
Dering alarm ponsel Nayla berdering,, dengan segera Nayla mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu membuat bunyi alarm itu menjadi senyap.
Dengan rasa malas Nayla bangun dari tidurnya,, kemudian Nayla menatap ranjang yang sangat berantakan,, dan tidak ada Devan lagi di sampingnya.
Nayla tersenyum getir dengan air mata yang sudah keluar,, Nayla sadar dirinya hanyalah sebatas persinggahan untuk Devan. Setelah menangis beberapa menit dan menghirup udara sebanyak mungkin,, kini Nayla merasa perasaannya sudah sedikit membaik.
Nayla tidak ingin larut dalam kesedihan yang tiada akhir,, Nayla melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri,, membersihkan diri dari sisa-sisa percintaannya bersama Devan semalam hingga membuat Nayla merasa lebih segar.
Setelah memakai pakaian yang nyaman dan juga bersih,, Nayla segera melangkahkan kakinya keluar kamar,, hari ini adalah hari minggu yang berarti pekerjaan Nayla tidak terlalu padat. Karena dua bocah imut yang dijaganya sudah pasti akan bermalas-malasan dihari minggu seperti ini.
Begitu sampai di dapur Nayla melihat Bik Ina,,, seorang kepala pelayan di rumah keluarga Devan.
"Bik,, lagi ngapain?" tanya Nayla sambil berjalan mendekat kepada Bik Ina.
Bik Ina yang lagi meracik bumbu masakan segera melihat ke arah Nayla begitu mendengar suara Nayla.
"Ini,, aku lagi buat bumbu untuk nasi goreng,," jawab Bik Ina sambil tersenyum pada Nayla.
Nayla juga tersenyum sambil mengangguk,, kemudian Nayla mengambil segelas air putih lalu meneguknya.
Tidak lama,, Ana tiba-tiba muncul di dapur untuk mencari Nayla.
"Nayla kebetulan sekali kamu ada disini," ucap Ana dengan suara yang cukup tinggi.
Nayla langsung menatap Ana,, majikannya sekaligus mertua Nayla.
Mertua? batin Nayla,, Nayla tertawa terbahak-bahak menangisi betapa malang nasibnya.
"Iya Nyonya," jawab Nayla sambil melihat Ana.
Ana tersenyum lembut begitu melihat Nayla,, Ana memperhatikan penampilan Nayla dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Nayla sebenarnya merasa risih ditatap seperti itu,, namun Nayla berusaha terlihat biasa saja di depan Ana karena tidak ingin membuat Ana merasa tersinggung.
__ADS_1
"Nanti siang kamu ikut yah ke Bogor karena ada peresmian vila yang baru dibuat milik Andini,, tolong kamu bantu menjaga kedua cucu nakalku itu,, karena Andini sekarang sedang hamil anak ketiga," ucap Ana sambil tersenyum lembut pada Nayla.
Nayla mengangguk lemah karena sebenarnya saat ini Nayla sedang tidak baik-baik saja tetapi Nayla tidak mungkin menolak.
Dirinya juga saat ini sedang hamil,, sedang mengandung anak Devan,, tapi jika Ana tau ada kemungkinan besar saat ini Ana akan langsung menguburnya hidup-hidup.
"Nayla,, kamu dengarkan yang aku katakan tadi?" tanya Ana sambil melihat Nayla yang tampak sedang melamun.
"Iya Nyonya,, aku dengar," jawab Nayla cepat sambil menganggukkan kepalanya.
"Baguslah,, kamu lebih baik packing sekarang yah,, karena nanti siang kita akan berangkat,, oh iya sekaligus kita juga mengantar Jessica dan Devan untuk honeymoon,, mereka semenjak menikah tidak pernah pergi berdua,," ucap Ana sambil tersenyum bahagia,, Ana memang menaruh harapan banyak pada Jessica,, karena Devan adalah anak laki-laki satu-satunya yang dilahirkannya setelah Andini,, tentu Ana juga menginginkan cucu dari anak laki-lakinya.
"Semoga setelah mereka honeymoon nanti Jessica bisa segera hamil,, aku sangat menantikan cucu dari mereka,, kalau sampai itu menjadi kenyataan aku akan sangat bahagia,," ucap Ana yang lagi-lagi tersenyum bahagia.
