
"Nyonya Jessica?" ucap Nayla dalam keterkejutan,, Nayla segera bangun dari tidurnya.
Apa Nyonya Jessica akan mengusir ku? Tuan Devan? kemana Tuan Devan? batin Nayla penuh tanda tanya.
Nayla sangat ingat betul semalam Devan memeluknya dengan erat sampai dirinya tertidur pulas.
Apa tadi Nyonya Jessica memergoki kami? batin Nayla penuh tanda tanya,, dirinya terus menebak-nebak apa yang terjadi,, karena tidak biasanya Jessica datang ke kamarnya pagi-pagi begini. Nayla benar-benar panik.
"Maaf Nayla aku mengganggu waktu tidur mu,, tadi aku sudah meminta izin sama kak Andini, bahwa kamu istirahat saja selama lengan kamu masih belum sembuh total,,, dan kak Andini mengizinkan,, jadi kamu istirahat saja yah,, jangan mengerjakan apa-apa sampai kamu sembuh total,," ucap Jessica sambil melihat lengan Nayla dengan tatapan kasihan.
Nayla hanya mengangguk sambil melihat Devan yang ikut masuk ke dalam kamarnya membuat Nayla bertanya-tanya.
Apa semalam Tuan Devan tidur di kamarku atau tidak? kapan Tuan Devan keluar dari kamarku? batin Nayla yang entah mengapa begitu dipeluk Devan,, tidurnya menjadi sangat pulas bahkan Nayla tidak menyadari kapan Devan meninggalkan kamarnya.
"Nayla,, apa kamu mendengar ucapan ku?" tanya Jessica sambil melihat Nayla yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
Nayla sedikit tersentak.
"Iya Nyonya aku dengar,, terima kasih Nyonya,," ucap Nayla sambil melihat Jessica.
"Tidak,, jangan kamu mengucapkan terima kasih,, harusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu,, bagaimana keadaan lengan mu?" tanya Jessica.
"Sudah agak baikan Nyonya,," jawab Nayla.
Jika Jessica terlihat begitu santai dan perhatian pada Nayla,,, berbeda dengan Nayla yang merasa kebingungan dengan perhatian Jessica yang mendadak pada dirinya.
"Baguslah kalau gitu,, aku keluar dulu yah,, kamu istirahat saja yah,, biar lengan mu segera sembuh,," ucap Jessica sambil tersenyum pada Nayla.
Nayla mengangguk dengan kebingungan,, kini tidak ada lagi Jessica yang membenci dirinya yang ada tinggal Jessica yang iba pada dirinya,, merasa kasihan melihat Nayla yang seperti itu karena dirinya.
Ting...
"Datang ke rumah sakit," Devan mengirimkan pesan pada Nayla.
Nayla hanya mendengus kesal begitu membaca pesan dari Devan dan sangat malas untuk ke rumah sakit,, Nayla bingung dengan Devan yang tidak mau menceraikan dirinya,, padahal kalau Devan menceraikan dirinya Devan tidak perlu lagi repot-repot memikirkan dirinya. Dan juga tidak perlu lagi setiap saat takut akan ketahuan oleh keluarga Devan.
"Sekarang,," Devan lagi-lagi mengirimkan Nayla pesan.
Nayla tidak perduli sama sekali,, biarpun Devan terus mengirimkan dirinya pesan agar dirinya ke rumah sakit,, Nayla sungguh malas meladeni Devan.
"**Nayla, kamu cepat datang ke rumah sakit,, aku ingin memeriksa kandungan mu,, apakah baik-baik saja atau tidak setelah kejadian kemarin,," Pesan Devan lagi untuk Nayla.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja,, tak perlu diperiksa,," balas Nayla**.
"Jangan mengujiku Nayla,," balas Devan lagi.
Dengan rasa malas yang luar biasa,, Nayla mengikuti keinginan Devan untuk ke rumah sakit.
"**Sudah sampai?" lagi-lagi Devan mengirimkan Nayla pesan.
"Iya sudah,," balas Nayla.
"Kamu dimana?" tanya Devan lagi.
"Lagi mengantri,," balas Nayla**.
Nayla sedang duduk diantara ibu-ibu yang sedang mengantri juga menunggu nama mereka dipanggil.
"Masuk sekarang,,," balas Devan.
Nayla segera masuk ke dalam mengikuti perintah Devan,, tanpa mengantri lagi.
