
Tangan Jessica meletakkannya di atas ranjang.
"Mainannya kok dibuang?" tanya Jessica lagi sambil duduk di sisi ranjang dan mengelus kepala Cahaya.
"Aya nggak mau, kata Oma dia jahat," jawab Cahaya sambil menunjuk Alex.
Hati Alex tidak henti-hentinya merasakan sakit, mungkin Inggit pun mengatakan sesuatu yang membuat Cahaya membencinya, Jessica memeluk Cahaya dan mencium pucuk kepala putrinya hingga berulang kali.
"Mom boleh tanya sama Aya?" tanya Jessica dengan gaya bahasa anak kecil agar mudah dimengerti putrinya yang masih kecil.
Cahaya pun mengangguk sebagai jawaban setuju atas pertanyaan Jessica.
"Pernah Mom ajarkan Aya tidak sopan pada orang tua?" tanya Jessica.
Cahaya mendongak menatap manik mata Jessica kemudian menggeleng, Jessica pun tersenyum dan kembali mencium kening putrinya.
"Terus kenapa Aya nggak sopan sama orang tua? sama Daddy lagi?" tanya Jessica.
Cahaya beralih menatap Alex yang juga tengah menatapnya, dirinya bingung dengan penjelasan Jessica.
"Tapi teman-teman bilang Daddy itu adalah orang terdekat, kok Aya nggak kenal sama Daddy?" tanya Cahaya balik.
Pertanyaan Cahaya cukup sulit, menjelaskan pun tidak boleh dengan cara keras membuat Jessica berpikir dan mencari jawaban yang tepat.
"Jadi gini Mom mau cerita, apa Aya mau dengar?" tanya Jessica.
Cahaya mengangguk pelan.
"Setiap orang itu berbeda-beda, ada yang lebih istimewa dari teman-teman dan itu Aya," ucap Jessica.
"Aya Mom?" tanya Cahaya.
"Iya Aya itu istimewa jadi tidak sama dengan teman-teman tapi semua Mom dan Dad di dunia ini sayang sama anaknya, apalagi Daddy nya Aya kan istimewa," jelas Jessica.
"Ayo minta maaf sama Daddy," ucap Jessica lagi.
Cahaya pun mengangguk dan tersenyum pada Alex.
"Minta maaf ya Dad," pinta Cahaya dengan senyumnya yang manis.
Alex tersenyum getir, air matanya menetes mendengar panggilan yang barusan diucapkan oleh Cahaya.
Daddy?
__ADS_1
Rasanya begitu menyakitkan namun juga ada rasa haru di dalamnya.
"Daddy boleh peluk Aya nggak?" tanya Alex penuh harap.
Cahaya tidak langsung menjawab dirinya melihat Jessica dan membutuhkan persetujuan sang Mommy, Jessica mengangguk dan berpindah dari tempatnya hingga perlahan Alex duduk di tempat yang sebelumnya diduduki oleh Jessica bahkan Jessica keluar membiarkan Alex dan Cahaya di dalam sana, dirinya memilih menunggu di luar.
"Daddy peluk Aya yah?" ucap Alex.
"Iya," ucap Cahaya.
Alex pun memeluk Cahaya mengusap beberapa kali kepala anaknya dengan penuh kelembutan, air matanya kian tak terbendung merasakan tubuh kecil putrinya begitu saja, ini benar-benar di luar dugaan dirinya menjadi seorang Ayah sudah sejak lama, namun baru kini diketahui.
Ayah macam apa?
Alex sadar dirinya memang tidak pantas disebut seorang Ayah, tetapi bolehkah Alex berusaha untuk menjadi lebih baik?
Menjadi Ayah yang terbaik untuk Cahaya, berusaha membahagiakan anaknya tanpa henti.
Hukuman ini benar-benar memukul dada, menusuk jantung, meremas ulu hati dan pikiran yang terkuras habis.
"Daddy sayang nggak sama Aya?" tanya Cahaya.
"Sayang sampai kapanpun Daddy cuma sayang kamu," jawab Alex sambil mengusap air matanya hingga beberapa kali.
"Benarkah?" Cahaya tersenyum bahagia walaupun hanya sedikit pernyataan dari Alex.
"Dulu Mom bilang, kalau Aya boleh ketemu Daddy setelah jadi anak baik, berarti sekarang Aya udah jadi anak baik dong?" tanya Cahaya dengan cerewetnya.
