
Nanda pun tersadar seketika mengejar Reyna yang kini sudah membuka pintu mobil dengan cepat Nanda menutupnya sebelum Reyna masuk.
"Jangan sampai keributan kita menjadi tontonan orang-orang," Nanda pun kembali menarik Reyna masuk ke dalam rumah bahkan menariknya kembali masuk ke dalam kamar agar Arni pun tak melihatnya.
Walaupun Arni sudah melihat dari sudut ruangan saat Nanda menarik Reyna dengan paksa, yakin jika anak dan menantunya tengah bertengkar hebat.
"Ada apa lagi?" Reyna menghempas tangan Nanda, kesal bukan main saat Nanda hanya menuduh dan menuduh dirinya tanpa alasan yang jelas.
Andai saja Nanda bertanya dengan baik-baik mungkin pertengkaran ini tidak akan pernah terjadi, sikap wanita tergantung bagaimana pria menyikapinya, jika sang suami acuh maka wanita pun bisa demikian. Akan tetapi jika diperlakukan lemah lembut bukan tidak mungkin para wanita akan merajakan suaminya.
Dan saat ini Nanda membentaknya dari awal, maka itulah yang diberikan oleh Reyna membalas dengan kekasaran juga tentunya.
Dan itu pasti!
"Kenapa kamu suka sekali menghindari masalah? apa maksudnya mengatakan aku tidak mencintaimu?" Nanda kembali membahas topik pembahasan sebelumnya.
Bukankah Reyna sempat mengatakan hal demikian, lalu apa hubungannya dengan pertengkaran mereka?
"Katakan?"
"Apa lagi? aku harus bilang apa?" tanya Reyna tidak mau mengalah.
"Sudahlah! jangan memperpanjang masalah dan mengalihkan pembicaraan, kenapa kamu minum pil KB?" tanya Nanda lagi.
"Sudah aku katakan karena kamu tidak mencintai aku," jawab Reyna tegas.
"Apa hubungannya punya anak dengan mencintai atau tidak?" sampai saat ini tampaknya Nanda belum mengerti sama sekali, hingga ingin sekali Reyna memukul kepala Nanda.
"Tidak ada hubungannya! sudahlah aku mau pulang ke rumah orang tuaku saja dan aku tidak mau hamil," ucap Reyna.
"Reyna tunggu!" ucap Nanda.
"Apalagi? kalau mau marah silahkan aku bersedia mendengarkannya, setelah kau puas aku akan pergi!" ucap Reyna.
Dalam hati kesal bukan main, mungkinkan Nanda belum mencintainya sama sekali sehingga selama empat tahun menikah tidak ada satu kalipun kalimat cinta yang diutarakan oleh Nanda jika ditanya kesal atau tidak tentu jawabannya sangat kesal.
Bagaimana dia bersedia hamil jika Nanda tidak pernah satu kali pun mengatakan cinta, bagaimana jika nasibnya seperti Jessica, pergi saat masih mengandung.
Reyna tidak mau itu menimpa dirinya dan calon anaknya kelak.
"Aku mohon jangan pergi dan jangan lagi meminum pil itu," Nanda berharap kali ini Reyna mau diajak berkompromi.
"Memangnya kenapa?" wajah Reyna masih jutek dan belum mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.
"Agar kamu hamil!" jawab Nanda.
"Aku nggak mau hamil," ucap Reyna.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Karena aku nggak mau seperti Jessica, aku nggak mau anak aku terlantar bisa saja kau pergi saat aku mengandung, aku tidak mau!" ucap Reyna.
"Dasar gila!" Nanda pun mengetuk kepala Reyna cukup kuat hingga meringis.
"Lihatlah kau kasar!" ucap Reyna.
"Aku mencintaimu bodoh," Nanda kembali mengetuk kepala Reyna untuk kedua kalinya, tapi perkataan Nanda barusan mampu membuat Reyna terdiam tanpa kata.
Nanda mengatakan apa?
Apakah Reyna salah mendengar?
Ah! mustahil sekali pasti telinganya yang rusak.
"Kenapa diam?" tanya Nanda sambil melihat Reyna yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Nggak apa-apa, udahlah aku mau pergi," ucap Reyna.
__ADS_1
"Kau itu tuli yah?" kesal Nanda sambil melempar Reyna hingga terlentang di atas ranjang.
Reyna pun bangkit duduk di atas ranjang disusul Nanda duduk di sampingnya.
"Kasar banget jadi orang," gerutu Reyna.
"Itu karena kau tuli, dengar baik-baik!" Nanda menarik daun telinga Reyna dan berteriak.
"Aku mencintaimu!"
"Nanda aku bisa tuli," Reyna pun mendorong Nanda, gendang telinga serasa ingin pecah saat suara Nanda melenting.
"Kau memang tuli! aku bilang cinta kau banyak tingkah!" ucap Nanda.
Reyna pun seketika terdiam, tersadar dengan apa yang barusan dikatakan oleh Nanda.
Cinta?
Empat tahun menikah akhirnya hari ini Nanda mengatakan cinta, Reyna pun tersenyum dengan tidak sadar.
"Hei apa kamu sedang gila?" tanya Nanda menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Reyna, melihat istrinya senyum-senyum sendiri.
"Em... kamu sedang memikirkan sesuatu?" tebak Nanda.
