
"Apa Mama yakin jika menikah lagi bisa membuat aku bahagia?" tanya Jessica.
"Iya pilihan Mama sudah pasti baik, tidak seperti pilihan kamu," jawab Inggit dengan yakin.
Jessica mengangguk mencoba untuk mengerti menganggap bahwa Inggit menyayanginya dan hanya ingin melihatnya bahagia.
"Siapa laki-laki yang Mama anggap baik dan bisa membahagiakan aku dan Cahaya?" tanya Jessica.
"Aditya," jawab Inggit.
Jessica tercengang mendengar jawaban Inggit, mungkinkah Mamanya itu sedang tidak waras.
"Ma, Aditya sepupu Devan," Jessica menggelengkan kepalanya tidak mengerti tentang bagaimana Inggit berpikir untuk menjodohkan dirinya dengan Aditya, rasanya itu cukup mustahil, dirinya memang tidak menaruh dendam pada Devan, tetapi apakah mungkin setelah dirinya dengan Devan kemudian dengan Alex, kini malah dengan Aditya?
Jessica menggelang untuk kesekian kalinya, merasa dirinya seperti piala bergilir yang siap menikah dengan orang-orang di sekitarnya.
"Kenapa memangnya kalau dia sepupu Devan? kamu masih cinta sama Devan, ingat Devan sudah menikah, kalian bebas mencari kebahagiaan dan siapapun termasuk sepupunya sendiri," ucap Inggit.
Huffftt....
Apakah itu mungkin?
Jessica rasanya tidak ingin untuk menikah lagi dengan pria manapun.
__ADS_1
"Mama yakin dia mau sama aku? aku janda Ma, janda dua kali banyak wanita yang masih jauh lebih baik dari aku, kenapa harus janda?" ucap Jessica.
Kali ini Jessica ingin menyadarkan bahwa dirinya sudah tak mungkin menikah dengan pria lajang, apa kata orang-orang saat mengetahui hal tersebut.
"Apa tidak ada gadis perawan yang bisa dijadikan istri, apa Mama nggak malu menjodohkan anak Mama yang janda sampai dua kali pada anak teman Mama yang masih belum pernah menikah?" ucap Jessica lagi.
"Jangan banyak membantah! dua kali pilihan kamu tidak ada satupun yang benar, Mama cuma ingin kamu bahagia," ucap Inggit.
"Kebahagiaan aku adalah Cahaya," ucap Jessica.
Inggit tidak tahu lagi bagaimana cara membuat Jessica menyetujui perjodohan yang sudah disiapkan, mengerikan sekali jika Alex kembali rujuk dengan Jessica, rasanya itu adalah sebuah penghinaan terhadap dirinya.
Mimpi buruk yang menjadi nyata!
"Dalam hal ini mama tidak meminta persetujuan mu, tetapi Mama ingin memberitahukan kepadamu perihal perjodohan ini tanpa bisa ditolak," ucap Inggit.
"Ma, apa dia mengerti tentang keadaan aku? apa dia bisa terima Cahaya?" ucap Jessica.
"Bisa! bahkan Jeng Arini sudah mengatakan bahwa Cahaya tidak menjadi masalah, coba kamu pikir apa mungkin ada mertua seperti itu di luar sana?" ucap Inggit.
"Terserah pada Mama saja atur sesuai keinginan Mama," ucap Jessica.
"Permisi,"
__ADS_1
Saat tengah terjadi perdebatan terdengar ada suara.
Alex datang untuk menjenguk putrinya, Inggit melempar wajahnya, muak dengan pria itu.
"Cahaya ada di kamarnya," Jessica menunjukkan daun pintu yang tertutup rapat.
Mengetahui kedatangan Alex tentu untuk menjenguk putrinya dan Jessica tidak pernah berniat untuk melarangnya sama sekali.
Di hati Jessica hanya kebahagiaan anaknya apapun masalah sebelumnya antara dirinya dan Alex tidak boleh jadikan Cahaya korban keegoisan, membiarkan putrinya ikut merasakan kasih sayang dari Ayahnya seperti anak-anak di luar sana, walaupun tidak mungkin sepenuhnya.
"Sudah besar begini kamu datang yah? dari dulu ke mana saja?" sindir Inggit sebelum melengos pergi.
Alex hanya bisa menarik nafas membenarkan apapun yang dikatakan oleh Inggit.
"Permisi," Alex segera membuka pintu untuk melihat keadaan putrinya.
Tidak disangka ternyata Cahaya sudah terbangun.
Alex pun memberikan mainan di tangannya pada Cahaya, tidak disangka juga Cahaya malah membuangnya, tidak ingin menerima sama sekali membuat hati Alex bertambah terluka.
"Nggak mau," teriak Cahaya.
Pintu yang terbuka lebar membuat suara Cahaya melenting keluar, Jessica pun penasaran dan segera masuk melihat apa yang terjadi di dalam sana, sampai diambang pintu kamar matanya melihat mainan yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Kok mainannya dibuang?" Jessica berjongkok memungut satu persatu hingga akhirnya semua terkumpul rapi.