
Janin di dalam rahim Nayla sangat berharga untuk keluarga Bima Putra. Devan adalah anak laki-laki satu-satunya mereka,, yang itu berarti anak Devan adalah penerus Bima Putra. Sebenarnya begitu Devan memutuskan untuk menjadi seorang dokter,, Devan telah berjanji pada Ayahnya bahwa anaknya nanti akan menjadi penerus Bima Putra,,, itulah syarat yang telah diajukan dulu oleh Bima Putra untuk Devan ketika Devan lebih memilih jadi dokter, dan Devan pun setuju serta sudah berjanji.
Saat anak Devan dewasa nanti maka Bima Putra akan mewariskan kerajaan bisnisnya pada anak Devan sebagai penerusnya.
Jadi mulai saat ini Bima Putra akan ikut campur dalam rumah tangga Devan dan Nayla.
"Saat ini Nayla berada di dalam lindungan ku, siapapun yang berani menyakiti Nayla maka akan berhadapan dengan ku," ucap Bima Putra tegas.
Nayla terdiam dan tidak menyangka saat ini ada yang mau membela dirinya,, paling tidak sampai disini dia tidak selalu berada dalam penderitaan dan tekanan dari Devan dan juga Jessica.
Devan pun tidak lagi berbicara, Devan hanya bisa diam saja, Devan sungguh takut,, Ayahnya akan menyembunyikan Nayla di mana dirinya tidak bisa menemui Nayla lagi.
Selanjutnya Nayla di bawa pergi bersama dengan Reyna, seseorang yang dipercaya untuk menjadi teman Nayla, sampai Nayla melahirkan cucu Bima Putra.
###########
Sebuah hunian mewah kini diberikan pada Nayla, sebuah rumah yang sudah sengaja dipersiapkan untuk calon cucunya.
"Mulai sekarang kamu tinggal disini dan ini milikmu,," ucap Bima Putra sambil mengusap kepala Nayla, memperlakukan Nayla layaknya seperti putri kandungnya sendiri.
Ikut merasakan derita yang selama ini ditanggung Nayla sendiri, mulai saat ini sampai cucunya lahir,, Bima Putra akan terus mengawasi,, memastikan tidak akan ada yang menyakiti menantunya terutama Devan.
"Kamu pasti belum makan kan?" ucap Ana sambil membantu Nayla menuju meja makan.
Ana segera meminta Art untuk menyiapkan beberapa menu makanan untuk Nayla.
Setelah menu makanan telah tersaji,,, Nayla tidak merasa lapar sama sekali yang ada dia malah merasa mual dan ingin muntah.
__ADS_1
"Huekkkkkk," Nayla berdiri dan segera menuju wastafel untuk memuntahkan cairan.
Tidak makan nasi berhari-hari perutnya sangat kosong hingga cairan saja yang keluar.
"Apa dia selalu begini?" tanya Ana pada Reyna yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
"Iya Nyonya,, sebenarnya kandungan Nayla disarankan untuk diangkat tapi Tuan Devan bersikeras untuk mempertahankan janin itu, padahal itu sangat berbahaya bagi Nayla," ucap Reyna.
Bima Putra dan Ana langsung menarik nafas dengan berat, perjuangan Nayla begitu sangat sulit apa mungkin bisa mengambil bayi itu setelah lahir? tentu itu tidak mungkin.
Bima Putra tidak akan mengizinkan Nayla memberikan anak itu setelah lahir, sekalipun Devan dan Nayla bercerai,, anak itu tetap akan di asuh oleh Nayla sendiri,, Ibu kandung cucunya.
Tentu masih dengan pengawasan Bima Putra,, agar Nayla dan cucunya akan selalu baik-baik saja.
"Kasihan sekali dia,, apa sudah diketahui jenis kelamin janinnya?" tanya Ana.
"Belum Nyonya,, Nayla saat ini memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayi nya, katanya mau laki-laki ataupun perempuan yang penting sehat," ucap Reyna.
"Nyonya,,, aku mau istirahat saja, kamar ku dimana Nyonya?" tanya Nayla.
"Berhenti panggil aku Nyonya,, panggil Mama yah? dan kamar kamu ada di sebelah sana," ucap Ana sambil menunjukkan kamar Nayla.
