Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Berharap!


__ADS_3

Banyak doa yang diucapkan oleh Nanda, dirinya cukup kesal menunggu kemunculan Reyna, apalagi dirinya sangat berharap jika istrinya itu tidak memakai apa-apa sekalipun hanyalah sebuah handuk saja.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Reyna keluar juga dari kamar mandi, ah sial! Nanda begitu kecewa ternyata istrinya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


Otak Nanda benar-benar tidak dapat fokus, tak lama berselang Hanif kembali masuk ke kamarnya dan mengatakan rapat akan dimulai kembali, Nanda pun memilih mengangguk dan segera pergi, lebih baik cepat menyelesaikan pekerjaan agar cepat kembali.


Saat rapat rasanya cukup membosankan, otaknya masih memikirkan Reyna dan hanya Reyna.


Dengan segera mengambil ponselnya dan kembali melihat CCTV, tampak Reyna telah duduk di kursi meja rias memakai body lotion pada bagian tubuhnya, sesaat kemudian handuk yang melekat pada tubuh Reyna terjatuh.


Glek!


"Bos bagaimana pendapat Anda?" tanya seorang manager hotel.


"Mulus," jawab Nanda masih fokus pada ponselnya.


Semua seketika saling pandang, mereka bingung akan jawaban aneh dari Nanda.


Mereka yang tengah berbicara masalah keuangan akan proyek baru, malah dibuat bingung.

__ADS_1


Salah satu dari mereka pun mencoba memberikan pertanyaan yang lainnya.


"Apakah ada saran dari anda, Pak?" tanyanya.


"Bagus dan mulus," jawab Nanda.


"Apa?"


Nanda seketika tersadar, seketika itu menyimpan ponselnya pada balik jasnya dan melihat orang-orang yang tengah menatapnya.


"Maksud saya, saya rasa semua sudah bagus dan selanjutnya kamu yang harus menghandle semua pekerjaan, saya harus kembali ke Jakarta," Nanda pun bangun dari duduknya setelah meminta Hanif menggantikan dirinya.


Entah apa yang terjadi Reyna dengan mudahnya bisa membuatnya gila semakin tidak waras, kembali ke rumah adalah pilihan tepat semoga juga Reyna memberikan haknya sebagai seorang suami, meletakkan CCTV diam-diam hanya membuatnya semakin kacau, menyesal rasanya melakukan hal itu, sebab matanya sendiri sudah berkali-kali melihat tubuh istrinya itu tanpa sehelai benang pun.


Setelah sampai di Jakarta malam sudah cukup larut, Nanda pun pulang dengan wajah kusut dan tubuhnya yang lelah.


Saat mengetuk pintu Arni yang ternyata membukanya, cukup terkejut melihat Nanda yang pulang sebelum jadwal yang sudah dikatakan.


"Bukannya kamu pulang tiga hari lagi?" tanya Arni.

__ADS_1


Bukannya mempersilahkan Nanda masuk, malah mencerca dengan pertanyaan, aneh bukan.


"Mama tidak senang aku pulang?" tanya Nanda.


"Bukan gitu tapi sudahlah ayo masuk," Arni pun menyingkir dari ambang pintu, memberikan jalan masuk bagi Nanda.


"Mama hampir lupa namanya juga pengantin baru mana bisa lama-lama jauh dari istri," seloroh Arni.


Nanda pun meneguk saliva, tebakan Arni kurang lebih ada benarnya.


"Reyna di mana Ma?" tanya Nanda.


"Di kamar, kamu nggak ngasih tahu dia, pulang hari ini?" tanya Arni.


Nanda pun menggeleng, bagaimana mau memberikan kabar pada Reyna, dirinya menghubungi nomor yang pernah diberikan oleh Reyna dulu, tapi ternyata itu nomor ponsel mertuanya, sungguh malu sekali rasanya dan sekarang Nanda pun tahu Reyna pasti tidak membutuhkan kabarnya, mungkin saja nanti ada waktunya dirinya dirindukan.


"Aku ke kamar dulu yah, Ma," ucap Nanda.


"Iya dasar pengantin baru," Arni pun tersenyum melihat betapa Nanda perhatian pada istrinya tanpa tahu keadaan sebenarnya antara anak dan menantunya.

__ADS_1


__ADS_2