Nayla terdiam dan menunduk tanpa ada yang bisa tebak apa yang dia rasakannya saat ini,, percayalah saat ini Nayla benar-benar merasa sedih. Tapi tidak masalah untuk Nayla,, karena sampai kapanpun Ana tidak akan pernah tau tentang kehamilannya,, tentang dirinya yang saat ini sedang mengandung cucunya,, dan juga nanti Nayla akan merahasiakan keluarga Ayah kandungnya kepada anaknya.
Jika Ana tau mengenai Nayla yang saat ini sedang mengandung cucunya,, Nayla sangat yakin ekspresi bahagia di wajah Ana sekarang akan berubah menjadi kemarahan besar,, tidak akan ada kebahagiaan pada ekspresi wajah Ana,, apalagi masuk ke dalam keluarga terhormat mereka,, itu benar-benar tidak mungkin.
Tanpa pengakuan,, tanpa cinta apalagi menjadi orang yang diinginkan Devan.
Itu semua sangat jauh bahkan sangat mustahil terjadi.
Nayla hanya menjadi tempat singgah Devan untuk melepaskan apa yang tertahan,, melayani Devan itupun jika Nayla dibutuhkan.
Meksipun begitu Nayla tetap bahagia,, karena Nayla mencintai Devan,, tidak perduli lagi dengan harga diri yang sudah hilang.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu Nyonya,, untuk packing," ucap Nayla.
"Tunggu Nayla," ucap Ana.
Nayla menghentikan langkahnya lalu melihat kepada Ana.
Ana menatap Nayla memperhatikan perubahan pada tubuh Nayla, pipi yang mulai berisi dan tubuh yang terlihat lebih menonjol saat ini.
__ADS_1
Nayla yang menyadari tatapan mata Ana langsung mengambil segelas air putih lalu meminumnya,, Nayla berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Kamu sekarang lebih gemukan yah?" ucap Ana sambil terus menatap Nayla.
Uhuk,, Uhuk,, Uhuk...
Nayla langsung terbatuk-batuk begitu mendengar pertanyaan dari Ana.
"Iya sedikit Nyonya," jawab Nayla yang merasa sedikit canggung dan juga gugup.
Bik Ina yang juga merasa tertarik pada pembahasan Ana dan Nayla,, langsung beralih juga menatap Nayla dan Ana secara bergantian.
"Bibik juga mau tanya tentang itu,, hanya belum sempat sering kelupaan,," ucap Bik Ina juga.
Ana langsung mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Bik Ina,, lalu segera menepuk bahu atas Nayla.
"Itu artinya kamu saat ini sedang bahagia Nayla,, kan orang bahagia identik dengan gemuk,, iyakan?" ucap Ana sambil menatap Nayla dan tersenyum pada Nayla.
Nayla berusaha tersenyum,, andai dan andai saja Ana tau penyebab dirinya gemuk saat ini karena sedang mengandung anak Devan. Nayla benar-benar tidak yakin apakah senyum itu masih bisa dilihatnya dibibir Ana,, itu sudah pasti tidak mungkin.
"Baiklah Nayla,, kamu bisa pergi packing sekarang yah," ucap Ana lagi lalu kakinya segera beranjak pergi untuk meninggalkan dapur. Namun belum jauh melangkah Ana tiba-tiba kembali mendekati Bik Ina.
"Bik,, bisa nggak buat ramuan atau jamu herbal gitu?" tanya Ana.
"Ramuan yang seperti apa Nyonya?" tanya Bik Ina sambil menghentikan pekerjaannya sejenak lalu segera melihat kepada majikannya.
"Itu loh,, yang bisa membuat Jessica cepat hamil,, aku sudah nggak sabar ingin mendapatkan cucu dari anak laki-laki ku juga," ucap Ana sambil terus tersenyum bahagia.
"Oh itu tentu bisa Nyonya,, itu sih gampang Nyonya," ucap Bik Ina juga yang tidak kalah antusiasnya dengan Ana.
Terlihat Ana dan Bik Ina saling melempar senyum bahagia mereka.
"Kalau bisa segera dibuat yah Bik,, aku ingin Jessica meminumnya sebelum kita berangkat nanti siang,," ucap Ana lagi.
__ADS_1