"Mama sendiri yang memilihkan dan menyiapkan kamar itu,, Mama sengaja pilih dilantai satu agar kamu tidak naik turun tangga,," ucap Ana lagi.
Nayla lagi-lagi terharu,, Ibu kandungnya sendiri pun tidak menghiraukan Nayla, tapi Ana yang hanya menjadi seorang majikan dan kini sudah menjadi mertuanya malah sangat baik padanya.
Bahkan Ana dengan senang hati mengantarkan Nayla ke kamarnya.
__ADS_1
"Kamu harus banyak istirahat,, Mama tidak mau kamu jatuh sakit,," ucap Ana sambil tersenyum tulus pada Nayla.
Hati Ana begitu iba melihat Nayla,, tidak semua wanita akan sanggup berada di posisi Nayla saat ini. Di perkosa, dijadikan istri siri, tidak dianggap bahkan dirinya berjuang sendiri demi anaknya.
"Sekali lagi Mama minta maaf," ucap Ana yang sudah berulang kali mengulangi kalimat itu,, rasanya Ana belum bisa puas dengan jawaban Nayla yang mengatakan sudah memaafkan dirinya.
"Ma, aku nggak apa-apa, dan aku juga sudah memaafkan," ucap Nayla sambil tersenyum tulus pada Ana.
"Cucu oma jangan nakal yah,, kasihan bunda kamu," ucap Ana sambil mengelus perut Nayla dengan penuh kasih sayang, janin itu adalah cucunya dari anak laki-laki satu-satunya tentu saja Ana akan menyayangi janin itu dengan sangat tulus. Apalagi wanita yang mengandung cucunya adalah wanita yang baik.
Nayla duduk disisi ranjang,, melihat kamarnya yang sangat mewah.
"Ma,, apa ini nggak berlebihan? aku tinggal di kontrakan sempit juga tidak apa-apa,, nggak masalah sama sekali yang penting aku tidak bertemu dengan Devan," ucap Nayla yang merasa tidak enak hati pada Ana,, karena Ana sudah banyak berbuat kebaikan pada dirinya selama ini, Nayla tidak ingin merepotkan Ana lagi.
"Tidak ini tidak berlebihan sama sekali, bahkan ini tidak ada apa-apanya,, kamu istri Devan dan juga sedang mengandung cucu ku, kalau kamu merasa tidak enak hati anggap saja ini pemberian seorang Oma untuk cucunya," ucap Ana lagi sambil tersenyum tulus.
Nayla lagi-lagi terharu akan kebaikan Ana, mengapa ada orang seperti ini yang selalu baik kepada dirinya bahkan sejak dulu.
"Nanti kalau cucu Oma sudah lahir,,, sering-sering yah main dengan kak Rani dan kak Raka, pasti mereka akan senang banget," ucap Ana sambil tersenyum bahagia memikirkan masa-masa itu.
Tangan Ana terus mengelus perut Nayla, betah berlama-lama mengelus perut Nayla tanpa ingin melepaskan.
"Mulai sekarang kamu harus bahagia,, jangan lagi stres, kasihan dia," ucap Ana.
"Iya Ma, tapi Nayla sebenarnya tidak tega pada Nyonya Jessica," ucap Nayla,, karena Nayla sangat yakin saat ini pasti Jessica masih sangat sakit hati, tapi mau di apa lagi ini di luar dugaan semuanya. Jika malam itu tidak terjadi Nayla tentu tidak akan menjadi pengganggu keharmonisan rumah tangga Devan dan Jessica.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu,, biar saja Devan yang memikirkan itu, kamu pokoknya fokus saja sama anakmu yah, kalau kamu memang benar-benar tidak ingin bertemu dengan Devan,, maka mama akan katakan pada Papa agar Devan tidak akan bisa menemui dirimu," ucap Ana,, saat ini kesehatan Nayla dan janinnya adalah hal yang sangat utama,, setiap bertemu dengan Devan hanya terjadi pertengkaran saja hingga membuat Nayla stres, mungkin dengan menjauh dari Devan adalah keputusan yang sangat tepat.
__ADS_1
"Ma, aku tidak ingin bertemu dengan dia,, aku tidak ingin melihat dia, biarlah aku bersama Reyna saja disini," ucap Nayla dengan penuh harap.
"Iya asal kamu bisa tenang maka Mama akan merahasiakan semuanya dari Devan," ucap Ana.