Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ayahnya juga parah banget,,


__ADS_3

Alex pun membalasnya, hingga akhirnya keduanya basah kuyup.


"Ahahahhaha," kedua tertawa terbahak-bahak mengingat kelakuan konyol mereka sendiri hari ini.


Sejak saat itulah Alex mulai tertarik pada Jessica, diam-diam mulai mengagumi Jessica dalam diam.


Mencari tahu tentang hal-hal yang di sukai Jessica, sampai akhirnya ternyata Jessica dan Devan saling menyukai dan menghancurkan perasaan Alex.


Flashback off


"Ingat kan? Masa itu sangat gila," kata Alex sambil terkekeh geli.


"Ya memang kau gila! Sok ngasih contekan. Ternyata salah semua, mana aku di manfaatkan untuk mengipas rokok mu. Coba saja kalau ketahuan Bu Rena? Habis kita, bisa lebih dari sekedar membersihkan toilet sekolah," Jessica menepuk dahinya, merutuki kebodohannya yang begitu hakiki.


"Wah, ternyata Kak Alex parah. Ngatain aku sekolah nakal, padahal lebih parah!" Kesal Reyna mengetahui tentang Kakaknya.


"Kamu mau tahu hal yang paling nyeleneh yang dilakukan suami mu saat sekolah dulu?" Kini Nayla yang berbicara, ingin mengatakan pada Reyna seperti apa kelakuan suaminya itu.


"Apa?" Tanya Nanda seakan wajahnya begitu baik, dalam hati berdoa semoga saja Nayla tidak menceritakan tentang dirinya dulu.


"Nayla, cerita dong. Aku kok penasaran?" Reyna merasa telinganya gatal sebelum mendengar cerita tentang Nanda.


"Kalau kamu cerita tentang aku, aku juga cerita tentang kamu!" Ancam Nanda.


"Nayla," Reyna memasang wajah memohon berharap Nayla mau bercerita.


"Dulu suami mu ini paling baik di sekolah, "jelas Nayla.


Nanda pun tersenyum bangga saat Nayla memujinya, sampai akhirnya senyuman Nanda menghilang setelah Nayla melanjutkan ceritanya.


Flashback on....


"Kok kamu nggak jajan?" Tanya Nanda saat melihat Nayla hanya duduk di kelas, padahal sudah jam istirahat.


Baju putih abu-abu terpasang ditubuh keduanya, Nayla hanya berpenampilan sederhana, rambut di kuncir kuda dan jam berwarna merah menyala.


"Aku nggak lapar," Nayla pun memberi alibi.


"Aku yang traktir. Kita ke kantin," Nanda tahu Nayla sedang tidak memiliki uang jajan, mungkin Ayahnya tidak memilik uang.


Nanda sangat setia pada Nayla, sehingga sering membayarkan jajanan Nayla.

__ADS_1


"Nanda aku kenyang,"


"Aku lagi banyak duit, mobil Papa ku jual buat jajan sehari dan kamu harus bantuin aku biar cepat habis kalau tidak habis Papa aku marah," seloroh Nanda.


"Dasar aneh," Nayla tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Nanda, tentu saja itu hanya bualan saja agar dirinya tidak menolak.


Setelah selesai jajan Nayla dan Nanda berniat memasuki kelas kembali, tetapi Nanda ingin merokok terlebih dahulu.


"Bel udah bunyi Nan!" Tolak Nayla, dirinya adalah anak beasiswa sehingga tidak ingin di cabut begitu saja karena kenakalan nya.


"Tenang kamu cukup temani aku saja," Nanda pun menarik Nayla menuju belakang sekolah, Nanda merokok dan Nayla bertugas untuk mengintip sekitarnya.


Terutama saat guru datang. Sampai akhirnya seorang guru olehraga tiba-tiba muncul, Nayla yang lengah pun terkejut.


"Apa yang sedang kaitan lakukan? Tanya Pak Bayu.


"Nayla, kenapa Pak Bayu datang tidak memberitahukan padaku?" Nanda panik seketika mengantongi rokoknya.


