
Mama Sarrah begitu sangat hawatir sekali dengan keadaan Kimora yang tidak sadarkan diri, dia terus menepuk-nepuk wajah Kimora dan berteriak agar para pegawai yang ada di rumah itu menghampiri nya.
Mama Sarrah memilih untuk menelephone Dokter Rian, dia hanya mengingat Dokter Rian di pikiran nya.
Dokter Rian yang baru sampai di Rumah Sakit pun langsung menerima panggilan telephone dari Sarrah.
*Hallo Dokter Rian, Kimora tiba-tiba tidak sadarkan diri. Tolong kirimkan ambulance ke sini.*
*Baiklah Bu Sarrah.*
Dokter Rian yang sangat panik pun langsung, menutup panggilan telephone dari Sarrah dia langsung mengirimkan ambulance untuk ke rumah nya.
"Kimora bertahan kamu pasti kuat kamu pasti kuat, ada aku yang akan membela kamu."
Suasana di dalam kamar pun sangat panik sekali, Mama Sarrah tidak henti-hentinya dia menangis sambil memeluk erat Kimora.
Mereka pun membawa Kimora ke ruangan depan agar lebih mudah untuk Kimora di bawa ke rumah sakit.
"Bertahan sayaaaaang, kamu pasti kuat kamu pasti sembuh."
Tidak menunggu lama ambulance pun datang, dan membawa Kimora ke Rumah Sakit yang sama dengan Alena.
__ADS_1
Dokter Rian sangat panik menunggu kedatangan Kimora datang ke rumah sakit.
"Akhirnya datang juga ambulance nya."
Kimora pun langsung di tangani oleh pihak Rumah Sakit, ketika Mama Sarrah sedang dengan kondisi Kimora.
Di sisi lain Alena tersadar dia pun terus memanggil nama Genzy dan membuat Genzy pun langsung menghampiri nya.
"Genzy." ucap Alena dengan suara yang sangat lemas sekali dan kepala yang di perban.
"Iyaa Alena aku di sini, kamu sudah sadar kamu tidak apa-apa kan."
"Temani aku terus di sini yaa, jangan tinggalkan aku."
Alena tidak mau Genzy pergi dari dirinya tapi tiba-tiba handphone Genzy berdering kencang sekali.
Alena pun langsung melepaskan paksa genggamannya, Genzy menjawab panggilan telephone dari Mama Sarrah.
Genzy memilih untuk keluar ruangan untuk menjawab telephone dari Mama Sarrah.
*Hallo, Mam ada apa,?*
__ADS_1
*Genzy Kimora tidak sadarkan diri, dia juga di Rawat di Rumah Sakit Sejahtera sama seperti Alena. Mama sangat hawatir sekali dengan keadaan Kimora Genzy.*
Genzy terdiam di harus bagaimana, Kimora masih istri sah nya sedangkan Alena dia mengalami luka karena berada di dalam rumah nya.
*Hmmmm Mam, Alena baru saja sadar dia tidak ada yang menemani sama sekali di sini. Nanti aku pasti akan pergi ke sana *
Genzy memilih langsung menutup panggilan telephone dari Mama nya, dia pun kembali ke dalam ruangan Alena.
"Siapa tadi yang menelephone,? Tante Sarrah kah. Oh iya di mana Tante Sarrah bukan kah di saat aku di bawa ke rumah sakit ini dia ada yaa di samping aku.?"
Genzy hanya terdiam dia mengabaikan pertanyaan dari Alena.
"Genzy kita harus cari tahu siapa yang melemparkan batu ke kepala ku ini, kita harus laporan orang itu kepada polisi biar dia tidak mengulangi nya lagi dan sekarang kamu jadi bahaya sekali."
Genzy lebih memilih untuk diam dia hanya memandangi handphone dengan pikiran yang kosong.
Alena yang melihat Genzy mengabaikan nya pun langsung terbawa emosi.
"Aku sudah terluka seperti ini pun kamu masih saja seperti itu, kamu nggak punya perasaan sekali yaa Genzy."
Alena terlihat sangat emosional sekali, dan membuat kepala nya pun menjadi terasa sakit.
__ADS_1