
"Bunda," teriak Adnan sambil berlari menuju Nayla.
"Anak bunda udah pulang sekolah," Nayla mencoba mencium pipi Adnan tapi entah kenapa malah ditolak.
"Aku udah gede berhenti cium aku," ucap Adnan.
"Oh," Nayla pun mangguk-mangguk mengerti anaknya itu memang lucu dan menggemaskan.
Selanjutnya Nayla mendekati Felix berniat melakukan hal serupa, sayangnya sama saja Felix pun menolak untuk dicium.
"Alasannya?" Nayla ingin mendengar alasan anak pertamanya yang menolak untuk dicium juga.
"Aku sudah gede, dan aku nggak mau dicium," ucap Felix juga.
"Sok dewasa, sadar bocah," kesal Devan.
"Bunda ketemu ayah di mana sih?" Felix menunjukkan raut wajah kesal pada Devan.
Nayla tau tampaknya akan ada keributan yang terjadiz akan tetapi penasaran juga dengan maksud pertanyaan Felix.
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Apa nggak ada orang lain yang lebih baik?" papar Felix.
Pletak!!!
Devan pun mengetuk kepala Felix dengan kesal, anaknya itu memang tidak kalah konyol dengan keponakannya Rani.
"Lihat nih ngeselin," Felix pun mengusap dahinya, tidak lupa tatapan tajam masih pada Devan.
"Udah sekarang masuk dan ganti baju, Bunda sama Ayah juga baru pulang, butuh istirahat," kata Nayla.
Felix dan Adnan pun masuk, kemudian mengganti pakaian sesuai perintah Nayla.
Setelah kedua bocah itu masuk, Alex pun duduk di kursi dari tadi dirinya ingin bertanya langsung tentang satu hal.
"Aku ingin bicara soal Jessica," Alex memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanya Devan yang kini duduk di samping Alex.
Begitupun dengan Nayla juga duduk bersampingan dengan Devan, ketiganya duduk di teras menikmati siang yang cerah.
"Apa kalian tahu Jessica udah balik?" tanya Alex.
"Ya sudah! beberapa hari yang lalu," jawab Nayla membenarkan.
Alex terkejut dan tidak menyangka ternyata dirinya sendiri yang ketinggalan informasi tersebut.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku?" ada rasa kecewa saat tak ada yang memberitahu hal tersebut.
"Urusannya apa? bukankah kalian udah cerai? lagian aku nggak mau ikut campur urusan kalian, aku nggak mau kita berselisih," jelas Devan.
"Lalu apa dia sudah menikah lagi? dan anak perempuan itu," Alex masih terus bertanya tidak mengerti mengapa dirinya merasa memiliki suatu ikatan dengan anak Jessica.
Devan pun mengangkat bahunya seakan tak mengerti, tidak ingin ikut campur sama sekali.
"Coba jelaskan Devan," ucap Alex.
"Apa yang harus aku jelaskan, itu urusanmu kenapa bertanya padaku, kau mencintai perjuangkan! tanyakan pada dirimu sudah sebesar apa perjuanganmu, jangan menyalahkan orang lain terus menerus," tegas Devan.
Setelah mengatakan itu Devan pun bangun dari duduknya, segera masuk ke dalam rumah tak lama kemudian Nayla pun bangun dari duduknya masuk menyusul Devan.
__ADS_1
Saat Nayla dan Devan akan menaiki anak tangga terlihat Felix dan Adnan yang berlari menuruni anak tangga, Nayla panik dan langsung menegur, saat seperti ini naluri keibuannya pun muncul seketika.
"Felix, Adnan, nggak usah lari kalian bisa terpeleset dan jatuh! mau?" Nayla melebarkan kedua bola matanya agar kedua anaknya takut padanya.
Felix dan Adnan mulai berjalan dengan hati-hati hingga akhirnya sampai di anak tangga pertama.
"Yah! kok Bunda Felix, Nayla?" pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh bocah ingusan itu.
Nayla pun hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan anaknya.
"Karena Ayah cinta sama Bunda," jawab Devan dengan lugas.
"Ayah cari aman," ujar Felix santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Devan tersenyum sedangkan Nayla mendesus kesal.
"Ayah berkhianat," Adnan pun kesal pada jawaban Devan.
"Maksudnya gimana?" Devan belum mengerti dan butuh kejelasan.
"Bunda kan cerewet," ucap Adnan.
"Udah Yah, tukar tambah aja ke pasar," ucap Felix lagi.
Wajah Nayla memerah, ingin sekali menelan kedua anaknya itu kembali masuk ke dalam perutnya saat ini juga kalau memang bisa.
"Kabur," ucap Adnan dan Felix bersamaan.
Keduanya langsung melarikan diri melihat wajah marah sang Bunda yang membuat keduanya merinding ketakutan.
"Sayang mereka hanya anak-anak," Devan pun tertawa kecil sambil mengusap pundak istrinya dengan lembutnya.
"Itu anak Mas nakalnya bukan main," Nayla pun langsung menaiki anak tangga menuju kamar yang terletak di lantai dia, kesal rasanya mendengar kata-kata anaknya barusan.
"Pasti bilangnya itu anak ku," ucap Devan lagi.
