Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Mempromosikan...


__ADS_3

Setelah berjam-jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Bogor,, lelah mereka seakan langsung terbayar begitu melihat keindahan alam puncak Bogor.


Vila yang diberi nama Andini Bima Putra yang terletak diantara kebun teh dengan sangat indah,, udara terasa sangat segar sehingga membuat siapapun senang berlama-lama ditempat itu,, bahkan akan sangat betah ditempat itu.


Nayla turun dari mobil dengan sangat berhati-hati sambil memeluk Rani yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Nayla, kok wajah kamu pucat sekali?" ucap Ana yang menyadari perubahan wajah Nayla,, sebelum berangkat wajah Nayla terlihat baik-baik saja,, tetapi begitu sampai wajah Nayla terlihat sangat pucat dan itu membuat Ana menjadi khawatir.


Mereka semua langsung melihat Nayla,, begitupun dengan Devan.


"Nyonya sepertinya aku masuk angin,, aku mau ke toilet dulu Nyonya,," izin Nayla.


"Iya kalau gitu kamu masuk saja ke dalam ada pekerja disana,, kamu tanya mereka yah dimana letak toilet,," ucap Ana yang khawatir pada Nayla.


Dengan langkah kaki setengah berlari Nayla masuk ke dalam Vila untuk mencari toilet,, Vila mewah yang baru saja selesai dan akan diresmikan nanti malam.


Setelah menemukan toilet Nayla langsung muntah lagi-lagi Nayla hanya memuntahkan cairan saja,, karena perjalanan jauh membuat Nayla merasa tidak nyaman dan juga sedikit pusing. Namun biasanya Nayla tidak seperti sekarang ini,, mungkin karena saat ini Nayla sedang hamil dan juga tadi Nayla mengurus Rani dan Raka ketika diperjalanan.


Nayla keluar dari dalam toilet sambil memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing.


"Nayla,, gimana kamu sudah agak baikan?" tanya Ana yang sejak tadi sudah menunggu Nayla di depan toilet sehingga membuat Nayla sedikit tersentak kaget.


"Sudah Nyonya,, maaf Nyonya aku terkadang mabuk perjalanan makanya seperti tadi," ucap Nayla berusaha menyembunyikan kehamilannya.


Ana mengangguk lemah sambil memperhatikan tubuh Nayla dari atas sampai bawah.


"Nayla,, kamu tidak lagi hamilkan?" tanya Ana tiba-tiba yang entah kenapa langsung menanyakan itu karena melihat banyak sekali perubahan pada tubuh Nayla dan juga sedikit kejadian aneh.


Seketika jantung Nayla berdetak lebih kencang dari biasanya,, rasa takut akan ketahuan mulai menghantui pikiran Nayla.

__ADS_1


"Lupakan pertanyaan ku tadi Nayla,, maaf yah kalau pertanyaan ku menyingung perasaan mu,, aku yakin kamu bukan wanita yang seperti itu,, sekali lagi maaf yah Nayla," ucap Ana yang merasa bersalah karena menanyakan hal seperti itu pada Nayla,, sesuatu yang sangat mustahil Nayla lakukan menurut Ana.


Ana sangat tau Nayla wanita yang baik-baik dan juga Nayla bukan wanita yang liar.


"Sekarang kamu ke kamar saja Nayla,, kamar kamu berada disana yah," ucap Ana sambil menunjuk sebuah pintu kamar yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


"Oh iya, aku akan memanggil Devan ke kamarmu untuk memeriksa keadaan mu," ucap Ana lagi.


Nayla benar-benar tidak mengerti mengapa keluarga Devan benar-benar sangat baik,, Ana,, Andini bahkan Jessica.


Andai saja mereka semua kejam dan jahat,, tentu Nayla tidak akan mundur untuk merebut Devan dari Jessica. Tapi itu tidak akan dilakukan Nayla,, karena keluarga Devan telah menganggap dirinya layaknya keluarga juga.


Nayla yang tidak ingin semakin bingung memilih untuk segera masuk ke dalam kamar yang belum lama ditunjukkan oleh Ana tadi.


Kamarnya tidak terlalu besar tapi mewah,, Nayla sangat nyaman di kamar itu,, bagi Nayla kamar itu sudah lebih dari cukup untuk seorang pengasuh seperti dirinya.


