya kepada Kimora.
"Kalau di ceritakan semuanya kepada Kimora, kondisi Kimora juga lagi drop. Takut dia tambah pikiran juga lebih baik di ceritakan kepada Suster Diana saja."
Dokter Rian pun memilih untuk melewati rumah Genzy dia sangat penasaran sekali dengan keberadaan Genzy sebernarnya di mana.
Dokter Rian menghentikan mobil nya di dekat rumah tersebut, dia melihat banyak sekali satpam dan orang-orang tertentu di depan pintu gerbang dan pintu masuk rumah tersebut.
__ADS_1
"Apa mungkin Genzy tidak tinggal di dalam rumah itu, mereka semua hanya di suruh Genzy untuk menjaga mayat yang sudah di awetkan saja."
Dokter Rian pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.