"Mas aku nggak tuli," ucap Nayla.
"Hehehe," Devan pun tersenyum dan menggaruk kepadanya yang tidak gatal, awalnya berpikir Nayla sudah sampai di lantai dua namun ternyata masih cukup dekat dengannya.
"Ngomongin kok sembunyi-sembunyi, langsung aja orangnya di depan mata," ucap Nayla.
"Hehe, sayang nggak gitu kok," Devan malah nyengir kuda, takut dimarahi istrinya yang tengah termakan amarah.
Ini akibat dua kecebong yang selalu punya cara membawa dirinya ikut menanggung beban begini, Nayla pun segera menuju kamar, istirahat mungkin bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
#########
Akhirnya setelah pekerjaan selesai, segera pulang untuk berkumpul bersama Inggit dan Cahaya yang menunggunya di rumah, siang tadi setelah mengantarkan Cahaya pulang Jessica pun kembali ke perusahaan, sampai di rumah tidak disangka ada seorang tamu, Jessica tersenyum menyapa Aditya yang mungkin bersama ibunya.
"Apa kabar?" sapa Ferdian tidak kalah antusias.
"Baik!" Jessica mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Aditya.
"Kalian saling kenal?" tanya Arini.
"Kami udah lama temenan, Tante Arini Mamanya Aditya?" tanya Jessica.
"Iya," Arini tersenyum bahagia.
"Wah ternyata kalian sudah saling mengenal," imbuh Arini.
__ADS_1
"Oh iya, Mama lupa ini kan Dokter Aditya yang dulu sering main sama kamu kan, yah?" tanya Inggit.
Akhirnya Inggit mengingat siapa pria tersebut, awalnya dia pun bingung karena merasa pernah melihat akan tetapi masih belum bisa menyimpulkan dengan pasti.
"Kenal dong, Jessica kan istrinya Devan dan Devan itu keponakan saya," jelas Arini lagi.
"Oh begitu? kalau itu saya nggak tahu Arini, soalnya pernikahan Jessica singkat banget waktu itu, kamu juga sakit kan?" tanya Inggit.
"Iya, syukur beberapa bulan ini aku sembuh dari kanker dan bisa kembali ke Indonesia dan aku langsung menemui kamu," ucap Arini.
Arini dan Inggit tertawa mengingat pertemanan mereka sebelumnya dalam arisan ibu-ibu sosialita.
Di mana suami Arini dan suami Inggit sama-sama seorang pengusaha yang menjalin kerjasama cukup lama.
"Kamu kapan kembali?" tanya Aditya.
"Kita ngobrol di teman aja gimana?" tawar Jessica dan langsung diangguki oleh Aditya.
Keduanya duduk di gazebo teman belakang dengan pemandangan kolam renang.
"Mom," teriak Cahaya dari kejauhan.
"Itu?" Aditya tersenyum sambil melihat anak kecil yang semakin mendekati Jessica.
"Ya dia yang dulu aku kandung," Jessica tersenyum sambil memeluk Cahaya.
"Aya main sama Mbak dulu, Mama mau bicara sama Om Aditya, kamu cium tangan Om dulu," ucap Jessica.
Cahaya pun mencium punggung tangan Aditya kemudian masuk kembali menemui Art untuk main bersamanya.
"Aku tidak menyangka dia sudah besar sekali," ucap Aditya.
"Iya dan dia adalah segalanya untukku," jawab Jessica dengan senyuman.
"Aku ambilkan minuman dulu," Jessica kembali dengan membawa dua gelas jus jeruk dan meletakkannya.
Kemudian kembali duduk saling bersebelahan dengan Aditya.
"Diminum! aku buat sendiri," ucap Jessica.
"Tentu," Aditya mengangguk dan meneguk jus buatan Jessica.
"Nggak nyangka ternyata semua sudah banyak yang berubah ya, aku yang terlalu lama di negeri seberanh, pulang ke sini dan semua sudah berbeda," ucap Jessica.
"Ya begitulah" Aditya meletakkan gelas di tangannya.
"Apa dia pernah bertanya siapa Ayahnya?" tanya Aditya.
Jessica tersenyum dan mengangguk.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Aditya.
"Aku bilang kalau Cahaya jadi anak baik, suatu hari pasti ketemu sama Daddy," ucap Jessica.
Aditya mengangguk mengerti.
"Apa dia sudah tahu itu anaknya?" tanya Aditya lagi.
Jessica menggeleng.
"Sepertinya dia tidak ingin tahu," ucap Jessica.
__ADS_1
Jessica mengingat saat siang tadi tanpa sengaja bertemu dengan Alex, terasa tidak ada yang ingin dibicarakan oleh Alex untuk bertanya saja Alex tidak memiliki keinginan, mana mungkin dirinya menjelaskan sedangkan untuk saat ini saja dirinya masih mampu untuk membiayai Cahaya, pernah empat tahun lalu Alex mendatangi kediamannya dan berbicara dengan Inggit tapi semua hanya sampai di situ saja, selebihnya Alex terlihat santai tanpa peduli sama sekali.
"Entahlah Aditya mungkin saat hamil dulu aku terlalu sensitif sehingga mudah saja aku berpikir," ucap Jessica.