Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Masa bodoh!!!


__ADS_3

"Kamu ngontrak di sini?" tanya Nanda begitu sampai di kontrakan Nayla.


"Iya," jawab Nayla sambil turun dari motor milik Nanda, begitu juga dengan Nanda segera turun dari motornya sambil mengamati rumah kontrakan sederhana milik Nayla.


"Anak kamu mana Nay?" tanya Nanda,, karena Nanda teringat tadi Nayla mengatakan bahwa dirinya memiliki seorang anak,, dan Nanda ingin sekali melihat anak Nayla.


"Kamu tunggu di sini,, aku jemput dia dulu, di sana rumah tempat aku nitipin anak aku kalau pergi kerja, jadi kamu duduk dulu di sini yah," ucap Nayla sambil menunjukkan kursi yang berada di depan teras rumah kontrakannya.


Nanda pun segera duduk manis di kursi itu sambil menunggu Nayla pergi mengambil anaknya. Nanda duduk sambil melihat Nayla yang sedang berjalan ke rumah tempat dia titipkan anaknya itu.


"Aduh Felix,, Bunda kamu udah datang," ucap Nana yang sedang asik bermain dengan Felix, begitu melihat kedatangan Nayla, seketika dia tersenyum pada Nayla.


"Felix rewel yah,, Na?" tanya Nayla sambil mengambil alih Felix lalu menciumnya dengan gemas,, dia sudah sangat merindukan anaknya padahal baru saja tidak berjumpa beberapa jam.


"Nggak,, dia nggak rewel sama sekali dan aku tidak kerepotan juga," jawab Nana.


Nana begitu menyayangi Felix dan mengurus Felix dengan sangat baik, Nana juga terlihat memberikan kasih sayang yang tulus pada Felix. Sebab Nana juga ingin memiliki anak.


"Ini aku udah ada rezeki dan kita bagi-bagi," ucap Nayla sambil memberikan Nana sebuah amplop yang berisi uang, barusan Dokter Alex memberikan dia gaji pertamanya sehingga Nayla juga bisa memberikan bayaran kepada Nana yang sudah menjaga Felix.


"Makasih," ucap Nana sambil tersenyum dan menerima amplop itu. Apalagi beras di rumahnya memang sudah habis.


"Sama-sama aku pulang dulu," ucap Nayla sambil tersenyum lalu segera pulang ke rumah kontrakannya.


Sampai di rumah kontrakannya,, Nanda masih duduk di teras menunggu Nayla yang pergi mengambil Felix.


"Hai Om Nanda," ucap Nayla sambil menggerakkan tangan Felix seakan Felix sedang menyapa Nanda.


"Hai, kamu tampan sekali,, sini om Nanda jadi pengen banget gendong," ucap Nanda.


Nayla pun segera memberikan Felix pada Nanda, bayi mungil yang tampan itu terlihat sangat bahagia begitu berada di dalam dekapan Nanda.


"Namanya siapa?" tanya Nanda.


"Felix," jawab Nayla.


"Usianya berapa?" tanya Nanda lagi.


"Empat bulan," jawab Nayla lagi.


"Felix,, nama yang bagus,, nama lengkapnya siapa?" tanya Nanda lagi.


Nayla terdiam,, Nayla tidak ingin memakai nama belakang Bima Putra di belakang nama Felix, seperti apa yang sudah diberikan oleh mantan Papa mertuanya.

__ADS_1


"Cuma Felix doang kok,, lagian apa sih pertanyaan banyak banget,, mentang-mentang kamu polisi," ucap Nayla yang tidak ingin membahas nama belakang Felix,, karena itu akan menjadi pembahasan yang sangat panjang. Siapa yang tidak tahu Bima Putra pengusaha sukses dengan kekayaan yang luar biasa itu, bahkan menembus rekor 100 pengusaha terkaya di Asia.


"Aku buatkan kopi sebentar yah," ucap Nayla lalu segera masuk dan keluar kembali dengan secangkir kopi, bahkan Nayla sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.


"Kamu tinggal sama siapa Nay?" tanya Nanda lagi.


"Sama sahabat aku nama..."


"Nayla," teriak Reyna.


Baru saja Nayla ingin menyebutkan nama itu tapi orangnya sudah muncul.


"Itu Reyna sahabat ku,, aku tinggal dengan dia," ucap Nayla sambil melihat Reyna yang masih berada cukup jauh dengan mereka,, namun suaranya sudah terdengar sampai di mana-mana, sahabat itu memang selalu heboh di mana-mana.


"Nay,, kamu tahu hari ini aku benar-benar sial banget, lihat ini Nay!" curhat Reyna.


Reyna menunjukkan baju putihnya yang terkena lumpur.


"Kok bisa Reyna?" tanya Nayla.


"Ini gara-gara orang gila Nay,, dan....," ucap Reyna lalu melihat seorang pria yang sedang duduk di kursi sambil memeluk Felix. Seketika otak Reyna kembali berputar mengingat pria itu.


"Loh kamu!!! kamu cowok tadi siang, cowok kurang ajar yang bikin baju aku kotor," ucap Reyna.


"Kamu jangan gila," ucap Nanda sambil menjauh dari Reyna,, karena merasa dia tidak melakukan tuduhan yang dilontarkan Reyna padanya.


