
Hari ini Nayla sudah diperbolehkan untuk melihat keadaan bayinya, karena keadaannya juga sudah mulai membaik,, meskipun Nayla masih membutuhkan perawatan khusus. Devan dengan senang hati mendorong kursi roda Nayla menuju ke ruang rawat bayi mereka.
Kedua mata Nayla langsung berkaca-kaca begitu melihat bayinya berada di dalam inkubator.
"Siapa nama yang diberikan Papa Bima, Mas?" tanya Nayla ulang,, karena Nayla lupa meskipun Devan pernah menyebutkan nama anaknya. Tapi waktu itu dia masih belum terlalu pulih.
"Felix Bima Putra," jawab Devan sambil tersenyum melihat Nayla.
"Felix," ucap Nayla tersenyum memanggil nama anaknya, dirinya masih tidak menyangka bahwa saat ini dia telah menjadi seorang Ibu.
Air mata terus menetes dari pelupuk mata indah Nayla,, tidak pernah terbayangkan olehnya sedikitpun bahwa akan melahirkan anaknya dalam kondisi yang begitu memprihatinkan.
Bayi malang yang sudah ikut menderita bahkan sebelum dia dilahirkan ke dunia,, banyak perjuangan yang dilalui bayi itu dan dirinya. Air mata yang terbuang sia-sia tanpa bisa ditahan,, Nayla berharap bisa membahagiakan anaknya,, Nayla tidak ingin terus menderita.
"Sampai kapan dia terus berada di sini,, Mas?" tanya Nayla sambil melihat Devan.
"Sampai Dokter yang menangani anak kita mengatakan sudah bisa dibawa pulang,, dia akan di rawat dengan baik disini agar dia bisa segera dibawa pulang," jawab Devan.
"Aku juga tidak mau pulang kalau dia belum bisa pulang,, aku mau pulang bersama anakku," ucap Nayla sambil menatap terus kepada anaknya. Nayla ingin sekali merawat anaknya sendiri makanya dia terus menurut kepada Devan kalau Devan menyuruhnya minum obat,, keinginannya hanya ingin cepat sembuh lalu bisa merawat anaknya sendiri.
Devan mengerti dengan perasaan Nayla, mungkin dengan Nayla menjaga di rumah sakit juga, bisa membuat Nayla merasa sedikit lebih tenang.
"Iya,, tapi sekarang kita harus kembali ke ruang rawat tidak boleh berlama-lama di sini," ucap Devan lagi.
Nayla pun mengangguk lemah,, meskipun sebenarnya dia masih ingin berlama-lama melihat putranya,, tapi dia harus menurut apa kata Devan karena itu pasti untuk kebaikan anaknya dan juga dia supaya cepat sembuh.
Setelah kembali ke ruang rawatnya,, Nayla dibantu oleh Devan untuk naik ke atas ranjang kembali dan tidak lama Nayla pun kembali tidur,, semua itu karena pengaruh obat yang diminum oleh Nayla tadi membuat Nayla mengantuk.
Devan menatap wajah Nayla yang sedang tertidur lelap,, wajah yang penuh kerapuhan tanpa bisa ditutupi sedikit pun.
__ADS_1
#########
Sudah dua hari berlalu,, Devan masih setia menjaga Nayla,, dia hanya pulang sebentar ke rumah untuk melihat keadaan Jessica dan mengganti pakaian,, lalu pergi lagi ke rumah sakit untuk merawat Nayla yang masih dalam masa pemulihan sekarang.
"Ya ampun!! kok ini sakit sekali," ucap Nayla yang ingin menjerit sekencang-kencangnya,, tapi Nayla tahu itu tidak mungkin dia menjerit di rumah sakit,,, dua gunung kembarnya sekarang membesar empat kali lipat dari biasanya karena dipenuhi dengan ASI.
Ditambah lagi tempat menyusu bayi itu terlihat bengkak saat ini,, membuat Nayla merasakan sakit yang luar biasa, sekalipun begitu Nayla tidak ingin lemah karena ini adalah nikmat paling indah yang diberikan oleh sang pencipta di mana dia kini sudah menjadi seorang Ibu. Dia sudah memiliki seorang Putra.
Sekalipun dia merasa kesakitan,, tetapi percayalah hati Nayla begitu bahagia bisa memberikan ASI kepada anaknya, meskipun masih melalui botol dan menggunakan alat pompa ASI sebab Felix masih ada di dalam inkubator. Sedangkan Devan hanya bisa melihat saja,, sekalipun dia merasa sangat kasihan melihat Nayla yang kesakitan,, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena itu sudah kodratnya seorang wanita.
"Ya ampun kalau memompa ASI saja sudah sakit begini,, kenapa bisa ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya," gumam Nayla yang bertanya pada dirinya sendiri,, karena dia merasa tidak ada kasih sayang untuknya dari Ibunya hal itu membuat Nayla tampak berpikir keras,, bagaimana seorang Ibu yang merasakan kesakitan seperti ini tidak menyayangi anaknya.