Mungkin banyak majikan diluar sana yang tidak akan mau menyiapkan kamar semewah itu untuk pekerjanya tetapi beda dengan Ana,, Ana menyiapkan kamar itu.


Nayla yang masih menunduk sambil memijat kepalanya merasa tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.


Lagi-lagi Ana yang masuk ke dalam kamar Nayla,, tapi setelah Ana masuk,, di belakangnya ada Devan dan Jessica yang ikut masuk ke dalam kamar Nayla.


"Nayla,," ucap Ana sambil duduk di samping Nayla yang saat ini masih berada di atas ranjang.


"Iya Nyonya," ucap Nayla.


"Aku sudah memanggil Devan,, kamu sebaiknya diperiksa oleh Devan dulu yah," ucap Ana sambil tersenyum lembut pada Nayla,, Ana melihat kasihan pada Nayla.


Nayla benci ini semua,, Nayla benci keluarga Devan sangat baik pada dirinya,, Nayla merasa sangat tidak tau diri karena kebaikan keluarga Devan,, Nayla balas dengan menjadi istri siri Devan.

__ADS_1


Andai Ana mengetahui semuanya,, Nayla saat ini pasti tidak akan sanggup meskipun hanya melihat wajah Ana saja.


"Nayla ayo baring biar diperiksa,," ucap Jessica juga sambil tersenyum pada Nayla.


Nayla pun menurut lalu segera berbaring agar Devan memeriksa keadaannya.


"Devan ayo segera periksa Nayla, tidak enak kalau lagi liburan begini dia sakit,, dia pasti tidak menikmati liburannya,," ucap Jessica lagi sambil melihat Devan.


Perlahan Devan mendekati Nayla, lalu segera memeriksa Nayla dengan ekspresi wajah dinginnya,, seakan mereka sangat asing,, tidak saling mengenal.


"Dia hanya kelelahan saja Ma,," ucap Devan sambil mundur beberapa langkah ke belakang setelah memeriksa kondisi Nayla.


"Syukurlah,, Nayla aku benar-benar sangat minta maaf karena mengira tadi kamu sedang hamil,, padahal itu semua tidak mungkin,, maaf yah," ucap Ana lagi dengan perasaan lega dan juga perasaan bersalah karena telah bertanya sesuatu kepada Nayla tadi yang mungkin bisa membuat Nayla tersinggung.


Degh!!!!


Devan terdiam sambil menatap Nayla dengan ekspresi wajah dinginnya,, bertanya-tanya dalam hati mengapa Ana bisa berpikiran sampai sejauh itu.


Atau mungkin Nayla sengaja menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya saat ini sedang hamil dihadapan Ana.


"Mama ini ada-ada saja,, itu sangat tidak mungkin,," ucap Jessica juga yang berharap agar Nayla tidak tersinggung dengan ucapan mama mertuanya.


"Iya,, mama bodoh sekali bisa berpikiran seperti itu," ucap Ana lagi yang benar-benar menyesali ucapannya pada Nayla.


"Nayla sebaiknya saat ini kamu istirahat saja yah,, karena tadi kak Andini bilang akan ada gaun untuk mu,, karena nanti malam...," ucap Jessica sambil tersenyum pada Nayla dan sengaja tidak melanjutkan ucapannya lagi,, karena sudah tentu Nayla juga mengerti maksud dari ucapannya.


"Kalau itu mama tau,, kamu mau dikenalin dengan Rian kan?" ucap Ana juga.


"Iya Ma,, Rian itu sepertinya cocok dengan Nayla," ucap Jessica juga yang sebelumnya merasa Nayla cocok dengan Nanda tapi saat ini mendukung juga Nayla bersama Rian,, begitu mendengar segala sesuatu mengenai Rian dari Ana dan juga Andini.

__ADS_1


Devan menatap Nayla begitu pun Nayla juga menatap Devan,, tanpa disadari oleh kedua wanita yang tengah berbicara mengenai perjodohan Nayla dan Rian.


"Rian itu pria yang baik,, pintar,, tampan,, mama juga sudah mengenal dia lama bahkan dari sejak Rian kecil," ucap Ana yang untuk kedua kalinya mempromosikan Rian.


__ADS_2