
"Nggak mau! aku mau yang berliannya besar titik," ucap Reyna yang sudah dengan keras kepalanya, kalung berlian begitu besar menjadi pilihannya. Jadi apapun yang dipilihnya tentunya berdasarkan alasan tertentu.
"Ya sudah!" Nanda pun tak menolak jika menuruti semua keinginan Reyna dapat membuat hati Reyna luluh, dirinya tidak masalah, lagi pula jika memang mampu untuk membelikan semua itu kenapa tidak?
Mulut Reyna terus saja komat-kamit karena yakin Nanda tak akan mampu untuk membelikan, belum tentu juga mobil barusan diantar ke rumah, bisa saja Nanda yang ber halu, Reyna pun memegang sebuah paper bag dalam hati bertanya-tanya, benarkah berlian yang barusan dipilihnya dibeli oleh Nanda?
"Mau ke mana lagi?" tanya Nanda.
Reyna menggeleng! dirinya ingin pulang dan melihat mobil pilihannya apakah sudah sampai di rumah.
Rasa penasaran kian meronta-ronta ingin menyaksikan dengan nyata, andai mobil itu tak kunjung diantar maka mulut Reyna sudah siap untuk mencaci maki suami biawak sialnya itu!
"Pulang!" ketus Reyna.
"Ya udah," Nanda pun menurut saja berpikir Reyna sudah puas dengan barang belanjaannya.
Sampai di rumah betapa shock Reyna melihat mobilnya sudah sampai, terparkir di depan rumah, dirinya mendekati mobil itu dan melihat bagian dalamnya juga.
"Nanda" Reyna menggaruk kepalanya kebingungan.
"Itu mobil kamu," ucap Nanda.
"Kredit yah?" tebak Reyna dengan acuhnya.
__ADS_1
"Pasti iya! memangnya uang dari mana?" ucap Reyna lagi.
Nanda hanya diam tanpa mengangguk maupun menggeleng.
Istrinya itu memang suka sekali berbicara sembarangan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Seketika Reyna ingat bahwa Nanda pasti menginginkan dirinya, mobil yang bagus itu mendadak membuatnya tak tertarik.
"Aku nggak mau mobil kredit, aku maunya yang cash," Reyna lagi-lagi memberikan alasannya.
Jangan sampai mobil itu bulan depan langsung ditarik karena tak mampu membayar cicilan.
Apalagi kalau tujuan Nanda untuk menyerahkan dirinya sudah tercapai, tidak! Reyna tidak mau!
"Loh kenapa harus kredit?" tanya Arni bingung, dirinya dari tadi berdiri diambang pintu memegang surat kepemilikan mobil dan ingin memberikannya pada Reyna.
"Ini suratnya," Arni pun memberikan.
Reyna mengambilnya dan terbukti sudah jika mobil itu tidak kredit.
"Buatkan kopi," Nanda masuk terlebih dahulu, dirinya harus mengganti pakaian agar lebih segar.
Reyna masih diam di tempatnya, tak percaya melihat berlian dan mobil mewah sudah di depan mata dan itu Nanda yang membelikan.
__ADS_1
"Ma, sebenarnya Nanda kerjanya apa?" tanya Reyna.
Arni pun tersenyum mendengar pertanyaan menantunya tersebut, tampaknya Nanda memang menikahi wanita yang tepat.
Tidak mengetahui siapa suaminya sebenarnya artinya Reyna bukan wanita matrealistis.
"Dia pakai seragam kamu tahu seragamnya," jawab Arni dengan wajah tenang.
"Iya Ma, tapi..."
"Kamu buatkan kopi dulu untuk suamimu, kalau ada pertanyaan kamu tanya langsung padanya," Arni mengusap punggung Reyna sebelum masuk ke dalam rumah.
Reyna mencoba berpikir keras sambil berjalan menuju dapur, dirinya terus saja kebingungan siapa sebenarnya suaminya tersebut.
"Apa dia adalah seorang maling atau buronan yang suka meretas?" Reyna pun bergidik ngeri memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Tapi dari mana dia bawa uang banyak buat beli itu semua? aku harus menyelidikinya!" ucap Reyna.
Dengan membawakan secangkir kopi buatannya sendiri Reyna segera menuju kamar.
"Ini kopinya!" Reyna meletakkan di atas meja.
Nanda yang sudah menunggu langsung menyeruputnya, tubuhnya lebih segar setelah selesai mandi.
__ADS_1
"Reyna duduk dulu," Nanda menunjuk sofa dan menginginkan istrinya untuk duduk, dirinya ingin berbicara untuk yang kedua kalinya masalah pernikahannya dan Reyna.