
Reyna pun terbangun saat pagi hari melihat ke samping tidak ada Nanda di sana, artinya Nanda tidak pulang semalam, ada rasa sedih yang terasa, rasa bersalah dan juga rasa takut, Reyna mengambil ponselnya dan menghubungi Nayla ingin bertanya cara menjadi istri.
"Halo!" jawab Nayla dari seberang.
Wanita itu masih hangat dipelukan suami tercintanya, tapi sudah diganggu oleh sahabat tersayangnya juga, Reyna merasa lega saat panggilan telepon diterima, artinya bisa mendapatkan tips menjadi istri dari Nayla yang sudah berpengalaman dalam urusan rumah tangga.
"Kamu sedang apa? aku ganggu yah?" tanya Reyna.
Bangkit dan berjalan ke arah jendela, menggeser gorden agar cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamar. Mata Reyna melihat sepeda motor Nanda yang terparkir di depan, artinya Nanda pulang pikirnya, tapi kapan Nanda pulang? mengapa tak masuk ke kamar.
"Ganggu lah! aku dan suami sedang memasang tapi kamu malah menghubungi aku, jadinya lagi enak banget harus dicopot terpaksa," jawab Nayla lagi.
"Kurang ajar!" rasanya Reyna kesal bukan main, dirinya yang bersedih dan tengah gundah gulana malah ingin tertawa karena Nayla.
Keduanya memang saling melengkapi saat salah satunya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.
Reyna beruntung bisa dipertemukan dengan Nayla, begitupun dengan Nayla yang beruntung bisa mengenal Reyna, sahabat lebih dari saudara itu sangat luar biasa.
"Cepat mau ngomong apa? kalau nggak penting udah aku mau lanjut nih," kesal Nayla lagi.
Padahal dirinya sedang kesal pada Devan, dari malam tadi sampai pagi ini suaminya itu mengajaknya lembur.
Sungguh luar biasa!
Luar biasa rasa sakit tubuh yang remuk tetapi harus ikhlas dan tulus.
Demi surga.
Saat ini pun Devan kembali memeluknya, di hari libur ini akan menghabiskan waktu berdua saja tapi bisa menjadi bertiga saat Felix datang dan pertengkaran ayah dan anaknya itu akan dimulai dalam memperebutkan dirinya.
"Nayla, gimana cara jadi istri?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Reyna.
"Aku serius mau memperbaiki hubungan ku dengan Nanda, bantu aku tolong!" ucap Reyna lagi.
Sejenak Nayla diam sambil menarik hidung Devan, suaminya itu sangat tampan sekali.
Entahlah mata Nayla sepertinya akan rusak bila terus melihat Devan.
"Caranya kamu siapin makanan, contohnya pagi ini kamu siapin sarapan, siapin pakaiannya jangan lupa seduh kopi atau teh sesuai kesukaan dia, tapi setahu aku Nanda sukanya kopi pahit," itulah yang diketahui Nayla saat bersahabat lama dengan Nanda dan kini memberitahukan pada Reyna istri sah Nanda.
Devan cemberut merasa cemburu karena Nayla tahu banyak hal tentang laki-laki lain.
Dirinya merasa itu sangat keterlaluan, seketika menyentil kepala istrinya dengan kesal, Nayla mengibaskan tangannya kesal pada Devan dan tak tahu sebabnya mengapa.
"Terus yang lainnya?" Reyna masih penasaran dan membutuhkan banyak jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
Antara dirinya dan Nanda memang belum saling mengenal, jadi dirinya akan kalah dari Nayla jika masalah hal-hal tentang Nanda.
"Setahu aku dia itu suka warna hitam dan biru, kalau makanan dia suka agak pedas, kalau masalah wanita itu yang aku nggak tahu, karena dia nggak pernah pacaran sama sekali, mungkin itu tugas kamu harus lebih dekat lagi agar bisa tahu banyak tentang dia," akhirnya dia pun memberikan saran.
Reyna seketika memutuskan panggilan sepihak, setelah mengetahui beberapa cara untuk bisa dekat dengan Nanda.
__ADS_1
Tidak peduli lagi pada rasa malu seperti yang lalu, kini Reyna malah lebih membulatkan tekad menjadi istri seperti yang diinginkan Nanda, meminta maaf karena sudah berbuat kasar, perban di kepala Nanda bagaikan pukulan keras bagi Reyna menyisakan penyesalan sangat dalam.
"Ya ampun main putuskan panggilan sepihak aja! dasar nggak tahu terima kasih," gerutu Nayla sambil menatap layar ponselnya.
"Kamu juga aneh kenapa tahu tentang suami orang," akhirnya Devan mengeluarkan kekesalannya, kecemburuan sekaligus kemarahan yang ingin meremas wajah Nayla.
Nayla menjauhkan kepalanya melihat Devan dengan bibir yang mengerucut.
"Nanda itu sahabat aku, Mas," ucap Nayla.
"Nggak ada sahabat antara perempuan dan laki-laki, Mas nggak suka," kata Devan tak kalah tegas.
Nayla pun marah, wajahnya memerah, jika saja kepalanya memiliki tanduk mungkin kini tanduk itu sudah muncul.
"Nanda itu sahabat aku, saat aku susah siapa yang ada? Nanda, saat aku lagi sedih, lagi kesulitan ekonomi saat butuh tumpangan untuk pergi bekerja, saat Felix sakit harus diantar ke Dokter semua itu hanya ada Nanda dan Nanda," ucap Nayla.
