
"Aku tahu tiga ratus enam puluh lima hari di kali empat sama dengan seribu empat ratus enam puluh," jawab Reyna lagi.
"Itu benar! kepalamu harus di ketok dulu baru benar, biar aku ketok lagi yah?" ucap Nanda.
"Apaan sih sakit tahu," Reyna mengerucutkan bibirnya, melepaskan diri dari suami yang menjengkelkan tersebut.
"Berarti kamu berhutang padaku," kata Nanda dengan cepat.
Reyna terkejut mendengar hutang yang disebutkan oleh Nanda, rasanya tak pernah Reyna meminjam uang pada suaminya itu.
"Hutang apaan?" tanya Reyna.
"Hutang bikin adik bayi, lelet! kamu harus bayar sebanyak seribu empat ratus enam puluh kali dalam satu bulan ini," papar Nanda.
"Apa?" pekik Reyna dengan panik.
Nanda pun memasukkan tisu ke dalam mulut Reyna yang terbuka lebar.
"Apaan sih!" Reyna membuangnya, kesal pada Nanda.
"Cepat cicil dari sekarang!" ucap Nanda.
"Apanya?" tanya Reyna bingung atau mungkin pura-pura bingung.
"Hutangmu dodol! lelet banget sih," kesal Nanda.
__ADS_1
"Apaan sih! nggak usah aneh-aneh," Reyna bersiap meloncat dari atas ranjang.
Sayangnya gerakannya terbaca oleh Nanda, dengan gerakan cepat Nanda memegang kaki Reyna hingga terlungkup di atas ranjang.
"Nanda ahahahaha..." Reyna tidak dapat menahan tawa saat Nanda menarik kakinya agar semakin mendekati.
"Cicilan dimulai dari sekarang!" ucap Nanda.
Dibalik pintu kamar yang tertutup Arni mendengar suara teriakan Reyna, dalam hati was-was takutnya anak menantunya tengah bertengkar hebat, rasa penasaran kian menjadi-jadi ketika suara jeritan Reyna semakin menggema.
"Apa Nanda memukul Reyna?" Arni mengusap wajahnya takut pikiran buruknya benar sedangkan dari dalam sana lagi-lagi terdengar suara jeritan.
"Nanda, lepasin sakit!" ucap Reyna.
Arni meletakkan kedua tangannya di dada, jantungnya benar-benar berdetak karena rasa takut dengan mengumpulkan keberanian Arni pun memegang gagang pintu, dirinya tak masalah jika bersalah dalam hal ikut campur, lagi pula Arni berpikir jika pertengkaran yang terjadi antara Reyna dan Nanda karena dirinya.
Dirinya yang terang-terangan meminta cucu barusan, tapi bukan begini juga yang diinginkannya, tidak! Arni tidak boleh membiarkan Reyna mendapatkan perlakuan kasar apapun masalahnya tidak ada alasan untuk bermain tangan pada wanita.
Satu...
Dua...
Tiga...
Pintu yang tidak terkunci akhirnya terbuka, keringat Arni sudah banjir dan bersiap melihat pertengkaran antara anak dan menantunya, Reyna cepat-cepat mendorong Nanda yang menindihnya begitu juga dengan Nanda yang meloncat dari atas ranjang dengan cepat pula Reyna memakai dressnya yang sudah dibuka oleh Nanda, Reyna pun menutupi wajahnya dengan selimut sedangkan Nanda menatap jendela keluar dari jendela yang belum tertutup gorden.
__ADS_1
"Sejak kapan ada pertengkaran unik begini," kedua kaki yang bergetar hebat tidak disangka ada cairan hangat yang keluar dari bawah tanah.
Reyna pun mengintip dari balik selimut tidak disangka ternyata saking terkejutnya Mama mertuanya malah mengompol.
"Mama ngompol?" tanya Reyna memberanikan diri.
Nanda penasaran dan memutar lehernya, benar saja ternyata ada air yang keluar.
"Air apa itu, Ma?" otak Nanda sepertinya sudah rusak parah karena dalam keadaan on malah dipaksa off.
Sampai-sampai bertanya lagi dengan bodohnya sudah jelas tadi Reyna berkata Mamanya ngompol.
"Mama ngompol?" tanya Nanda lagi.
Arni pun mengangguk lemah dengan wajah pucatnya.
"Terus ngapain masih di sini?" lagi-lagi Nanda bertanya.
"Terus Mama harus ke mana?" kini malahan Arni yang bertanya kepada Nanda, kemudian memutar leher melihat Reyna sambil menunjukkan giginya.
"Mama mau lihat Reyna sama Nanda bikin cucu?" ucap Nanda.
Mata Arni pun melebar dan menggeleng dengan cepat.
"Mama keluar!"
__ADS_1