Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Jatuh pingsan...


__ADS_3

Raut wajah bahagia Arini dari beberapa saat lalu benar-benar berubah seketika, setelah Jessica memutuskan pergi. bersama Alex.


Pesta yang di persiapkan sedemikian indah kini mungkin hanya sebuah pajangan dan sebentar lagi dirinya akan di permalukan.


Andai saja Arini tahu Alex dan Jessica masih suami istri, tidak akan mungkin semua persiapan ini di lakukan.


Tidak sama sekali.


Inggit memang menceritakan bahwa setelah pernikahan Jessica bersama Devan, kembali Jessica menikah dengan Alex dan mendapatkan seorang putri yang diberi nama Cahaya.


Itu pun tidak masalah bagi Arini, menurutnya meskipun seorang janda, Jessica dan putrinya tetap di terima masuk ke dalam keluarga nya asalkan bisa bahagia bersama.


Tidak pernah terpikirkan untuk sampai masalah sebesar ini, bahkan begitu sulit untuk dimengerti oleh logika.


Tangannya hanya memijat dahi berharap Aditya benar-benar tetap menikah dengan wanita yang barusan dikatakannya. Dengan alasan demi menyelamatkan harga dirinya.


Meskipun Arini ragu apakah wanita itu mau menikah dengan Aditya.


Arini bisa melihat Rima masih terlalu muda, sedangkan Aditya sudah termakan usia.


"Apa pernikahan sudah di mulai? Maaf aku terlambat," kata Ana datang dengan tergopoh-gopoh merasa tidak enak hati.


Arini menyadari kedatangan Ana, beralih menatap Ana yang berdiri di dekatnya. Mungkin Ana memang tidak tahu apa-apa hingga masih bertanya.


Arini seketika memeluk Ana, keduanya memang adik dan Kakak ipar yang saling menyayangi.


"Ada apa?" Tanya Ana kebingungan.


"Aku nggak tahu Mbak, apakah pernikahan ini nantinya bisa berlanjut atau tidak," ujar Arini dengan suara pelan berharap tidak ada yang mendengarnya.


"Kenapa begitu?" tanya Ana.

__ADS_1


"Jessica, sudah pergi dan aku takut Mbak, " jelas Arini lagi dengan suara bergetar.


Ana hanya bisa diam sambil mengusap punggung Arini, dirinya pun sebenarnya masih kebingungan. Tetapi, tidak berani bertanya melihat banyak orang yang melihat kearah mereka.


Arini dan Ana adalah ipar, jika Ana menikah dengan Bima Putra maka Arini menikah dengan mendiang Bian Putra atau adik dari Bima Putra yang sudah meninggal dunia beberapa tahun silam.


Aditya Putra adalah putra tunggal keduanya.


Rima terus berdoa berharap pernikahannya ada yang menggagalkan, mungkin dengan menghadirkan kedua orang tuanya saat ini.


Namun untuk itu Rima harus menunggu, dirinya duduk di kursi menantikan MUA merias wajah nya dengan secepat mungkin mengingat tamu yang sudah bertanya-tanya perihal pernikahan tersebut,


Bélum lagi omongan orang-orang lainnya yang lebih tajam dari tikaman belati.


Tapi haruskah Rima yang berkorban?


Tidak


Rima tidak mau tapi tidak juga bisa menolak.


Kesal rasanya harus menjadi pengantin pengganti, dirinya memang ingin menikah dalam waktu dekat. Hanya saja tidak dengan Aditya, melainkan dengan kekasihnya yang seorang perawat juga.


Tampaknya semua itu kini tinggal kenangan, Rima harus menikah dengan Dokter dingin yang untuk senyum saja begitu irit.


"Selesai," kata Sang MUA tersenyum puas melihat karyanya yang terlihat sempurna, beruntung wajah Rima cantik dan mulus hingga tidak ada drama yang seperti yang seperti biasanya saat merias calon mempelai wanita.


"Kenapa cepat sekali?" Rima bukannya ingin lebih lama di rias, tapi ingin para tamu segera pulang sehingga tidak perlu menikah paksa.


"Tapi, memang sudah selesai Mbak. Semuanya sudah sempurna, Mbak sudah sangat cantik," jelas sang MUA lagi.


"Begitu ya," tanya Rima lagi dengan wajah murungnya.

__ADS_1


"Cepat!" Tiba-tiba saja terasa ada tangan yang menariknya, ternyata Aditya.


"Dok, hati-hati!"


"Sebelum Mama ku benar-benar pingsan di tengah-tengah tamu yang datang, lebih baik cepat!" Aditya sendiri yang menjemput Rima.


Terkesan aneh dan lain dari pada yang lainnya, tentu saja. Sebab, biasanya akan ada orang lain yang membawa calon pengantin wanita menuju tempat pernikahan.


Sedangkan calon mempelai pria menunggu, lupakan. Saat ini pernikahan harus berjalan hingga Arini tidak jatuh pingsan lagi.


Rima mengedarkan pandangannya, melihat para tamu undangan yang sudah memenuhi acara.


Para tamu undangan terlihat begitu banyak, wajar saja kedua belah pihak keluarga akan sangat malu jika pernikahan ini benar-benar batal, pikir Rima.


Tetapi mengapa harus dirinya itu yang menjadi pertanyaan di benak Rima sampai saat ini.


"Duduk," bisik Aditya sambil mengeratkan giginya, mengisyaratkan bahwa dirinya sedang tidak ingin dipermalukan di hadapan orang-orang.


Rima pun terpaksa duduk di kursi saling bersebelahan dengan Aditya, kedua tangannya saling meremas satu sama lainnya di bawah meja. Tubuhnya terasa dingin seiring dengan jantung yang berdegup, keringat dingin mulai membasahi tidak dapat terbendung lagi.


"Dok, gimana nikah kalau nggak ada walinya?" Tanya Rima dengan suara pelan dan tertunduk.


Tidak ada jawaban sama sekali, Rima hanya berdoa semoga saja ada yang dapat menggagalkan pernikahan ini.


Tidak lama terdengar suara yang menyebutkan namanya, Rima pun mencoba mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.


"Bapak?" Gumam Rima melihat seorang pria paruh baya yang bergelar Ayah tengah berjabat tangan dengan Aditya.


Sampai di sini Rima seperti wanita tidak waras, karena bingung mengapa bisa ada Ayahnya di sana.


Sedangkan di kursi yang tak jauh dari Ayahnya, Ibunya duduk di sana menggunakan gamis batik.

__ADS_1


Setelah Aditya menerima nikah artinya Rima sudah sah menjadi seorang istri seiring dengan kata sah yang diucapkan oleh para saksi.


Dalam sekejap Rima jatuh pingsan tidak sadarkan diri setelah dinyatakan sah menjadi istri Aditya.


__ADS_2