Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Hanya Devan yang bisa melakukan itu...


__ADS_3

Nayla menatap satu persatu wajah yang sedang duduk makan malam di kursi meja makan.


Terlihat Bima, Angga, Andini, Rani, Raka, Jessica, Devan dan Ana.


"Aku mau bicara penting dengan mu Nayla," ucap Ana sambil melihat serius pada Nayla yang sedang duduk di samping Devan berhadapan dengan dirinya.


"Iya Nyonya," ucap Nayla berusaha mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ana.


"Nayla,, jadi tetangga sebelah tuh teman aku,, dan dia mempunyai anak laki-laki yang sedang mencari jodoh,, anaknya baik,, aku telah mempromosikan kamu untuk menjadi istri anaknya,," ucap Ana dengan perasaan bahagia sambil tersenyum cerah.


Nayla tiba-tiba merasakan perasaan lega luar biasa begitu mendengar apa yang ingin dibicarakan oleh Ana. Tadinya Nayla berpikir bahwa saat ini Ana akan memisahkan badan dan kepalanya begitu membahas hubungan sebenarnya Nayla dan Devan.


"Nayla,, kok malah diam?" ucap Ana lagi yang melihat Nayla hanya terdiam membisu.


"Iya Nyonya," ucap Nayla yang kini perasaan nya sudah sangat lega.


"Kamu mau kan jadi istrinya Rian? Nayla dia itu tampan loh,, baik, sopan,, dan dia juga seorang CEO di anak perusahaan Andini," ucap Ana lagi seperti sedang mempromosikan Rian.


Ana benar-benar sangat yakin jika Nayla merupakan pasangan yang sangat cocok untuk Rian,, bahkan jika mereka memang benar-benar berjodoh,, Ana sendiri yang akan menggelar pesta besar-besaran untuk Nayla dan Rian,, Ana memang sudah menganggap Nayla juga seperti anaknya sendiri.


Nayla berusaha tersenyum sambil sedikit melirik ekspresi wajah Devan.


Devan tampak asik makan seperti tidak perduli sama sekali namun tiba-tiba ada tangan yang menggenggam erat tangan Nayla di bawah meja.


Degh!!!


Nayla tau tangan itu tentu tangan Devan yang sedang menggenggam erat tangan Nayla,, Nayla tau maksud Devan tentu melarang Nayla menerima tawaran itu,, Nayla pun membalas genggaman tangan Devan. Nayla juga tidak mungkin menerima perjodohan itu karena dirinya saat ini masih berstatus istri Devan tidak mungkin menikah dengan pria lain sebelum cerai.


"Ma,, Nayla sudah punya pacar ma,, jadi nggak mungkin perjodohan itu," ucap Jessica sambil tersenyum melihat Nayla.


"Hah benarkah? pantas sejak tadi kamu hanya diam aja Nayla,, siapa pacarmu?" tanya Ana yang penasaran.


"Ada ma tadi siang aku ketemu,, mereka sangat cocok,," ucap Jessica sambil tersenyum lalu melihat Devan.


"Iyakan sayang? tadi siang kamu juga melihatnya mereka sangat cocok?" ucap Jessica yang kini bertanya pada Devan.

__ADS_1


Devan hanya diam tidak menjawab sedikit pun lalu meminum air putih,, entah apa yang sedang dipikirkan Devan saat ini. Tetapi satu yang pasti tangan Devan masih menggenggam erat tangan Nayla di bawah sana.


"Aduh sayang sekali yah,, padahal aku ingin sekali kalian menikah,, tapi tidak apa namanya juga cinta,, toh jodoh juga tidak ada yang tau," ucap Ana yang tampak sedikit kecewa namun akhirnya tersenyum.


Nayla lagi-lagi mengangguk lemah,, jika Andini,, Jessica dan Ana tersenyum berbeda dengan Nayla yang tidak tersenyum sama sekali.


"Nyonya,, aku ke belakang dulu yah," ucap Nayla pamit lalu segera pergi ke belakang dengan melepaskan genggaman tangan Devan terlebih dahulu.


##########


Nayla yang sedang duduk tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar,, Nayla langsung melihat isi chat dari Devan.


"Mas akan keluar malam ini bersama Jessica,, apa kamu menginginkan sesuatu? Nanti mas belikan," isi chat Devan.


Nayla menatap sedih chat dari Devan,, malam ini Nayla ingin sekali dipeluk Devan. Kehamilan Nayla memang membuat mood Nayla berubah-ubah,, dan juga sangat membutuhkan Devan,, karena tadinya Nayla sangat ingin dipeluk Devan. Tetapi ternyata malam ini Devan akan keluar dengan Jessica,, istri yang diakui orang-orang.


