
"Ayooo sayaaaaang masuk ke dalam Apartemen, kamu jangan seperti ini memalukan sekali."
Alena tetap saja tidak mau masuk ke dalam Apartemen nya dia masih saja duduk depan pintu Apartemen dengan tetasan air mata nya.
Riana tidak tahu dia harus bagaimana lagi untuk bisa menyuruh Alena masuk ke dalam.
Jika dengan paksa an dia tidak mau harus menahan diri Alena yang memiliki emosi yang tinggi sekali.
Akhirnya Riana memilih untuk menghubungi Dokter Rian agar bisa segera datang ke sini.
*Hallo Dokter Rian Saputra, bisa kah ke sini kembali. Seperti nya Alena despresi kembali ketika tadi dia sudah berbicara dengan Genzy dan sekarang dia tidak mau masuk ke dalam Apartemen dia hanya duduk di depan pintu sambil menangis histeris.*
Dokter Rian yang mendengar perkataan dari Riana pun langsung beranjak kembali masuk ke dalam mobil nya untuk menuju ke Apartemen Alena.
"Dokter Rian tidak menjawab ucapan kuu sama sekali, dia langsung menghentikan pembicaraan kuu semoga saja dia bisa langsung datang ke sini."
Riana hanya memperhatikan Alena yang terus menerus menangis sambil memegang perut nya.
"Bayi di perut kuu menghilang dia tetap tidak kasihan dengan kuuu, aku ingin Genzy sedikit perhatian kepada kuuuu. Jangan selalu saja Kimora dan Kimora."
Dokter Rian dengan cepat nya langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai 10.
Ketika keluar dari lift dia langsung memilih kondisi Alena yang sangat memprihatikan sekali.
Dokter Rian menjulurkan tangan nya agar Alena bisa langsung berdiri tapi Alena mengabaikan nya.
Alena terus saja memegang perut nya dia mengelus-elus perut nya sambil tersenyum.
Ganggu an mental Alena kembali seperti semula dia despresi kembali.
"Ayooo masuk ke dalam yaa, apakah tidak kasihan bayi yang ada di dalam perut kamu itu kedinginan sekali karena Mommy diam di luar tidak mau masuk ke dalam."
Alena langsung memandangi wajah Dokter Rian.
"Kamu adalah Dokter Specialis Kandungan seperti aku kan, kamu bisa memeriksa kondisi janin yang ada di dalam perut kuu ini. Kehamilan kuu masih di semester satu yang bisa di bilang sangat rawan sekali keguguran."
__ADS_1
Dokter Rian pun memegang tangan Alena dan dengan secara perlahan dia pun membawa Alena masuk ke dalam Apartemen nya.
Dokter Rian pun langsung bertanya secara perlahan kepada Alena dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Tadi kamu bertemu dengan Genzy,? apakah kamu senang sekali bisa bertemu kembali dengan dia."
Dokter Rian meminta air mineral kepada Riana untuk Alena, Riana pun langsung mengambil kan nya di dapur.
"Dia tidak mau menikah dengan kuuuu dia masih saja ingin bersama dengan Kimora, aku sangat sedih sekali aku pun bilang kepada Genzy jika aku akan membuat Kimora tidak ada lagi di dunia ini. Dan Genzy pun langsung sangat emosional sekali jika aku memusnahkan Kimora maka Genzy pun juga akan membuat aku pun tiada dari dunia ini."
Dokter Rian pun langsung terdiam mendengar cerita dari Alena, Dokter Rian merasa Genzy sekarang sangat berbahaya sekali dia bisa melakukan hal senekad itu.
Riana pun datang dengan membawa minum untuk Alena.
Dokter Rian menyuruh Alena untuk bisa meminum obat penenang dari nya.
"Ayoo minunum vitamin ini karena sangat baik sekali untuk kamu Alena dan bayi yang ada di dalam perut muu itu."
Alena langsung mengambil obat yang sedang di pegang oleh Dokter Rian dia langsung meminum obat penenang tersebut.
Setelah mengantar kan Alena ke dalam kamar nya, Riana menghampiri Dokter Rian yang tiba-tiba saja dia melamun meratapi kehidupan nya.
"Terimakasih banyak Dokter Rian selalu siap untuk Alena, selalu ada untuk Alena. Semoga saja apa yang di impikan keinginan Dokter Rian semua nya bisa menjadi kenyataan."
Dokter Rian pun beranjak dari tempat duduk nya dan memberikan beberapa obat untuk Alena.
"Alena harus melupakan Genzy, karena Genzy hanya membawa dampak negatif untuk Alena. hanya beberapa jam saja Alena yang terlihat sudah sangat sehat tiba-tiba kembali seperti ini hanya karena lelaki itu. Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang ada di pikiran Genzy."
Dokter Rian kembali duduk kembali untuk bisa menenangkan perasaan dan pikiran nya.
Riana memilih untuk meninggalkan Dokter Rian di ruangan tamu agar bisa beristirahat.
Riana kembali datang ke dalam kamar Alena, dia melihat kembali kondisi Alena seperti dulu kala.
Dia duduk di tempat tidur nya dengan pandangan mata nya kosong dan berkaca-kaca sambil mengelus-elus perut nya.
__ADS_1
Ke esokan hari nya Putri Kimora terbangun dari tidur nya dia yang di temani oleh Ibu nya.
Putri Kimora turun dari tempat tidur nya dia berjalan menuju ke dapur dia merasa sangat lapar sekali.
Tapi ketika dia hendak pergi ke dapur dia seperti melihat tetesan darah di sepanjang jalan.
Putri Kimora lebih memilih untuk mengikuti tetesan darah tersebut dan dan tetesan darah tersebut terhenti tidak ada lagi.
Putri Kimora pun membalikkan badan nya dia melihat tetesan darah tersebut tiba-tiba menghilang begitu saja.
Dan Putri Kimora mengabaikan hal tersebut ketika Putri Kimora ingin melanjutkan langkah kaki menuju ke dapur.
Tiba-tiba terdengar suara barang yang terjatuh di belakang nya, seketika Putri Kimora membalikkan badan nya dan dia melihat tiba-tiba terjatuh.
"Kenapa setiap aku memilih darah aku selalu saja di pertemuan oleh sebuah gunting, tapi aku tidak mau mengambil nya aku takut tangan kuu menjadi merah kembali dan nanti Ibu menjadi hawatir dengan aku."
Putri Kimora mengabaikan nya dia yang sangat lapar pun memilih untuk mengambil roti di dalam kulkas.
Suster Diana terbangun ketika mendengar suara bising dari dapur.
"Siapa yang ada di dapur se pagi ini yaaa, aku harus secepatnya melihat."
Suster Diana pun langsung berlari menghampiri ke dapur dan dia sangat terkejut sekali ketika melihat Putri Kimora dengan memakan roti dengan sangat lahap sekali.
"Suster Diana aku sangat lapar sekali kemarin aku langsung tidur dan tidak sempat makan malam."
Suster Diana membuat kan susu coklat hangat untuk Putri Kimora.
"Ayoo di minum sayaaaaang susu coklat hangat nya."
Putri Kimora pun langsung meminum susu coklat hangat tersebut.
"Setelah ini kamu langsung mandi yaa kita sayang kita harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah yaa jangan sampai telat nanti nya."
Putri Kimora merasa sangat ketakutan sekali dia tidak mau mandi sendiri dia tetap saja duduk.
__ADS_1