
Devan segera melakukan tindakan dibantu dengan Reyna,, setelah tubuh Nayla tidak lagi kejang-kejang,, Devan segera menarik selimut sampai menutupi tubuh Nayla,, Nayla kembali terlelap karena obat yang diberikan oleh Devan.
"Dokter nyawa Nayla benar-benar dipertaruhkan saat ini,, janin itu sangat sulit untuk dipertahankan dokter, bukankah sebaiknya janin itu diangkat saja dokter,," ucap Reyna yang benar-benar tidak kuasa melihat Nayla yang sangat menderita saat ini.
Wajah pucat Nayla terlihat sangat memprihatinkan saat ini,, tidakkah Devan merasa sedikit kasihan saja pada Nayla yang sangat pucat saat ini.
"Kita lihat dua hari ke depan,, aku masih yakin janin itu masih bisa dipertahankan,," ucap Devan sambil menatap wajah Nayla.
"Tapi dokter,, bagaimana jika sebelum dua hari nyawa Nayla sudah tidak bisa tertolong lagi, Nayla kehilangan nyawanya?" tanya Reyna khawatir.
Seketika itu Devan langsung menatap Reyna,, kata-kata Reyna barusan merupakan ancaman yang sangat mengerikan untuk Devan.
Kehilangan janin itu maka otomatis Devan juga akan kehilangan Nayla,, Nayla akan pergi dari hidup Devan.
Jika dipertahankan maka resiko nya adalah nyawa Nayla juga.
"Dokter Devan,, jika janin itu diangkat masih ada kemungkinan bisa melihat Nayla di dunia ini,, tapi jika Nayla akhirnya kehilangan nyawa karena ini,, maka anda akan sangat bersalah karena itu semua terjadi karena anda,, bahkan secara tidak langsung anda sudah menjadi pembunuh nya,," ucap Reyna lagi.
Untuk kali ini Devan tidak lagi berbicara panjang lebar,, karena apa yang dikatakan Reyna memang benar semua,, Devan juga saat ini bingung harus melakukan apa.
Hingga ponsel Devan yang terus berdering dan tidak digubris sama sekali oleh Devan,, padahal di tempat lain ada istri yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Tapi suami yang dipikirkan nya,, yang dikhawatirkan nya saat ini tengah memikirkan wanita lain yang tidak lain adalah istri keduanya,, yang entah sudah memiliki tempat yang spesial dihati Devan atau tidak.
Bodohnya sampai saat ini Devan tidak mau melepaskan Nayla,, bahkan Devan sangat tidak rela melihat Nayla bersama dengan pria lain.
Itu bukan cinta,, Devan sadari itu. Lalu apa kalau bukan cinta? Devan pun tidak tau jawabannya apa. Devan juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bahkan Devan semakin tidak terkendali dengan kemauan dirinya terhadap Nayla saat ini,, apa yang diinginkan dirinya Devan tidak tau.
"Tunggu dalam dua hari ini,, apabila dalam dua hari ini kondisi Nayla belum baik-baik saja maka janinnya akan diangkat," ucap Devan yang masih belum yakin dengan ucapannya sendiri. Tidak rela jika kehilangan Nayla. Tidak rela ikatannya dengan Nayla tidak ada lagi. Tidak rela Nayla dimiliki pria lain.
Reyna merasa sedikit lega begitu mendengar ucapan Devan setidaknya ada cahaya dibalik kegelapan yang tengah melanda kehidupan Nayla saat ini.
Ada sedikit rasa bahagia dihati Reyna karena Devan menyetujui itu meskipun masih perlu dua hari lagi,, Reyna berharap kondisi Nayla tidak akan lebih buruk lagi dari sekarang.
__ADS_1
Semalaman Devan terus menjaga Nayla bahkan Devan menonaktifkan ponselnya agar tidak diganggu terus oleh Jessica. Tidak menjawab telepon dari Jessica satu kali pun.
Keadaan Nayla jauh lebih penting daripada apapun itu,, Devan juga masih berharap janin Nayla masih tetap bisa dipertahankan.
Devan juga tidak tau apakah nantinya Jessica bisa memberikan dirinya anak,, rahim Jessica sangat lemah,, Devan tau pasti itu.