Devan melihat Nayla yang baru masuk ke dalam ruangannya,, wajah Nayla masih saja cemberut melihat Devan.
"Naik,," perintah Devan.
Itu anakku? batin Devan yang benar-benar terharu melihat anaknya,, Devan semakin tidak akan membiarkan Nayla pergi membawa anaknya begitu Devan melihat anaknya yang masih dalam kandungan.
"Sudah selesai,," ucap Devan tanpa memberitahukan keadaan anaknya pada Nayla.
"Suster apa dokter Alex masih lama datangnya?" tanya Devan.
Devan ingin Alex menggantikan dirinya untuk sementara karena dirinya ingin berduaan dengan Nayla,, lebih tepatnya ingin bersama anaknya yang masih di dalam kandungan.
"Dokter Alex sudah dalam perjalanan Tuan, mungkin sebentar lagi sampai,,," jawab perawat itu.
"Baiklah,, aku pergi dulu,," ucap Devan lalu segera pergi menuju ruangannya,, dengan Nayla yang mengikuti Devan dari belakang.
Sebenarnya Nayla sangat malas mengikuti Devan seperti ini,, terlihat jelas ekspresi wajah Nayla yang terlihat cemberut,, Devan menghentikan langkahnya ingin memastikan apakah Nayla masih mengikuti dirinya atau tidak,, Devan segera balik ke belakang.
Nayla tidak menyadari sama sekali jika Devan menghentikan langkahnya dan akhirnya Nayla menabrak Devan.
"Aaaaaa!!!"
__ADS_1
Nayla panik begitu merasa dirinya akan jatuh karena menabrak punggung Devan yang begitu besar.
Secepat mungkin Devan menahan tubuh Nayla agar tidak jatuh,, sudah dua kali Nayla dalam keadaan membahayakan kandungannya dan Devan sangat tidak suka itu,, Devan sangat tidak suka Nayla yang ceroboh yang bisa membahayakan anaknya.
Tapi entah mengapa Devan merasakan ketenangan saat memeluk tubuh Nayla.
"Lepaskan,," ucap Nayla lalu segera berdiri melepaskan diri dari pelukan Devan.
Devan tetap terlihat tenang meskipun dirinya sangat nyaman memeluk tubuh Nayla.
"Cepat masuk,," perintah Devan sambil membuka pintu ruangannya dan Nayla pun segera masuk ke dalam ruangan Devan.
Setelah Nayla masuk,, Devan segera mengunci pintu lalu berjalan ke dekat Nayla yang masih berdiri dengan wajah cemberut.
"Duduk,," ucap Devan lagi.
Lagi-lagi Nayla mendengus kesal meskipun begitu Nayla tetap mengikuti perintah Devan segera duduk.
"Kamu tidak sarapan? tidak minum susu?" tanya Devan dengan segala pertanyaan.
"Aku tidak lapar sama sekali,," ucap Nayla sambil terus cemberut karena kesal pada Devan yang tidak mau menceraikan dirinya.
Devan dengan segera memesan makanan melalui ponselnya hingga tak lama makanan pun sampai.
Devan segera mengambilnya lalu meletakkan di atas meja tepat di hadapan Nayla.
"Cepat makan!!!,," ucap Devan lagi-lagi yang membuat Nayla kesal.
"Aku tidak lapar,, aku tidak mau makan,," ucap Nayla ketus sambil melihat Devan dengan tatapan mata kesal.
Devan segera berdiri di depan meja lalu menarik kursi yang diduduki Nayla agar mendekat pada dirinya.
"Aku yang akan menyuapi kamu,," ucap Devan sambil mengambil sendok lalu menyuapi Nayla.
Nayla hanya diam tidak membuka mulutnya sama sekali,, bukankah dirinya sangat ingin disuapi Devan? namun mengapa sekarang dirinya hanya diam saja tak ingin menerima suapan dari Devan.
"Buka mulutmu,, kamu harus makan," ucap Devan lagi sambil melihat Nayla.
Nayla masih tetap pada pendiriannya yang keras tidak ingin membuka mulut.
"Nayla!!!," ucap Devan sambil melihat Nayla yang masih tidak mau membuka mulut untuk menerima suapan darinya.
__ADS_1
"Mas,, aku ingin kita cerai!!!,," ucap Nayla sambil melihat Devan.