Apakah Devan masih dengan gilanya menuduhnya dan Nanda memiliki hubungan khusus juga.
Di saat sedang berbadan dua begini tidak usah mengajaknya berdebat, apapun alasannya Nayla tidak akan pernah bisa kalah, kalaupun kalah maka Devan harus mengalah, bukankah wanita harus benar? apalagi jika sudah benar mana mau disalahkan.
"Ya sayang maaf," mencoba untuk menenangkan Nayla sebagai seorang suami sekaligus Dokter spesialis kandungan, tentunya Devan sangat mengerti tentang ibu hamil.
Jadi untuk saat ini pun, dirinya memposisikan diri sebagai Dokter khusus Nayla dan juga suami.
"Maaf... maaf kalau ngomong dipikir, Mas sekarang iya sayang sama aku, dulu? Mas datang cuma karena butuh sarang buat burung Mas doang, udah siap, olinya udah dibuang pulang terus paling sebelum pulang menghina, siapa yang ada?" tanya Nayla tak membendung amarah.
Devan tidak menyangka bahwa memori internal berkapasitas tinggi adalah milik wanita, bahkan sampai di akar-akarnya tak akan pernah bisa hilang begitu saja.
Ah sial!
Wajah Devan yang tampan bisa meluluhlantahkan perasaan Nayla, aneh sekali.
Mengapa bisa Devan begitu tampan? matanya setajam elang membuat Nayla tak bisa beralih sedikitpun.
"Sayang maaf," pinta Devan lagi dengan menangkup kedua tangannya.
"Iya jangan diulangi lagi dan harusnya Mas berterima kasih sama Nanda yang udah banyak banget kehabisan tenaga, waktu, uang cuma buat anak Mas, Felix," ucap Nayla.
"Iya sayang maaf yah, Mas janji nggak akan cemburu lagi kalau sama Nanda, asalkan kamu nggak dekat-dekat sama dia," Devan cengengesan persis seperti Rani yang imut.
Andai saja Devan ompong sudah pasti tak ada bedanya.
"Kamu mau maafin Mas nggak?" tanya Devan.
"Iya dimaafin," jawab Nayla dengan wajah kesal.
"Yang ikhlas dong sayang," ucap Devan.
"Ikhlas Mas," ucap Nayla.
"Sayang ada nyamuk" Devan menutup wajah Nayla dengan selimut.
__ADS_1
Seketika terdengar suara bom meledak tak lupa aroma yang khas menyeruak.
"Mas!" Nayla segera meloloskan diri dari balik selimut, kesal sekali saat Devan buang angin sembarangan.
"Ahahahaha..." Devan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Nayla.
Nayla yang kesel mengambil bantal sofa dan melemparnya pada Devan.
Devan terus tertawa kencang semakin wajah Nayla kesal semakin membuatnya bahagia.
Tangannya berada di depan wajah untuk melindungi diri dari serangan bantal.
"Dasar nggak sopan!" pekik Nayla.
"Bukan nggak sopan sayang, itulah cintanya Mas ke kamu," Devan masih saja tertawa tanpa henti, bagaimana tidak selama ini dirinya yang sulit dekat dengan orang malahan bisa berubah gila saat bersama dengan Nayla, peduli setan dengan harga diri seperti yang ditunjukkan pada orang-orang di luar sana termasuk pada Nayla.
"Cinta apanya? itu kentut bau bangkai," Nayla ingin sekali muntah, sungguh aroma bau kentut Devan mendekati aroma bau bangkai.
"Mana ada? kata orang yang sedang jatuh cinta bau kentut terasa bau surga," celetuk Devan lagi.
"Dokter gila," ucap Nayla.
"Enak aja! itu pembuktian cinta Mas yang besar, kentut aja cuma buat kamu apalagi cinta," Devan menyilang ibu jari dan telunjuknya pada Nayla.
"Dasar jorok!" Nayla segera masuk ke dalam kamar mandi, sudah tak sanggup rasanya terus berhadapan dengan Devan.
"Sayang ikut," Devan meloncat dari ranjang dan ingin ikut masuk.
Sayangnya Nayla sudah terlebih dahulu menutup pintu.
Plak!!!
"Aduh," Devan mengusap kepalanya yang terbentur daun pintu.
Sesaat kemudian kembali tersenyum membayangi wajah istrinya yang sangat cantik.
Pagi-pagi begini tapi istrinya itu sudah sangat menggemaskan.
"Sayang ponsel mu bunyi, Reyna nelpon lagi," teriak Devan.
Nayla pun segera keluar namun ternyata Devan menipunya.
"Tapi bohong," Devan mencoba masuk saat pintu terbuka.
"Dasar suami gila!" dengan cepat Nayla kembali menutup pintu, beruntung Devan tak mendorong kuat hingga bisa kembali menguncinya.
"Sayang bukain dong!" Devan menempelkan telinganya pada daun pintu, berharap ada jawaban dari dalam sana.
"Sayang ponsel kamu bunyi, kali ini beneran," seru Devan lagi.
Nayla sudah tak percaya lagi pada Devan yakin sekali suaminya itu akan membohongi dirinya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Sayang ponsel kamu bunyi, siapa tahu penting," ucap Devan masih berjuang untuk masuk.