"Tunggu dulu Reyna,, tadi siang Nanda bersama aku,, jadi aku rasa memang bukan dia," ucap Nayla membela Nanda yang tidak bersalah.


"Tapi cowoknya mirip sama dia Nay!" ucap Reyna yang lagi-lagi menunjuk Nanda yang tidak tahu apa-apa, Reyna yakin bahwa yang membuat bajunya kotor adalah Nanda.


"Coba kamu lihat dengan jelas Rey," ucap Nayla sambil menunjuk Nanda,, agar Reyna melihat jelas Nanda. Nayla yakin Nanda tidak bersalah.


"Itu pasti motor kamu kan?" tanya Reyna sambil menunjuk motor gede yang berada di halaman kontrakan Nayla.


"Iya," jawab Nanda.


"Nah Nayla, cowok yang bikin baju aku kotor itu menggunakan motor begitu juga, dan seragam polisi juga! jangan mentang-mentang kamu polisi yah terus kamu kira aku takut sama kamu!" ucap Reyna yang ingin sekali mencakar wajah Nanda,, Reyna yakin Nanda adalah penyebab utama dia mengalami kejadian tidak enak tadi.


"Reyna,, maaf yah aku sudah bikin baju kamu kotor,, tadi aku buru-buru banget," ucap seorang pria yang bersebelahan dengan kontrakan Nayla.


Reyna,, Nayla dan Nanda langsung menatap pria itu.


"Jadi pria tadi kamu,, Bian?" tanya Reyna dengan suara yang cukup keras karena posisi Bian lumayan jauh dari mereka.

__ADS_1


"Iya,, Ibuku masuk rumah sakit,, aku tidak sempat ganti baju dinas,, maaf yah Reyna,,," ucap Bian lalu segera melesat pergi,, karena dia terburu-buru untuk menemui Ibunya lagi,, motor Bian memang mirip dengan motor Nanda yang sedang terparkir di halaman kontrakan Nayla.


Seketika Reyna langsung menatap Nanda sambil tersenyum kikuk.


"Aku pamit dulu yah," pamit Reyna yang ingin segera masuk ke dalam rumah.


"Minta maaf dulu ke,, sudah salah juga," ucap Nanda kesal.


"Ogah," ucap Reyna yang sekalipun salah dia tetap tidak mau meminta maaf juga karena merasa gengsi,, Reyna memilih masuk tanpa mengucapkan kata maaf pada Nanda.


"Dia memang begitu Nan,, tapi hatinya baik kok," ucap Nayla sambil terkekeh begitu mengingat barusan Reyna tadi merasa sudah seperti tersangka.


"Aneh iya Nay,, aku pamit dulu yah," ucap Nanda lalu segera mencium pipi tembem Felix yang sudah tertidur di pelukan Nayla.


"Om pulang dulu yah ganteng,," ucap Nanda lalu segera menuju motornya dan segera pergi setelah membunyikan klakson motornya.


Tiba-tiba mata Nayla melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir cukup jauh dari rumahnya. Nayla merasa mengenali mobil tersebut,, tapi siapa? Nayla tidak ingin mengambil pusing,, Nayla lebih memilih masuk untuk menidurkan Felix ke tempat tidur yang lebih nyaman. Begitu sampai di dalam dia melihat Reyna yang sudah mengganti pakaiannya.


"Kamu udah makan Reyna?" tanya Nayla sambil berjalan masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Felix.


Setelah menidurkan Felix dia kembali keluar menuju kepada Reyna yang sedang duduk di kursi meja makan tepat berada di depan pintu kamar Nayla.


"Udah,, oh ya Nay,, mobil hitam yang berada di depan sana seperti mobil Dokter Devan, bukan?" ucap Reyna.


Dari tadi Reyna melihat sebuah mobil milik Devan,, tapi Reyna juga tidak terlalu yakin karena mobil Devan sangat banyak dan sering berganti-ganti hingga sulit untuk mengenalinya. Nayla diam dan juga mengingat mobil yang sempat dilihatnya tadi.


"Aku rasa bukan Reyna,, mana mungkin juga dia di sini, ngapain coba? mau lihat anaknya? kalau mau lihat anaknya pasti dia ke sini, ngapain dia cuma di situ doang! ucap Nayla.


Lagi-lagi Nayla tidak mau ambil pusing tentang Devan, cukup sudah dia terluka,, terhina dan tidak dianggap ada. Apapun yang terjadi kedepannya Nayla tidak perduli sama sekali yang paling utama adalah Felix.


"Tapi aku yakin banget Nay,, itu mobil Dokter Devan," ucap Reyna sambil lagi-lagi melihat mobil di luar, memperhatikan mobil itu dengan jelas.


Melihat Nayla yang tidak peduli sama sekali membuat Reyna bingung, padahal yang seharusnya pusing itu adalah Nayla kenapa malah dia yang pusing.


"Nayla kamu yakin tidak penasaran?" tanya Reyna.


"Nggak sama sekali! ngapain juga aku penasaran, bukan Dokter Devan itu kalaupun itu memang dia,, masa bodoh!!!" ucap Nayla.


Reyna menggaruk kepalanya yang tidak gatal,, kenapa hanya dirinya saja yang penasaran.


"Aku nggak mau mati penasaran Nayla,, aku mau memastikannya langsung," ucap Reyna lagi.


Nayla hanya mengangkat kedua bahunya tidak perduli sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2