
Devan pulang dalam keadaan sangat kusut, wajahnya terlihat sangat lelah, bahkan Devan tidak memiliki gairah hidup. Anehnya lagi Devan bukan pulang ke apartemen di mana kini dirinya dan Jessica tinggal berdua, melainkan Devan kembali ke rumah orang tuanya. Ana tanpa sengaja melewati ruang keluarga tetapi malah melihat Devan sedang duduk di sofa dengan menengadahkan wajahnya.
Ana seketika melihat jam dinding,, Ana merasa ini sudah cukup larut,, bahkan jam sekarang sudah menunjukkan pukul tiga mungkin tepatnya sudah subuh. Ana yang tidak ingin terus penasaran segera dia dekati Devan, ingin bertanya alasan tentang apa yang terjadi pada putranya itu sehingga jam segini ada di rumahnya bukan di apartemen.
"Devan kamu di sini? Jessica mana?" tanya Ana yang tidak melihat Jessica sehingga menimbulkan tanda tanya di kepala Ana,, atau mungkin juga berada di kamar Devan di lantai dua.
Ana tidak ingin berburuk sangka hanya saja masih penasaran dengan keadaan putranya yang kini terlihat sangat kusut. Devan sejenak menatap Ana,, sedetik kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Devan, kamu nggak ribut dengan Jessica, kan?" tanya Ana sambil duduk di samping Devan ingin mendengarkan sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Devan begitu kusut hingga terlihat seperti tidak memiliki gairah hidup.
"Ma, seperti apa Papa mencintai mama?" tanya Devan yang membuat Ana semakin bingung, mengapa putranya itu tiba-tiba datang dan tiba-tiba juga menanyakan perihal cinta.
Hal yang tidak pernah dipertanyakan ataupun terpikirkan akan pertanyaan Devan yang terdengar sangat aneh itu.
"Apa pernah Mama merasa Papa takut kehilangan Mama?" tanya Devan sambil menatap Ana dengan penuh tanya,, wajahnya terlihat murung dengan sejuta keresahan.
"Ma ayo jawab," ucap Devan lagi.
"I..iya Mama harus jawab apa?" ucapan Ana yang bahkan terlihat sangat bingung dengan pertanyaan Devan yang tiba-tiba begini.
"Bagaimana Papa mencintai Mama? bagaimana Mama melihat reaksi Papa ketika berjauhan dengan Mama?" tanya Devan dengan jelas.
"Mama nggak tahu juga,, kamu tahu sendiri Papa kamu itu diam,, tidak banyak bicara juga, arrogant juga, seperti...." ucap Ana yang tidak melanjutkan ucapannya, setelah menimbang-nimbang cukup sulit.
Namun itu cukup membuat Devan merasa sangat penasaran dan menimbulkan tanda tanya.
"Seperti apa Ma?" tanya Devan penasaran.
"Yah seperti kamu," jawab Mama Devan.
__ADS_1
"Devan?" tanya Devan lagi.
Ana mengangkat bahunya seakan malas membahas itu.
"Papa kamu itu sangat arrogant, tapi sama Mama dia sayang banget, Papa pasti akan menegur Mama kalau lagi salah,, dia juga selalu romantis, tapi kalau di hadapan orang Papamu itu pasti terlihat arrogant,, satu hal yang membuat Mama sangat yakin kalau Papamu itu sangat mencintai Mama," ucap Ana yang terdiam sejenak sambil menimbang raut wajah Devan.
"Apa?" tanya Devan yang sangat penasaran mungkin Devan akan mati penasaran jika Ana tidak melanjutkan ceritanya.
"Papamu itu tidak bisa jauh dari Mama,, bahkan ketika pernah kami pacaran, Papamu yang akhirnya melanggar janji kami menikah setelah lulus kuliah. Karena nyatanya Papamu menikahi Mama waktu kami masih kuliah, dia meyakinkan keluarga Mama bahwa dia akan membahagiakan Mama, dan terbukti dia memang selalu berusaha membahagiakan Mama, tidak seperti kamu Devan! sekarang lebih baik kamu pulang bahagiakan istrimu," ucap Ana lalu bangun dari duduknya dan segera menarik Devan untuk keluar dari rumah agar Devan segera pulang.
Devan sebenarnya masih tidak mau pulang ke apartemen, tapi mau di apa sudah diusir sang Mama akhirnya dia pun terpaksa pulang. Ana memandang mobil Devan yang melaju ke luar pintu gerbang. Sesaat kemudian Bima Putra berdiri di sampingnya,, entah sejak kapan Bima Putra berdiri di sana,, karena Ana sendiripun baru menyadarinya.
"Papa disini? sejak kapan?" tanya Ana.
"Sejak tadi juga Papa disana," jawab Bima Putra.
"Mama benar-benar tidak mengerti dengan Devan," ucap Ana sambil mendesus lesu dan merebahkan dirinya di sofa disusul dengan Bima Putra di sampingnya.
Ana menganggukkan kepalanya.
"Pa, apa nggak sebaiknya kita meminta Devan untuk rujuk dengan Nayla? sepertinya anak itu sudah benar-benar jatuh hati pada Nayla,, dia langsung tidak beres semenjak cerai dengan Nayla,, hanya dia tidak sadar saja," ucap Ana sambil menghela nafasnya berat mengingat anaknya yang sepertinya sangat tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Itu tidak bisa Ma, biarkan saja dia memilih dan mengurus rumah tangganya sendiri,, tidak akan pernah bahagia jika memiliki dua istri,, lagi pula kita tidak berhak ikut campur dalam rumah tangganya,," ucap Bima Putra.