"Iya!" tidak ada kata yang tersusun rapi keluar dari bibir Alex, sudah dipanggil Daddy dan dianggap ada pun cukup membuat hati Alex bahagia.
"Kalau anak baik boleh dapat hadiah nggak, Dad?" tanya Cahaya.
"Memangnya Aya mau hadiah apa?" tanya Alex dengan penuh semangat.
Tentu apa saja yang diinginkan oleh anaknya akan diberikan oleh Alex tanpa terkecuali dirinya benar-benar ingin menebus dosa terhadap Cahaya.
Cahaya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan satu jari telunjuk seakan sedang berpikir keras sambil duduk di atas pangkuan Alex.
"Apa ayo?" Alex tersenyum sambil menunggu keinginan Cahaya.
Sepertinya bocah cantik itu benar-benar memikirkan hal yang diinginkannya selama ini.
"Aya maunya kita foto bertiga, ada Mom, Aya di tengah terus Daddy juga," pinta Cahaya.
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Alex.
"Buat dikasih lihat ke teman-teman kalau Aya juga punya Daddy," jawab Cahaya dengan cepat.
Alex terdiam mendengar jawaban Cahaya, keinginan putrinya itu cukup sederhana tetapi penuh makna.
"Kata Mom, Aya satu minggu lagi Aya ulang tahun, Aya mau undang teman-teman terus ngenalin Daddy sama teman-teman juga," tambah Cahaya lagi.
"Aya ulang tahun satu minggu lagi?" tanya Alex.
Aneh tapi begitu adanya, Alex tersenyum untuk kebodohannya sendiri yang bahkan tak mengetahui kapan hari kelahiran putrinya sendiri, ini luar biasa Alex ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya dengan penyesalan yang terdalam, hanya ingin membuat Jessica bebas dan bahagia atas penyesalannya selama bersama dirinya, malah ternyata menelantarkan anaknya sendiri, ini kebodohannya yang begitu luar biasa Alex sangat mengakui dirinya yang bodoh.
"Daddy nggak mau yah?" tanya Cahaya.
"Em..." Alex tersadar dari lamunannya dan mencium dahi Cahaya.
Cahaya masih melihat Alex seakan menantikan jawaban.
"Iya nanti kita foto bertiga," jawab Alex walaupun sebenarnya belum tahu apakah Jessica menyetujuinya, paling tidak dirinya sudah berusaha untuk membuat putri kecilnya bahagia, mungkin jika Jessica tidak mau dirinya bisa mengedit foto mereka menjadi satu gambar yang sama sehingga Cahaya bisa bahagia.
Apapun untuk putri kecilnya.
"Terus kapan kita foto?" tanya Cahaya
Belum juga Alex selesai berpikir pertanyaan Cahaya cukup membuatnya bingung.
"Nanti kalau Aya udah sembuh kita foto bareng," Alex tidak ingin membuat Cahaya kecewa.
Akan mencoba untuk berbicara langsung pada Jessica, semoga saja Jessica pun menyetujui hanya untuk foto demi putri mereka.
"Makasih dad," Cahaya yang bahagia langsung mencium pipi Alex, akan tetapi tanpa diketahui oleh Cahaya jika Alex jauh lebih bahagia.
"Nanti ulang tahunnya mau seperti apa?" tidak ingin hanya sampai di sana, Alex pun mencoba bertanya mungkin bisa mengabulkan yang lainnya lagi sesuai keinginan Cahaya.
"Nggak ada! Aya cuma mau kenalin Daddy ke teman-teman terus kita dinner bertiga, ada Mom, ada Daddy dan Aya juga, pakai lilin ada lampu kelap-kelip, udah itu aja," mungkin pesta mewah dan megah sudah sering didapatkan oleh Cahaya.
Tetapi untuk merasakan keluarga yang utuh baru kali ini jadi keinginannya sederhana saja, duduk bertiga dirinya berada di tengah diantara kedua orang tuanya dan tersenyum sambil bercerita tentang banyak hal.
Alex mengangguk, mengagumi putrinya sendiri, hati putrinya tidak berbeda jauh dengan Jessica rendah hati, tidak sombong dan hanya memiliki keinginan sederhana namun penuh makna.
"Iya asalkan Aya sembuh Daddy pasti setuju," ucap Alex.
"Hehehe" Cahaya memeluk Alex, meluapkan rasa bahagia yang tidak terkira.
__ADS_1
Jika kecelakaan itu tidak terjadi mungkin sampai kini dirinya tidak tahu siapa Ayahnya.
Kejam!!!