Suamiku Misterius

Suamiku Misterius
Episode (263)


__ADS_3

Dokter Rian hanya tersenyum dan langsung memasuki kamar Alena, baru saja melihat dari kejauhan sikap Alena begitu sangat menakutkan sekali.


Dia mengendong boneka yang dia anggap adalah putri nya sendiri, dan tangan nya sambil memegang sebuah gunting.


"Maaf bu Riana, kenapa Alena memegang gunting seperti itu yah. Saya takut ini bisa membahayakan nyawa orang lain, karena kemarin pun Alena berniat untuk menusukkan gunting tersebut kepada saya."


Riana pun langsung menghampiri Alena, berbicara dengan perlahan-lahan agar Alena mau menyimpan gunting tersebut.


"Diaaa tidak akan mengambil anak kan, dia tidak jahat kan. Dia baik kan dia seperti seseorang yang aku kenal."


Alena langsung menatap tajam wajah Dokter Rian, seketika Dokter Rian pun langsung tersenyum lebar kepada Alena.


Melihat kondisi Alena yang sudah sedikit tenang, Dokter Rian pun langsung menghampiri nya.


"Selamat siang Dokter Alena Renita, Dokter Specialis kandungan yang paling hebat sekali di Rumah Sakit Sejahtera."


Alena pun langsung menyerap perkataan dari Dokter Rian, dia pun langsung mengingat kembali kejadian yang pernah di lakukan.


"Aku adalah seorang Dokter Specialis Kandungan, aku adalah seorang Dokter Specialis yang hebat tapi di mana anak kuuuu di manaaaaaaaaaaa."


Ingatan Alena langsung tertuju pada saat dia kehilangan bayi nya, dia pun mulai berteriak-teriak kencang sambil menanyakan di mana anak nya.


Dokter Rian memberikan boneka yang sering di gendong oleh Alena, tapi dia langsung melemparkan boneka tersebut dan langsung histeris sambil menjambak rambut panjang nya.


Rania hanya bisa menangis ketika melihat kondisi Alena yang seperti itu, Dokter Rian pun mencoba untuk menenangkan Alena tapi sikap Alena yang sangat brutal sekali mendorong Dokter Rian dengan sangat kuat sampai Dokter Rian terjatuh.


"Astaga Alena, kenapa kamu seperti ini sekali. Kendalikan emosi kamu Alena kamu harus harus bisa mengatur emosional kamu Alena."


Alena melempar kan setiap barang yang ada di hadapannya. Agar Dokter Rian menjauh dari nya, Alena sempat melihat kembali gunting dia berniat untuk mengambil nya tapi gunting tersebut langsung di lemparkan jauh oleh Dokter Rian dan di ambil oleh Rania untuk di amankan.


"Pergiiiiiiiiiiiii sekarang pergiiiiiiiiiiiii, kembali anak kuuuu sekarang jugaaaaaaa."


Dokter Rian langsung memaksa Alena untuk masuk ke dalam kamar nya, dia pun terpaksa untuk memegang erat tangan Alena.


"Tenang kamu harus tenang, anak kamu ada dia baik-baik saja. Kamu harus tenang yah."

__ADS_1


Alena mulai bisa terdiam dan Dokter Rian pun memberikan obat penenang untuk Alena minum, Dokter Rian mengusap lembut punggung Alena.


"Genzy, di mana Genzy aku harus menikah dengan Genzy. Di mana sekarang aku ingin bersama dengan diaaa."


Alena menangis tersedu-sedu di pundak Dokter Rian, Dokter Rian pun tidak menyangka jika kekuatan cinta Genzy bisa membuat dua wanita menjadi despresi berat hanya karena dia.


"Apa yang akan kamu sampaikan jika kamu bertemu dengan Genzy, atau jika aku yang bertemu dengan Genzy."


Dokter Rian mengeluarkan handphone untuk merekam suara isi hati Alena.


"Genzy, aku sangat cinta kamuuuuuuuu. Aku sedang hamil anak kamu tapi anak itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari perut ini. Perut ini tidak membesar tidak ada bayi nya lagi."