"Tapi Pa kasi..."
"Yah Papa memang melihat Devan memang benar-benar mencintai Nayla,, lalu bagaimana dengan Jessica? Devan juga mengakui mencintai Jessica, kalau kita memaksa Nayla untuk rujuk dengan Devan, masalah ini sudah tentu tidak akan pernah selesai, dan siapa yang paling menderita? Nayla! dia pasti akan dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Padahal tidak semua orang ketiga itu buruk,, Devan kan laki-laki dia harus tegas menentukan semuanya, mau dengan Nayla tinggalkan Jessica,, kalau mau dengan Jessica tinggalkan Nayla, jadi laki-laki tidak boleh serakah. Yang penting Felix pewaris ku tetap dalam pengawasan kita," ucap Bima Putra memberi pengertian kepada Ana.
"Terus kenapa Papa tidak memberikan Felix uang?" tanya Ana yang masih belum puas dengan jawaban Bima Putra.
__ADS_1
"Bukan tidak memberi Ma, tapi Nayla menolak,, Papa langsung memposisikan diri sebagai Nayla,, Papa sangat mengerti dia tidak ingin dipandang sebelah mata. Maka dari itu kita juga harus menghargai keputusan Nayla, Papa yakin setelah satu tahun kedepannya,, Nayla pasti tidak akan menolak jika kita memberikan uang pada Felix juga,, sekarang kita harus menghargai Nayla dan juga tetap mengawasi Felix," ucap Bima Putra lagi dengan jelas.
Ana mendesus,, ingin sekali dirinya sendiri meminta Nayla untuk rujuk dengan Devan. Tangannya itu sudah gatal ingin sekali bermain dengan Felix setiap waktu. Apalagi mengingat cucunya itu begitu sangat tampan dan juga imut membuat Ana selalu gemas ingin melihat terus cucunya itu. Tapi apa yang dikatakan dengan Bima Putra juga benar,, Nayla juga berhak untuk menentukan jalan hidupnya, cukup sudah dia menderita selama ini menjadi istri Devan.
###########
Devan pulang menuju apartemennya,, pikirannya begitu kacau balau mengingat wajah Nayla yang terus menghantui dirinya. Bagaikan racun yang perlahan membunuh,, menghukum, Devan benar-benar sangat tersiksa dengan bayang-bayang Nayla, ada rasa rindu yang tidak bisa diungkapkan.
"Devan kamu dari mana? ini sudah subuh dan kamu baru pulang!!" ucap Jessica yang semalaman menunggu Devan pulang, sampai akhirnya Devan pulang dengan tubuh kusut dan wajah yang begitu lesu di saat subuh tiba. Ke mana suaminya pergi itu semalam,, Jessica benar-benar tidak mengenali Devan lagi.
Tidak ada lagi sentuhan kehangatan, senyum kebahagiaan, tawa maupun canda seperti dulu ketika mereka berpacaran. Devan seakan, benar-benar asing baginya,, entah sampai kapan ini terus berlangsung.
"Devan kamu dengar aku atau tidak?" tanya Jessica dengan emosi.
Devan melemparkan tubuhnya pada ranjang, sekalipun Jessica terus bertanya padanya tidak masalah sedikitpun.
"Devan!!!" ucap Jessica lagi yang sudah sangat kesal tidak digubris.
Tiba-tiba Devan malah berdiri sambil menatap Jessica dengan senyuman, entah apa yang terjadi pada Devan itu hingga dia menarik tengkuk Jessica dan mencium habis bibir Jessica dengan penuh damba. Jessica terkejut dan merasa tubuhnya perlahan didorong ke atas ranjang.
Devan terus bergerak dengan liar hingga Jessica ikut terbuai dan melupakan kemarahannya. Semuanya seakan semakin memanas,, dan juga semakin menuntut. Tangan Devan perlahan melepaskan benang yang menutup tubuh Jessica. Hingga akhirnya penyatuan dimulai dan Devan sampai pada puncaknya.
"Nayla sayang..." rintih Devan sambil terkapar di samping Jessica.
Sesaat kemudian Devan terlelap, antara lelah,, mengantuk dan sudah mendapatkan kepuasan.
Jessica terkejut bukan kepalang saat mendengar Devan menyebutkan nama Nayla yang artinya dari tadi Devan menganggap dirinya sebagai Nayla.
Jessica benar-benar merasa sesak, Jessica mendudukkan tubuhnya sambil mencengkram erat selimut yang menutupnya,, menatap wajah Devan dalam lelap, namun sesekali pria itu menyebutkan nama Nayla lagi.
__ADS_1
Jessica yang berada di sampingnya saat ini, Jessica yang baru saja memuaskannya, Jessica adalah wanita yang dicintai oleh Devan. Lantas mengapa hanya nama Nayla yang keluar dari bibir Devan,,, bahkan saat tertidur pun dan yang lebih parahnya begitu selesai bercinta tadi nama Nayla lah yang disebut.
"Kenapa Nayla? kenapa masih menyebut nama wanita murahan itu? kenapa Devan!!!" ucap Jessica dengan penuh kemarahan.