"Sini," ucap Devan yang tahu Nayla tersiksa karena ASI nya yang sulit untuk keluar,, sedangkan di dalamnya sudah penuh bahkan sekarang terlihat membengkak.
"Mas mau apa?" tanya Nayla begitu melihat Devan yang mendekat kepada dirinya saat ini,, pikiran Nayla sudah benar-benar buruk sekarang melihat Devan yang mendekati dirinya.
"Itu botol susunya sudah penuh semua, ASI nya banyak sekali dan itu punyamu masih semakin membesar,, biar Mas yang bantu menyedotnya," ucap Devan.
"Sudah,, ayo sini biar kamu tidak kesakitan lagi, tidak usah kaget dan malu, kamu kan istriku,, aku sudah lihat semuanya," ucap Devan.
"Nggak ah! nanti juga baikan sendiri,, namanya juga masih baru-barunya jadi wajarlah kalau masih sakit," ucap Nayla cepat.
Nayla menolak dengan cepat,, kini dia sudah tidak lagi hamil,, dia sudah melahirkan,, hormon Ibu hamil sudah tidak ada lagi,, dia tidak memerlukan lagi batinnya terpenuhi,, Nayla sekarang sudah menjadi waras,, bahkan Nayla merasa benar-benar sangat malu jika mengingat, pernah dia sangat membutuhkan nafkah batin dari Devan,, saat mengandung pernah Nayla sangat sulit menahan keinginan disentuh oleh Devan. Kini benar-benar sudah tidak lagi,, dan dia tidak akan seperti itu lagi.
Devan pun tidak bisa lagi memaksa sekarang,, Nayla sudah kembali ke sikap keras kepalanya. namun beberapa menit kemudian Nayla kembali merintih kesakitan.
"Ayolah Nayla, kalau kamu tidak mau nanti kamu bisa demam," bujuk Devan agar Nayla mau.
Nayla pun dengan terpaksa mengangguk karena benar-benar merasa kesakitan dan juga tidak mau sampai demam. Devan segera membuka kancing baju Nayla yang terlihat kebesaran di tubuh kecilnya, tapi mengetat pada bagian dua gunung kembarnya,, bahkan sampai membengkak,, Nayla saat ini tidak menggunakan bra,, hingga memperlihatkan kedua ****** yang menonjol.
__ADS_1
Dua gunung kembar itu sangat besar bahkan sangat kesulitan memakai bra dan Nayla memilih untuk tidak memakainya.
Devan benar-benar terkejut melihat dua gunung kembar Nayla yang sangat besar.
Devan merutuki dirinya sendiri,, karena ketika melihat dua gunung kembar itu,, dirinya langsung panas dingin.
"Mas apalagi yang ditunggu, kalau tidak aku kancing saja bajuku kembali," ucap Nayla kesal karena Devan hanya melihat dua gunung kembarnya saja.
Devan langsung menyusu dengan cepat seperti bayi,, tapi sebelah tangannya malah memainkan bagian yang menganggur.
Plakkkkk....
Nayla langsung memukul tangan Devan yang sebelahnya,, karena ini bukan semacam mereka lagi di atas ranjang pikir Nayla,, bisa-bisanya Devan memainkan bagian yang sebelahnya pakai tangan.
Devan seakan dalam keinginan lain sekarang,, saat ini Devan seakan ingin bercinta.
"Mas ini jangan aneh-aneh dong," ucap Nayla kesal.
Devan langsung terkekeh sambil menahan tangannya yang sebelah untuk tidak kemana-mana,, Devan berusaha keras untuk tidak memegang bagian yang nganggur.
Devan sampai tersedak karena ASI yang begitu banyak,, hingga mulutnya tidak mampu menampungnya.
"Udah,, atau belum?" tanya Nayla yang ingin segera mengakhiri apa yang dilakukan Devan saat ini.
"Yang sebelahnya lagi,," ucap Devan lalu segera berpindah ke bagian sebelah gunung kembar Nayla.
Gunung kembar Nayla benar-benar terlihat sangat menantang. Devan tidak bisa melepaskan begitu saja gunung kembar itu, Devan sangat mudah panas dingin jika sudah berhubungan dengan tubuh Nayla,, sedangkan pada Jessica dia biasa saja malahan terkesan malas.
"Udah ah,, Mas," ucap Nayla lalu cepat-cepat menjauh hingga gunung kembarnya terlepas dari mulut Devan, lalu Nayla segera mengancing baju nya kembali.
__ADS_1
Setelah ASI keluar Nayla merasa jauh lebih baik, namun Devan yang saat ini tidak baik-baik saja.
"Mas, akan segera kembali," ucap Devan sambil menuju kamar mandi,, Devan akan bermain solo di dalam sana sambil membayangkan kedua gunung kembar milik Nayla.