
Putri Kimora langsung memeluk erat tubuh Suster Diana, Suster Diana mencoba untuk menenangkan perasaan Putri Kimora.
Suster Diana terus mengusap lembut punggung Putri Kimora, hingga dia sedikit terlihat tenang.
Suster Diana pun langsung mengendong Putri Kimora menuju ke dalam mobil nya, Putri Kimora tetap memeluk erat tubuh Suster Diana.
"Sayaaaaang, kamu kenapa seperti sangat ketakutan sekali."
Putri Kimora memandangin wajah Suster Diana, mata nya yang merah dan berkaca-kaca memandangin wajah Suster Diana.
"Suster aku tidak mau lagi sekolah, aku sangat ketakutan sekali sekolah di sana."
Suster Diana sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Putri Kimora yang baru saja sekolah beberapa hari saja.
"Kenapa sayaaaaang, bukan kah kamu sangat suka sekolah di sana. Banyak teman baru di sana."
Putri Kimora menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tidak mau melepaskan pelukan erat nya dari Suster Diana.
"Aku ingin bertemu dengan Ibuuuu, aku takut sekali aku ingin bertemu dengan Ibuuu."
Suster Diana pun langsung mencoba untuk menghubungi nomer handphone Dokter Kimora tapi tidak ada jawaban nya.
"Ibu Kimora pasti sangat sibuk sekali banyak pasien, nanti juga ada saatnya Ibu Kimora pulang yaa sayaaaaang."
Suster Diana merasa sangat kebingungan sekali apa yang sebenarnya terjadi dengan Putri Kimora, pagi dia begitu sangat ceria sekali kenapa pulang sekolah.
Mereka pun sampai di rumah, Putri Kimora tetap memeluk erat tubuh Suster Diana. Sampai sesampainya di dalam rumah pelukan itu tidak terlepaskan.
"Sayaaaaang, ayo ceritakan semuanya sama Suster yaa sayaaaaang apa yang sebenarnya terjadi. Ada apa di sekolah itu sampai Putri Cantik suster ini menjadi sangat ketakutan sekali."
Suster Diana mencoba untuk menurunkan Putri Kimora di sofa, dan mengengam tangan dingin nya yang masih sangat bergetar sekali.
__ADS_1
"Suster Diana, aku melihat wajah anak perempuan yang aku ceritakan ituuu. Dia yang selalu ada di saat aku berangkat pagi dan dia yang tidak pernah bersiap-siap untuk pulang jika dia waktu bell tiba."
Suster Diana mulai merasakan tidak nyaman dengan cerita Putri Kimora, dia mencoba menahan rasa ketakutan nya ketika Putri Kimora bercerita.
"Wajah penuh dengan darah Suster, aku sangat ketakutan sekali dia sangat seram aku sangat takut."
Putri Kimora langsung memeluk erat kembali tubuh Suster Diana, Suster Diana merasakan keanehan yang terjadi kepada Putri Kimora. Dia pun langsung bisa mengatakan jika Putri Kimora begitu sangat peka sekali sehingga dia bisa melihat dan merasakan hal-hal yang tidak bisa di lihat oleh orang biasa.
"Yasudah ya sayang, nanti Suster Diana bilang sama Ibu Kimora agar kamu pindah sekolah saja yaa, sekarang kamu tenangkan dulu hati dan perasaan kamu yaa sayaaaaang."
Suster Diana tidak melepaskan pelukan erat nya, dia terus mengendong Putri Kimora hingga dia tertidur lelap di pangkuan nya.
Suster Diana memilih untuk menidurkan Putri Kimora di kamar nya, dia pun mengambil tas Putri Kimora. Dia membuka nya dan seketika dia pun terkejut ketika melihat ada selembar kertas yang di tulis oleh crayon berwarna merah menyala.
Suster Diana mengambil tulisan dari crayon berwarna merah menyala tersebut dengan bertuliskan :
* Aku Lolita main bersama dengan kuu*.