Alena pun langsung menangis histeris kembali, dan tiba-tiba reaksi obat tersebut di rasakan oleh Alena.


Dia tiba-tiba lemas dan seperti ingin tidur, Dokter Rian pun langsung mengendong Alena ke tempat tidur nya.


Dokter Rian tidak menyangka jika kondisi Alena lebih berat dari kondisi Kimora sebelumnya, bahkan kondisi Alena bisa mengancam nyawa seseorang.


Melihat Alena yang sudah bisa beristirahat, Dokter Rian pun berpamitan untuk pergi dan dia pun berpesan agar menjauh benda-benda tajam di sekitar Alena karena itu bisa membahayakan nyawa seseorang.


"Apa Apartemen ini kosong atau ternyata Genzy yang tinggal di Apartemen ini."


Dokter Rian berdiri di depan pintu Apartemen tersebut dan menekan tombol bell yang ada di hadapannya sampai berkali-kali. Tapi tidak ada yang membukakan pintu untuk nya.


Dokter Rian pun berencana untuk pergi ke rumah Genzy, agar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Genzy harus mendengar rekaman Alena, dia tidak bisa hidup bahagia dan tenang."


Dokter Rian pun langsung masuk ke dalam mobil nya dan menjalankan mobilnya menuju ke kediaman Genzy.


Dia keluar dari mobil nya, dan menghampiri semua pegawai yang menjaga di depan gerbang tersebut.


Mereka bilang jika Tuan nya itu tidak ada di dalam rumah ini, dan Dokter Rian baru teringat jika Genzy berada di taman bermain seperti yang di ceritakan oleh Suster Diana.


"Haruskah menyusul nya ke taman itu, itu lebih baik daripada harus mengobrol di dalam rumah mayat itu."

__ADS_1


Dokter Rian pun memutuskan untuk pergi ke taman tersebut, dan ternyata di taman tersebut banyak sekali anak-anak dan sangat ramai sekali.


Dokter Rian mencoba untuk mencari Genzy tapi untuk berjalan pun sangat sesak sekali.


"Dimana Genzy, Putri Kimora mendapatkan coklat dan balon dari Genzy. Itu yang harus di cari tempat pembagian coklat dan balon merah."


Dokter Rian terus mencari Genzy dan sampai akhirnya, dia menemukan Genzy di hadapannya. Dia merasa tidak menyangka selama lima tahun berlalu tidak ada yang berubah dari Genzy.


Melihat banyak anak-anak yang sedang mengantri untuk mendapatkan balon dan coklat, maka Dokter Rian ikut mengantri agar di bisa bertemu dengan Genzy secara berhadapan.


Dokter Rian menjulurkan tangannya, dan Genzy langsung memberikan coklat kepada tangan Dokter Rian.


"Untuk anak nya yah Pak."


Genzy langsung terkejut ketika melihat Dokter Rian, yang sedang ada di hadapannya dan memegang coklat pemberian dari nya.


"Ada apa kamu menemuj dan mencari kuu,"


Genzy langsung menarik tangan kasar tangan Dokter Rian, dia pun menyuruh orang lain untuk mengantikan posisi nya.


Mereka pun berjalan jauh dan mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol.


"Apa kabar nya,? Genzy Putra. Lima tahun berlalu tidak ada perbedaan sama sekali."


Mendengar perkataan Dokter Rian, Genzy hanya tersenyum kesal.


"Sudah jangan basa-basi lagi, apa maksud kedatangan kamu ke sini."


Dokter Rian langsung mengeluarkan handphone nya, dan memutar rekaman Alena yang sedang despresi.


Genzy mendengar rekaman tersebut dan mengenal suara perempuan tersebut, dia langsung melihat rekaman yang di putar oleh Dokter Rian.


"Seperti suara Alena dia despresi."


Dokter Rian langsung mematikan rekaman tersebut, dan langsung menatap wajah Genzy yang hanya berkata biasa saja menanggapi Alena yang despresi.

__ADS_1


__ADS_2