Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Amit-amit,,,


__ADS_3

Acara masih berlanjut,, Nayla sudah mengganti pakaiannya dengan gaun pesta pernikahan yang sangat indah. Ana benar-benar menggelar pesta pernikahan yang sangat meriah di salah satu Hotel miliknya, agar semua orang tahu bahwa Devan dan Nayla adalah sepasang suami istri dan nantinya tidak menimbulkan tanda tanya apalagi fitnah karena terus bersama. Suasana semakin bertambah ramai, tamu undangan mulai memadati lokasi pesta pernikahan dari kerabat sampai rekan bisnis dan juga teman-teman Devan maupun Bima Putra.


Tiba-tiba saja mata Nayla menatap seorang tamu spesial yang ditunggu-tunggu, Nanda akhirnya datang juga.


Padahal Nayla sudah menunggu sejak pagi tadi acara ijab kabul, tapi tak mengapa asal datang juga, mengerti mungkin ada kesibukan lain meskipun ada rasa sedikit kecewa,, karena Nayla sangat mengharapkan Nanda datang dari tadi. Nanda sudah sangat banyak membantu dirinya sewaktu dia belum kembali dengan Devan.


"Selamat! akhirnya aku masih sendiri," Nanda mengulurkan tangannya pada Nayla.


"Kamu jahat banget baru datang," Nayla menatap Nanda penuh kemarahan.


"Maaf! tadi pagi Mama datang dari kampung dan aku harus nganter ke rumah sakit, maaf ya!!" Nanda menangkup kedua tangan merasa tidak enak hati.


"Iya nggak apa-apa,, yang penting kamu datang," ucap Nayla.


Nanda tersenyum sekalipun dirinya merasa tak enak hati karena baru bisa datang, keduanya bercerita sesekali melempar candaan yang cukup menggelitik perut, tidak ada kontak fisik selain berjabat tangan,, Nanda menghargai Devan sebagai suami Nayla.


"Dia ini calon suami Reyna?" Ana cukup penasaran dengan Nanda.


Melihat baju batik yang dipakai oleh Nanda adalah baju yang digunakan keluarga, mungkin sisa satu saat itu diberikan untuk pria tersebut pikirnya,, Reyna yang berdiri di samping Ana kaget mendengarnya,, bahkan dirinya sangat membenci Nanda.


"Tante bukan! aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia,, dia ini bukan tipe ku," ujar Reyna sambil menatap Nanda.


Nayla tahu apa yang akan terjadi, pasti akan ada perang dunia ke tiga,, jika keduanya sudah bersama dalam suatu tempat yang sama. Mereka berdua itu tidak pernah akur.


Nanda hanya diam menatap wanita pecicilan di hadapannya,, dirinya merasa tidak penting berdebat dengan Reyna,, karena akan membuang-buang waktu saja.


"Loh, dia tampan begini," Ana tersenyum pada Nanda,, karena Nanda memang benar-benar tampan dan juga postur tubuh yang begitu gagah.


"Ma,, dia Nanda sahabat ku," Nayla memperkenalkan Nanda pada Ana.


Devan sedang berbincang-bincang dengan beberapa teman-temannya, saat melihat Nanda begitu dekat dengan Nayla, segera undur diri dari teman-temannya memilih bergabung bersama Nayla.


"Nanda tante," Nanda mengulurkan tangannya pada Ana sambil tersenyum.


"Saya Ana, Mama mertuanya Nayla," Ana terlihat begitu ramah sambil tersenyum juga.


"Dia ini sahabat kamu?" Ana menatap Nayla.


"Iya Ma," jawab Nayla sambil menatap Ana.


"Reyna juga sahabat kamu,, jangan-jangan jodoh," ucap Ana.


Reyna tersenyum miring begitu mendengar ucapan Ana.

__ADS_1


"Tan, biar cuma tinggal satu laki-laki di dunia ini dan itu dia! aku nggak akan mau," Reyna menatap Nanda dengan penuh kebencian,, dirinya sangat tak menyukai Nanda.


Nanda masih memilih diam dengan wajah datarnya, menatap Reyna tanpa ingin membalasnya.


"Hus!!! nggak boleh ngomong begitu, Devan juga dulu nolak terus pas Tante jodohkan sama Nayla, alasannya nggak kenal,, nggak ada chemistry,, eh... tahu-tahunya udah lahir Felix," Ana mengejek Devan.


Bagaimana tidak aneh, sebelum Devan menikah dengan Jessica, Ana sempat menjodohkan putranya tersebut dengan baby sitter kedua cucunya, tetapi tegas ditolak. Dan anehnya tahu-tahu sudah menikah, memiliki seorang anak saat ini pun tak bisa lepas dari Nayla,, Devan tahu dirinya menjadi topik sindiran Ana,, tapi dirinya memilih tak peduli.


"Ogah aku sama dia!" ketus Reyna.