"Yaa Tuhan, entah apa yang harus aku ucapkan sekarang. Aku sangat bersyukur jika Putri Kimora tidak seperti ayahnya tapi aku juga sangat hawatir jika dia harus bisa melihatnya hal-hal seperti itu."
Suster Diana merasa kebingungan sekali apa yang harus dia sampaikan kepada Kimora, dia takut sekali jika mental Kimora kembali terusik dengan apa yang terjadi dengan Putri Kesayangannya.
"Putri Kimora, tidak bisa bersekolah normal jika seperti ini lebih baik dia home schooling saja."
Suster Diana terus memeluk erat Putri Kimora dia saat dia sedang tertidur pulas.
"Tenang yaa sayaaaaang, Suster akan selalu ada menjaga kamu. Kamu jangan takut yaa sayaaaaang."
Suster Diana terus menciumi pipi dan kening Putri Kimora, dia sangat sayang sekali dengan gadis cantik ini.
***
__ADS_1
Kimora mulai bersiap untuk pergi bertemu dengan Mama Sarrah, dia di temani oleh Dokter Rian yang setia menjaga selalu Kimora.
"Dokter Rian, nanti kita berhenti di toko bunga yaa. Aku ingin sekali membeli mawar merah untuk Mama Sarrah."
Dokter Rian pun menganggukan kepalanya, dia sebenarnya ingin mengatakan jika dia pernah datang ke rumah Genzy yang dulu tapi lebih baik dia menceritakan nya di saat Kimora sudah selesai menengok Mama Sarrah.
Kimora pun turun dari mobil nya, dia melihat sosok lelaki berbaju serba hitam memakai kacamata hitam dan topi sedang memborong bunga-bunga mawar putih.
Seketika Kimora pun langsung berpikiran negatif dan langsung berpikir jika lelaki tersebut adalah Genzy mantan suaminya.
Kimora dengan berani terus memandangi wajah lelaki tersebut, hingga lelaki tersebut pergi mengunakan taksi.
Dokter Rian pun langsung turun dari mobil nya, dia menghampiri Kimora.
"Ada apa Kimora,? kamu seperti memperhatikan terus lelaki itu."
Kimora memilih untuk pergi membayar bunga mawar merah yang dia pilih dan berjalan menuju ke mobil nya.
Dokter Rian menyusul Kimora dia melihat wajah Kimora yang sangat tenang sekali.
"Aku merasa aneh dengan lelaki itu yang memakai pakaian serba hitam, dan dia pun membeli bunga mawar putih."
Dokter Rian mengerti apa yang sedang ada di pikiran Kimora, dia pun langsung memegang tangan Kimora.
"Sudahlah, jika mungkin itu Genzy sudah biarkan saja dia hanya masalalu muuu. Tidak usah di ingat-ingat lagi biarlah dia bahagia dengan dunia psikopat nya."
Dokter Rian sedikit cemburu ketika Kimora mulai kembali mengingat mantan suaminya tersebut.
"Aku memikirkan bagaimana dengan Putri kuu, apa yang akan di rasakan jika dia memiliki seorang Ayah yang seperti itu. Aku sangat berharap sekali Mas Genzy bisa berubah menjadi normal seperti biasa, karena dia mempunyai seorang anak perempuan yang tidak mungkin dia bisa menerima jika Ayah nya lebih memilih untuk tinggal bersama dengan mayat."
Kimora terlihat sangat sedih sekali dia mengusap air mata nya, Dokter Rian mulai mengerti bagaimana perasaan ada di posisi Kimora. Gagara kelakuan tidak normal suaminya dia hampir kehilangan nyawa nya di saat dia mengandung Putri Kimora dan sampai menjadi despresi berat sekali.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan nya menuju ke Rumah Sakit Kejiwaan, Kimora menghapus air mata nya dia menambahkan make up dan lipstik merah menyala agar tidak terlihat pucat seperti sedang menangis ketika bertemu dengan Mama Sarrah.