"Ehem..." Reyna kembali menormalkan diri walaupun sebenarnya jantungnya semakin berdegup kencang karena kata-kata Nanda barusan.
Bahkan dengan kata itu saja bisa membuat Reyna bahagia hingga serasa melayang di awan yang biru.
"Ayo kenapa?" Nanda mencolek hidung Reyna dengan gemas, istrinya itu terlihat malu-malu.
Malu-malu tapi mau mungkin itulah gambaran yang tepat untuk saat ini menyimpulkan.
"Nggak apa-apa," elak Reyna berusaha tetap menunjukkan wajah marahnya walaupun sulit dan Nanda tahu istrinya tengah berbunga-bunga.
"Aku mencintaimu dan aku mau kamu hamil berhenti meminum pil itu," ucap Nanda dengan jelas.
"Kalau tidak cinta untuk apa aku menidurimu?" imbuh Nanda lagi.
Ya ampun Nanda.
Wajah Reyna memerah bahkan telinganya juga ikut memerah.
Apa maunya pria itu? berbicara hingga membuat Reyna tak menentu begini.
"Ya udah aku nggak akan minum pil KB lagi, tapi nggak usah diulangi lagi," ucap Reyna.
"Em,"
Nanda malah tersenyum dan bersemangat untuk menggoda Reyna lebih lanjut.
"Muka kamu panas yah?" ucap Nanda.
Reyna panik dan langsung memegang pipinya namun terasa biasa saja hingga dirinya kembali melihat Nanda.
"Mana ada," ucap Reyna dengan bodohnya, hingga tersadar dikerjain dia pun menciut.
"Ada yang malu-malu," seloroh Nanda.
Huffftt...
Ternyata Nanda sedang mengerjainya kenapa dirinya mendadak malu begini.
"Tapi nggak apa-apa namanya aku cinta kamu!" ucap Nanda lagi.
"Nanda cukup!" Reyna menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangan dan berharap tak mendengar kata receh dari mulut Nanda lagi.
Receh?
__ADS_1
Ya receh, tapi bisa membuat dirinya panas dingin begini.
"Kamu gimana sama aku?" kini giliran Nanda ingin tahu tentang perasaan Reyna.
Telinga Reyna semakin memerah seiring dengan pertanyaan Nanda, akan tetapi dirinya berpura-pura tidak mengerti lebih baik menjadi bodoh daripada mengakui cinta juga pada Nanda, Reyna takut malah Nanda mengejeknya lebih dari ini karena menahan jantung yang berdebar kencang.
"Apaan sih nggak jelas banget!" ucap Reyna.
"Kamu nggak cinta sama aku? nggak sayang sama aku?" Nanda terus mencerca Reyna dengan pertanyaannya.
"Apaan sih," Reyna masih diam dan tidak ingin menjawab.
Pernyataan cinta dari Nanda barusan sudah membuatnya terkejut hingga melayang sedangkan untuk perasaannya biar disimpan saja.
"Ayo ngomong!" ucap Nanda.
"Apanya?" tanya Reyna.
"Baiklah aku mau keluar kota, aku mau pindah dinas kamu tinggal di sini," ucap Nanda.
"Nggak mau! aku ikut," rengek Reyna tanpa sadar.
"Kamu nggak cinta sama aku!" ucap Nanda.
"Aku cinta sama kamu!" ucap Reyna.
UPS!!!
Reyna pun cengengesan saat menyadari kata-katanya barusan.
"Hehehe," Reyna malah nyengir kuda.
"Ahahaha," Nanda langsung memeluk Reyna dengan gemas.
"Bau!" teriak Reyna saat Nanda memasukkan kepalanya pada ketiak Nanda.
"Ahahaha," tawa Nanda semakin menggelegar saja.
"Satu tahun berapa hari?" tanya Nanda.
"Emang kenapa?" tanya Reyna balik.
"Jawab aja," ucap Nanda.
"356 hari," jawab Reyna.
"Bodoh," Nanda menyentil kepala Reyna.
"Aku tahu!" Reyna pun mulai mengingat dengan jelas.
"Berapa?" Nanda menunggu jawaban kedua dari Reyna.
"365 hari," jawab Reyna dengan bangganya.
Kali ini sudah pasti benar, yakin sekali!
"Pintar," Nanda mengetuk kepala Reyna cukup kuat bahkan sampai ada terdengar suara.
"Pintar sih pintar, nggak segitunya juga kali Nan," Reyna pun menggosok kepalanya hingga berulang kali.
Tapi ada rasa bangga karena menjawab dengan benar, seperti bocah ingusan yang memenangkan pertandingan hingga bangga sampai puncak langit biru, sedangkan Nanda tidak mempedulikan omongan Reyna, tetap fokus pada topik pembahasan awal.
"Terus kamu udah minum pil KB empat tahun, jadi 365 hari dikali 4 hasilnya berapa?" tanya Nanda lagi.
Keduanya duduk bersebelahan tapi kepala Reyna masih dijepit di bawah ketiak Nanda, baru saja keduanya terlibat ketegangan kini sudah baikan lagi.
"1040 hari," jawab Reyna dengan cepat.
__ADS_1
"Bodoh," Nanda kembali menyentil kepala Reyna dengan kencang.