
Nanda pun membuka pintu, matanya seketika melihat Reyna yang tengah berbaring di ranjang, dengan lingerie seksi yang tersingkap membuat dirinya semakin panas dingin, mungkinkah Reyna mau memenuhi hasratnya saat ini? Nanda pun mencoba untuk mendekati, mengusap bibir Reyna dengan warna merah merekah, tak di sangka mata Reyna terbuka, dengan panik segera bangkit dan ternyata Nanda yang kini juga sudah berdiri saling berhadapan dengannya.
"Ngapain kamu pegang-pegang aku?" seru Reyna dengan suara meninggi.
Nanda tidak ingin bertengkar dirinya lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
"Kamu udah makan?" tanya Nanda.
"Mau udah atau belum bukan urusan kamu," Reyna pun melempar bantal pada wajah Nanda, geram sekali saat melihat dipegang.
"Dasar nggak sopan," cerca Reyna bercampur emosi.
Nanda menangkap bantal yang mengenai wajahnya, melepaskan pada ranjang.
"Jangan berani kamu nyentuh aku walaupun hanya seujung kuku," tegas Reyna.
Dada yang naik turun, emosi yang meluap-luap rasanya ingin menelan Nanda hidup-hidup.
"Kamu itu pembawa sial, dari awal aku nggak mau nikah sama kamu, tapi kenapa kamu tetap mau nikahin aku! aku nggak sudi disentuh sama kamu, ceraikan aku!" ucap Reyna.
__ADS_1
"Aku sedang lelah dan tidak ingin ribut, cobalah berdamai dengan keadaan, jangan hanya menyalahkan aku, lagi pula apa salahnya untuk saling belajar menerima?" ucap Nanda.
"Aku gak mau," seru Reyna dengan nada suaranya yang meninggi.
Nanda pun segera keluar dari kamar, harapan indah yang di khayalkan tampaknya masih begitu jauh.
"Kamu mau ke mana? aku belum selesai ngomong!" ucap Reyna.
Reyna menarik lengan Nanda dengan sekuat tenaganya, rasanya kali ini semua harus diselesaikan pikir Reyna, Nanda yang tengah berbalik badan pun malah kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh di atas tubuh Reyna.
"Aaaaaaa," teriak Reyna saat Nanda menimpa tubuhnya.
Tidak ingin bangun dari atas tubuh Reyna, Nanda pun mencoba untuk bernegosiasi, mungkin saja Reyna bisa luluh. Reyna bergerak di atas ranjang masih dengan tubuh di tindih oleh Nanda.
"Minggir," Reyna pun bergerak dan berusaha mendorong dada Nanda.
Sayangnya begitu sulit hingga sekuat apapun tenaga Reyna tidak akan mampu mengalahkan tenaga Nanda.
Bahkan tubuh Nanda tidak bergerak sedikit pun, tubuh tegap itu sudah terbiasa dengan rutinitas sehari-hari yang penuh tantangan sehingga Reyna hanya bagian kecil baginya.
__ADS_1
"Aku benar-benar sudah tidak tahan," ucap Nanda lalu mencium bibir Reyna dengan pelan berharap Reyna akan luluh.
"Lepas, jangan gila!" ucap Reyna.
Reyna masih meronta-ronta ingin dilepaskan dari kungkungan Nanda meskipun cukup sulit.
Nanda tidak peduli seberapa kuat kuku Reyna berusaha menusuk kulitnya, dirinya sudah begitu panas dan sudah sangat lama menahan diri. Reyna yang mulai kehilangan tenaga perlahan terdiam, lelah rasanya meronta-ronta tetapi tidak dipedulikan oleh Nanda, sampai akhirnya Reyna melihat vas bunga dan berusaha mengambilnya.
Krang!!!
Reyna memukulnya pada kepala Nanda.
Perlahan Nanda bangun dan memegang kepalanya yang berdarah, Reyna pun bangun sambil meneguk saliva, nafasnya memburu membayangkan Nanda akan memukulnya, tapi tidak Nanda hanya berdiri sambil melihat tangannya yang ada darah, sesaat kemudian Nanda melihat Reyna, setelah itu pergi begitu saja.
Reyna pun berjalan ke arah pintu, melihat Nanda yang sudah berjalan mendekati pintu utama dan pergi, Reyna menatap tangannya dan tak percaya bisa melakukan hal itu, meneguk saliva dengan pahit menyesali apa yang terjadi.
"Nanda," Reyna mencoba untuk menyusul, tapi Nanda sudah pergi dengan sepeda motornya dan kepala yang berdarah.
Nanda pun tidak mendengar suara Reyna, bahkan tak melihat sama sekali, membuat Reyna semakin merasa bersalah.
__ADS_1