Meskipun Nayla merasa kesal dan sedih tapi Nayla tetap membalas chat dari Devan.


"Rujak," balas Nayla singkat, padat dan jelas.


Satu jam setengah telah berlalu,, tiba-tiba pintu kamar Nayla ada yang mengetuk,, Nayla tersenyum senang karena yakin itu pasti Devan yang saat ini membawakan pesanannya,, namun senyum Nayla tiba-tiba memudar begitu melihat ternyata Bik Ina yang mengetuk pintu kamarnya.


"Nayla,, Nyonya Jessica dan Tuan Devan pulang dengan membawa rujak yang sangat banyak,, mereka ingin kita makan bersama," ucap Bik Ina.


Nayla melongo begitu mendengar ucapan Bik Ina,, ini pasti akal-akalan Devan agar bisa membuat Nayla makan apa yang diinginkannya tanpa membuat curiga siapapun,, terdengar konyol namun itu berhasil menghibur hati Nayla yang sedang sedih tadi.


Dengan perlahan Nayla melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga bersama Bik Ina,, dan memang benar di ruangan itu bukan hanya keluar Devan saja,, tapi semua pekerja mulai dari sopir, satpam,, tukang kebun,, pekerja wanita dan yang lainnya.


"Nayla akhirnya kamu datang juga,, ayo sini makan tinggal kamu loh yang belum ambil bagian," ucap Ana begitu melihat Nayla.


Nayla mengangguk dengan segera mengambil sepiring rujak lalu Nayla mengedarkan pandangannya melihat orang-orang yang tengah memakan rujak,, hingga tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata Devan,, tiba-tiba Devan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nayla.


Uhuk,, Uhuk,, Uhuk


Nayla langsung terbatuk-batuk melihat Devan yang seperti itu padanya.

__ADS_1


"Nayla makannya pelan-pelan,, ini minum dulu," ucap Jessica sambil memberikan air putih pada Nayla.


"Terima kasih Nyonya," ucap Nayla kepada Jessica lalu segera melanjutkan makan rujak sialan yang benar-benar enak sampai ke ubun-ubun. Nayla benar-benar menikmati rujak itu.


Nayla adalah orang yang paling terakhir makan tapi dialah yang lebih dulu menghabiskan satu piring rujaknya.


"Nayla,, kamu benar-benar sangat menyukai rujak yah?" ucap Jessica begitu melihat rujak Nayla sudah habis.


Nayla mengangguk sambil tersenyum,, dalam hati Nayla merasa bersalah dan meminta maaf pada Jessica,, karena Nayla tau ini pasti dilakukan Devan agar bisa mengelabui mereka semua terutama Jessica biar tidak ada kecurigaan sedikit pun.


Tiba-tiba Nayla merasakan ponselnya bergetar,, Nayla segera mengambil ponselnya dari saku piyamanya.


"Kamu benar-benar sangat cantik dengan piyama warna itu,," isi chat Devan untuk Nayla


Wajah Nayla benar-benar langsung memerah seperti kepiting rebus begitu mendapatkan pujian dari Devan.


Mereka duduk berjauhan saling membalas chat seakan hanya mereka berdua saja di ruangan itu.


"Jangan kunci pintu kamar," isi chat Devan lagi.


Nayla mengernyitkan dahinya.


"Kenapa memangnya?" balas Nayla.


"Mau peluk anak dan istri," balas Devan.


Rasanya seperti geli-geli sedap begitu membaca chat dari Devan.


Nayla memilih tidak membalas lagi chat dari Devan lalu menaruh ponselnya kembali.


Mencuri-curi pandang sejenak hingga Nayla melihat Devan tengah tersenyum manis padanya,, entah mengapa Nayla merasakan kehangatan.


Nayla tidak munafik memuji ketampanan Devan,, Devan memang benar-benar tampan,, mata yang setajam elang dan juga senyum yang menantang.


Nayla mulai tertarik pada Devan, Nayla membiarkan rasa ini tumbuh sampai anaknya lahir,, Nayla ingin merasakan sejenak kasih sayang seorang suami untuk dirinya.

__ADS_1


Ketika mengandung Nayla sangat menginginkan kasih sayang dan juga kehangatan,, hanya Devan yang bisa melakukan itu karena Devan adalah suaminya dan juga ayah dari anak yang saat ini dikandungnya.


__ADS_2