Kini Devan hanya bisa berharap,, Nayla bisa memberikan dirinya seorang anak,, anak laki-laki maupun perempuan,, Devan akan tetap menyayangi nya dan tidak masalah untuknya.
Devan bahkan tidak sadar telah tertidur lelap di samping Nayla,, Devan tidur miring bahkan satu tangan Devan saat ini berada di atas perut Nayla.
Sekalipun tangan Nayla saat ini masih terpasang selang infus,, Devan tetap berdekatan dengan Nayla,, menjaga Nayla dengan penuh kehati-hatian.
Tiba-tiba Nayla merasa sesak,, Nayla merasa sesuatu yang berat tengah menindihnya. Lalu perlahan Nayla membuka mata,, ternyata sesuatu yang berat itu adalah tangan Devan yang tengah memeluk dirinya.
Ada apa lagi dengan pria gila ini? batin Nayla yang bingung dan penuh tanya dengan tingkah Devan.
Dengan kasar Nayla menyingkirkan tangan Devan dari tubuhnya bahkan Nayla berusaha menjauh dari Devan. Dan Devan pun terbangun.
Perlahan tangan Devan memeriksa dahi Nayla,, Devan ingin memastikan suhu tubuh istrinya yang sedang marah besar itu tetap normal atau tidak.
Nayla langsung menepis tangan Devan dengan kasar,, Nayla benar-benar sangat benci Devan termasuk tangan Devan.
Devan tidak marah sedikit pun,, sekalipun Devan tidak langsung mengatakan kata maaf,, tapi Devan sadar bahwa dirinya telah salah menilai Nayla.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Devan yang benar-benar tulus,, Devan sangat ingin berdamai dengan Nayla.
Ada apa dengan pria gila ini? apa dia sedang kerasukan? batin Nayla yang benar-benar bingung dengan kelakuan Devan yang sangat aneh menurut Nayla.
Nayla sama sekali tidak perduli dengan tawaran Devan saat ini,, Nayla hanya tersenyum miring dan tampak tidak perduli sama sekali.
"Nayla,, jangan sampai rasa sakit mu kembali kamu rasakan,,," ucap Devan khawatir.
__ADS_1
"Itu bukan urusan mu," ucap Nayla.
Devan tampak menarik nafas berat,, Devan mengerti dengan perasaan istri keduanya itu yang pasti sangat sakit saat ini,, mengingat beberapa hari ini perkataan Devan sungguh keterlaluan padanya.
"Apa kamu mau mangga muda?" tanya Devan lagi.
Nayla lagi-lagi hanya tersenyum miring dan tidak perduli.
"Mas buatkan nasi goreng yah?" ucap Devan lagi,, Devan tidak ingin kehabisan akal agar bisa melihat Nayla tersenyum manis padanya lagi seperti sebelumnya.
"Apa anda sedang kerasukan Tuan? Tuan Devan bukannya kemarin anda sangat kasar padaku? ingat Tuan Devan aku ini wanita murahan,," ucap Nayla yang tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Devan padanya.
Devan langsung tertunduk lesu,, menyesal karena telah mengatakan kalimat kasar itu karena dirinya yang tidak terkendali.
Sungguh pikiran Devan saat itu mengira Nayla dan Rian sudah melakukan hal tidak senonoh karena melihat Rian ke luar dari dalam kamar Nayla disaat tengah malam. Tapi ternyata tidak sama sekali,, apa yang dipikirkan tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi.
Penjelasan dari Rian membuat Devan sadar dan jatuh ke titik terdalam penyesalan.
"Maaf,," ucap Devan tiba-tiba.
Maaf?
Nayla sendiri benar-benar terkejut dan ternganga begitu mendengar seorang Devan meminta maaf padanya.
Nayla tertawa sekeras-kerasnya,, Nayla mengira telinga nya sudah rusak hingga dia salah mendengar.
"Nayla,," ucap Devan yang saat ini benar-benar menunjukkan ekspresi wajah penuh penyesalan.
Kali ini Devan benar-benar ingin mempertahankan janin yang masih berada di dalam kandungan Nayla,, Devan tidak ingin menjadi pembunuh anaknya sendiri.
"Orang sombong seperti anda meminta maaf pada seorang wanita murahan seperti ku,, apa itu mungkin?" ejek Nayla dengan tawa yang semakin keras seperti orang yang tidak waras.
__ADS_1