Nayla pun terkejut dan melarikan diri secepat mungkin, hingga akhirnya Nanda tidak bisa melarikan diri lagi.


Satu detik masih aman.


Dua detik mulai gelisah.


Matanya yang minus tidak melihat wajah Nayla yang jauh beberapa meter darinya, sehingga dirinya tidak bisa melihat wajah murid tersebut dengan jelas.


Sedangkan Nanda tidak mungkin bisa melarikan diri, Pak Bayu sudah melihatnya dengan jelas.


"Nggak Pak!"Nanda pun menggeleng sampai akhirnya ada asap yang muncul dari balik celana nya.


Pak Bayu pun melihat sumber asap, ternyata celana abu-abu Nanda terbakar oleh rokok.


"Panas!" Teriak Nanda.


Pak Bayu pun mengambil sebuah timba yang di taruh untuk menampung air hujan dan menyiramkan pada celana Nanda.


Api pun padam hanya saja ada bau yang terasa.


"Kok bau pesing?" Pak Bayu mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.


"Ini air kencing dan air hujan Pak," kata Nanda sambil menahan muntahan, para murid laki-laki memang usil dan kadang buang air kecil dalam timba tersebut, tak terkecuali dirinya juga.

__ADS_1


"Dasar jorok! Besok panggil orang tua mu menghadap ke kantor kepala sekolah!"


Jantung Nanda berdetak kencang, baru kemarin kedua orang tuanya di panggil ke sekolah karena kenakalan nya.


Bagaimana jika besok juga harus kembali ke sekolah, bisa-bisa dirinya akan di gantung hidup-hidup oleh Papanya.


Akhirnya Nanda pun mendapat ide yang cukup cemerlang, sampai keesokan harinya ada seorang Paman yang datang ke sekolah untuk dirinya.


"Ahahahhaha," Nayla tertawa terbahak-bahak karena Nanda memakaikan sebuah jas dan juga sepatu kantor milik Papanya untuk di pakai Pak Santo, tukang kebun yang bekerja di rumah nya.


"Ssuuttt! Jangan berisik. Ini karena kamu juga," Kata Nanda dengan perasaan was-was, keduanya mengintip dari jendela. Sedangkan Pak Santo sedang duduk di ruang kepala sekolah, mendengarkan setiap kenakalan Nanda.


Flashback off


Nayla masih tertawa terbahak-bahak menceritakan peristiwa masa lalu itu, ternyata semasa itu mereka sangat nakal.


"Ya ampun Kakak Ipar dan Adik Ipar sama -sama amburadul," celetuk Reyna sambil geleng-geleng kepala.


Nanda dan Alex pun tersenyum mengingat masa lalu yang begitu aneh namun berkesan.


"Apa Mas, paling baik jaman sekolah?" Tanya Nayla pada Devan.


"Oh jelas, makanya suami mu itu hormat bendera dari pagi sampai jam pulang sekolah,"


Jessica dan Alex tertawa terbahak-bahak melihat wajah Devan, keduanya mengetahui sepenuhnya seperti apa Devan.


"Benarkah? Nayla penasaran dan ingin tahu.


"Tidak, mereka bohong," elak Devan.


"Ahahhaha," Alex dan Jessica semakin tertawa melihat wajah Devan.


"Iya, kau memang terbaik. Sampai-sampai di skors!" Celetuk Jessica.


"Iya, gara-gara mengikat guru honorer di bawah pohon," lanjut Alex bercerita.


"Wah, Mas keterlaluan!" Nayla kesal pada Devan yang ternyata tidak lebih baik.


"Nayla, jangan memarahi anak-anak mu yang nakal. Ayahnya juga parah banget," ucap Alex sambil menertawakan Devan.


"Kurang ajar," Devan melempar jagung hingga mengenai wajah Alex, kesal bukan kepalang saat mengingatkan masa lalu.

__ADS_1


"Ahahahhaha," Alex bukanya marah malah tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2