"Oh!" Ana tersenyum menatap Nanda dan Reyna secara bergantian.


"Saya permisi Tante,, saya alergi dekat-dekat dengan cewek pecicilan," Nanda menatap Reyna dengan mengejek.


"APA!!!?" pekik Reyna sambil menatap punggung Nanda semakin menjauh darinya.


"Reyna udah," Nayla menahan lengan Reyna yang ingin mengejar Nanda.


"Di sini banyak orang, ayolah jaga sikapmu, jangan mempermalukan diri sendiri," bisik Nayla.


Reyna menatap sekitarnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Nayla, beruntung diingatkan jika tidak sudah pasti dirinya yang malu sendiri.


"Ingat jodoh itu mirip dan kalian?" Ana terkekeh geli melihat kelucuan Reyna saat berhadapan dengan Nanda.


"Tante," ucap Reyna dan Ana pun berlalu pergi sambil tersenyum bahagia sambil mengejek Reyna dari kejauhan.


"Hai, gimana kebaya aku?" Jessica menunjukkan kebaya yang melekat di tubuhnya pada Nayla dan Reyna.


"Bagus banget," puji Nayla.


"Kita samaan Kakak ipar," ucap Reyna yang tidak kalah antusias apalagi itu adalah kebaya persatuan yang dibelikan oleh Ana untuk mereka.


Jessica dan Reyna berpelukan dengan bahagia, seketika meminta juru potret mengambil gambar mereka.


"Aku gimana?" tanya Nayla dengan rasa cemburunya.


"Ayo," ucap Jessica.


Akhirnya ketiganya berpose di depan kamera dengan penuh bahagia, mengabadikan kenangan indah tersebut. Devan merasa diacuhkan oleh Nayla seketika menarik istrinya untuk tetap berada di sampingnya.


"Diam! aku ini suamimu!!!" bisik Devan.


"Iya tapi..."

__ADS_1


"Jangan pergi ke sana sini,, ini acara pernikahan,, kalau aku sendiri artinya..." Devan menatap Nayla,,


"Sunatan," ucap Devan lagi,, Nayla tertawa mendengar keluhan Devan seketika memeluk lengan Devan dengan eratnya.


Devan pun menggenggam tangan Nayla,, seakan tidak ingin melepaskan walau hanya satu detik saja.


"Kamu cantik sekali," bisik Devan.


Nayla tersenyum sambil terus memeluk lengan Devan.


"Kakak Alex di mana Jessica?" tanya Reyna yang tidak melihat batang hidung sang kakak.


Jessica pun tidak tahu di mana keberadaan Alex, tidak ada komunikasi sama sekali hingga tidak saling mengetahui keberadaan satu sama lainnya.


"Aku juga nggak lihat dia, kamu datang sama Alex kan Jessica?" Nayla pun tak kalah penasaran sambil melihat sekitarnya namun tak ada Alex sama sekali.


"Em..." Jessica bingung bagaimana cara menjelaskan sejenak menutup mata berharap ada yang menolongnya.


"Sayang, itu bukan urusan kita, mungkin ada hal penting sehingga belum datang," ucap Devan yang tidak ingin ikut campur dalam masalah orang lain.


"Penting?" ucap Nayla yang merasa sedikit aneh.


"Kamu seperti tidak mengerti profesi seorang Dokter sayang?" ucap Devan dan Nayla mengangguk lemah sekalipun masih bingung.


Acara pun berlangsung dengan meriah,, hingga akhirnya sampai juga pada acara melempar bunga pengantin. Beberapa tamu berbaris menantikan bunga yang akan dilemparkan oleh Nayla tidak terkecuali para teman-teman Nayla.


"Satu... dua... tiga,," Nayla melempar dan bunga pun melayang di udara.


Dengan cepat Reyna menangkapnya dan berhasil, tapi saat itu tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga hampir terjatuh.


Dengan tidak sadar Nanda menahan tubuh Reyna hingga tak terjatuh.


Suara tepuk tangan menggema sambil menatap Nanda dan juga Reyna.


"Kamu apa sih!!!" ucap Reyna kesal sambil melihat Nanda.


"Dasar tidak tahu diri, sudah ditolong malah tidak ada terima kasih," Nanda melepaskan tubuh Reyna yang belum berdiri tegak akhirnya Reyna terjatuh juga.


"Nanda" Reyna menutup wajahnya dan segera berdiri.


"Sudah," Ana menutup mulut berusaha menahan tawa melihat betapa lucunya Reyna dan juga Nanda.


"Aku sumpahin kamu nggak laku-laku," ucap Reyna sambil melihat Nanda dengan tatapan mata penuh kekesalan.

__ADS_1


"Nggak boleh ngomong begitu, nanti malah kamu yang harus menikah dengan dia," ucap Ana yang terus menahan tawanya.


"Amit-amit," Reyna mengetuk kepala, merasa tidak akan sudi menikah dengan Nanda.


__ADS_2